Selasa, 27 Januari 2026

Mahasiswa UB Bikin Gebrakan! Bawa Inovasi Pangan Ramah Alam ke Ajang Dunia di Belanda


 Mahasiswa UB Bikin Gebrakan! Bawa Inovasi Pangan Ramah Alam ke Ajang Dunia di Belanda Daffa Prastita Ahmad (tengah), mahasiswa Program Studi Agroteknologi angkatan 2022 Universitas Brawijaya (UB) mendapatkan apresiasi Top 6 terbaik dunia di ajang kompetisi pangan dunia di Wageningen, Belanda bersama peserta lainnya. ANTARA/HO-Universitas Brawijaya

MALANG, SCHOLAE.CO — Anak muda Indonesia lagi-lagi bikin bangga! Kali ini datang dari Universitas Brawijaya (UB). Tim mahasiswa lintas jurusan UB melangkah ke panggung dunia lewat proyek inovatif bertajuk “Memayu Ning Papat”, yang berhasil tembus Food Systems Innovation Challenge on Nature-Based Solutions di Wageningen, Belanda.

Dipimpin oleh Daffa Prastita Ahmad, tim ini jadi wakil Indonesia yang bersaing dengan 24 tim dari 12 negara. Mereka adu ide untuk menciptakan solusi pangan berbasis alam alias nature-based food innovation yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Dari Filosofi Jawa ke Sistem Pangan Modern

“Konsep kami berangkat dari complex rice system atau sistem mina padi, tapi kami upgrade dengan tambahan serai dan azolla,” jelas Daffa.

Menurutnya, kombinasi ini bisa kasih hasil panen dua kali lipat tanpa bahan kimia sama sekali. “Semuanya organik dan efisien banget,” tambahnya.
Proyek Memayu Ning Papat: Multiple-Yield Agroecosystem ini terinspirasi dari filosofi Jawa tentang empat unsur kehidupan — bumi, air, udara, dan manusia.

Mereka menerapkannya dalam model pertanian berkelanjutan yang memadukan padi, ikan, azolla (pakis air pengikat nitrogen), dan serai. Semua hidup harmonis dalam satu lahan di Desa Jenggolo, Kabupaten Malang.

Panen Ganda, Alam Lestari, Petani Sejahtera

Hasilnya? Gak cuma panen beras dan ikan. Sistem ini juga bantu petani ngurangin biaya produksi, menjaga keseimbangan ekologi, dan bahkan bisa mengendalikan hama secara alami.

Lewat kerja sama dengan PT Ladang Mukti, tim UB ini juga berupaya agar model pertanian ramah alam ini bisa direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.

“Awalnya kami seleksi dari tingkat prodi, lalu fakultas, sampai universitas. Setelah itu lanjut ke nasional dan akhirnya lolos ke ajang internasional,” cerita Daffa dengan bangga.

Masuk Top 6 Dunia, Siap ke Level Selanjutnya!

Kompetisi di Wageningen berlangsung selama seminggu penuh, dari 25 September hingga awal Oktober 2025. Para peserta diminta menampilkan solusi pangan yang tangguh, inklusif, dan eco-friendly.

Kabar baiknya, proyek “Memayu Ning Papat” sukses masuk Top 6 terbaik dunia!

Next step, mereka bakal lanjut ke tahap inkubasi selama enam bulan, dari Februari sampai Oktober 2026, untuk dapat mentoring intensif dan kesempatan tampil di World Food Forum di Roma.

Harapan Daffa untuk Masa Depan Pertanian Indonesia

Daffa berharap dukungan dari kampus dan fakultas makin kuat agar proyek ini bisa dikembangkan lebih luas lagi.

“Harapan kami, UB terus support kegiatan seperti ini karena proyek kami gak berhenti di kompetisi aja. Kami pengin bantu bangun sistem pertanian masa depan yang tangguh, ramah lingkungan, dan berpihak pada petani kecil,” ujarnya dikutip Antara.

Fakta Keren Tentang “Memayu Ning Papat”

  • Filosofi: Empat unsur kehidupan (bumi, air, udara, manusia)
  • Sistem: Rice–fish–azolla–lemongrass (tanpa bahan kimia)
  • Uji coba: 1 tahun di Kepanjen, Malang
  • Prestasi: Top 6 Dunia di Wageningen, Belanda
  • Next goal: Inkubasi & tampil di World Food Forum Roma
Editor : Farida Denura

Berita Scholae Terbaru