Loading
Kepala Sentra Efata Kementerian Sosial, Tota Oceanna Zonneveld menceritakan peroses pendirian Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo
DI TENGAH panasnya Pulau Timor dan keterbatasan akses pendidikan, hadir sosok perempuan yang menjadi titik terang bagi ratusan anak dari keluarga miskin. Namanya Tota Oceanna Zonneveld—seorang pemimpin yang tak hanya bekerja di balik meja, tetapi turun langsung ke lapangan membawa perubahan nyata.
Semangatnya mencerminkan perjuangan RA Kartini: membuka akses, memperluas harapan, dan mengangkat martabat manusia melalui pendidikan.
Sebagai Kepala Sentra Efata Kementerian Sosial, Tota menjadi motor utama berdirinya Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang—salah satu dari 100 sekolah rintisan nasional yang diluncurkan pada 2025. Sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, melainkan rumah kedua bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Berbasis asrama dan berdiri di lahan 12 hektare di Naibonat, Kabupaten Kupang, sekolah ini dirancang untuk menjawab satu persoalan mendasar: kemiskinan yang diwariskan karena terbatasnya akses pendidikan.
Berawal dari Nol, Dibangun dengan Ketekunan
Perjalanan membangun SRMP 19 tidak mudah. Semua dimulai dari nol. Dalam waktu kurang dari lima bulan, Tota bersama tim harus menyiapkan sistem pendidikan, tenaga pengajar, hingga fasilitas pendukung.
Ia terlibat langsung dalam setiap proses—mulai dari seleksi siswa hingga pembekalan guru dan wali asuh. Banyak tenaga pendidik yang masih baru, bahkan belum berpengalaman di sistem pendidikan berbasis asrama.
Namun di bawah kepemimpinannya, semua perlahan tertata. Sekolah kini berjalan stabil, menjadi tempat belajar yang layak dan penuh harapan.
Menyisir Desa, Menjemput Harapan
Dedikasi Tota benar-benar diuji saat ia harus turun langsung ke lapangan. Bersama tim, ia menyusuri 14 kecamatan di Pulau Timor untuk mencari anak-anak yang paling membutuhkan.
Dari sekitar 10.000 anak prasejahtera, hanya 100 yang dipilih melalui proses verifikasi ketat.
Perjalanan ini bukan sekadar administratif. Tota harus menghadapi medan sulit, jarak jauh, bahkan keraguan orang tua yang enggan melepas anak mereka.
Banyak orang tua menggantungkan hidup pada tenaga anak di ladang atau laut. Melepaskan mereka ke sekolah berarti kehilangan bantuan sehari-hari.
Namun dengan pendekatan yang hangat dan personal, Tota berhasil membangun kepercayaan. Ia meyakinkan bahwa anak-anak mereka akan mendapatkan pendidikan, makanan bergizi, dan perlindungan yang layak.
Dan akhirnya, 100 anak itu melangkah keluar dari keterbatasan menuju masa depan baru.
Lebih dari Sekadar Sekolah
Setibanya di asrama, tantangan belum selesai. Banyak siswa datang dalam kondisi kesehatan yang memprihatinkan—anemia dan berat badan di bawah standar.
Tota memahami bahwa pendidikan tidak bisa berjalan tanpa tubuh yang sehat. Ia pun memastikan klinik berjalan optimal dan dapur menyediakan makanan bergizi setiap hari.
Bahkan, ia aktif berkoordinasi lintas sektor untuk memastikan ketersediaan air bersih dan bahan pangan—dua hal yang tidak selalu mudah di wilayah dengan curah hujan rendah seperti Timor.
Membangun Lingkungan yang Mengasuh
Menariknya, sebagian besar wali asuh di sekolah ini adalah mantan mahasiswa Tota. Hubungan yang sudah terbangun sejak lama menciptakan kerja sama yang solid dan penuh dedikasi.
Para wali asuh tidak hanya menjadi pengawas, tetapi juga figur orang tua yang mendampingi anak-anak dengan kasih sayang dan disiplin.
Di sinilah pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Membuka Cakrawala Baru
Selama ini, banyak anak di Pulau Timor hanya berani bermimpi dalam lingkup yang sempit—menjadi tentara, polisi, atau tokoh agama.
Kini, melalui akses buku, laboratorium, komputer, dan lingkungan belajar yang terbuka, mereka mulai berani bermimpi lebih besar.
Menjadi dokter, arsitek, bahkan presiden—hal yang dulu terasa mustahil, kini perlahan terasa mungkin.
Perubahan Itu Nyata
Hasilnya mulai terlihat. Anak-anak yang dulu datang dengan ragu kini tampil lebih percaya diri.
Salah satunya adalah Yohanes Ardssen, siswa asal Amarasi Barat, yang berhasil tampil dalam paduan suara di Istana Merdeka saat perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-80.
Sebuah pencapaian yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga membuktikan bahwa kesempatan bisa mengubah segalanya.
Lebih dari Sekadar Program
Bagi Tota, semua ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah perjalanan panjang pengabdian—yang dimulai sejak masa krisis Timor Timur 1999 hingga kini membangun sistem pendidikan yang berkelanjutan dikutip Antara.
Ke depan, Sekolah Rakyat Kupang akan memiliki kampus permanen seluas 10 hektare, dengan kapasitas hingga 1.000 siswa setiap tahun dari keluarga paling rentan.
Langkah ini menegaskan satu hal penting: pendidikan adalah jalan paling nyata untuk memutus rantai kemiskinan.
Dan di Pulau Timor, semangat Kartini itu hidup kembali—melalui kerja sunyi seorang Tota Oceanna.