Loading
Dokter lulusan Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya yang mendapat beasiswa dari Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) dr. Aprilda Yulifa Thalia Thomas Karupukaro, dalam acara pengambilan sumpah dokter yang bertemakan In Corde Lux, In Manibus Cura di Jakarta, Selasa (4/11/2025). ANTARA/Mecca Yumna.
JAKARTA, SCHOLAE.CO – Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya kembali mencetak lulusan terbaiknya. Sebanyak 23 dokter baru resmi dikukuhkan, membawa semangat untuk menghadapi tantangan dunia kesehatan di era kecerdasan buatan (AI) dengan hati yang tulus, empati, dan nilai etika yang kuat.
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unika Atma Jaya, dr. Felicia Kurniawan, menegaskan bahwa di tengah kemajuan teknologi dan digitalisasi, dokter tetap memiliki keunggulan yang tak tergantikan oleh mesin.
“AI bisa mendiagnosis dengan cepat dan akurat, tetapi tidak bisa menyentuh hati manusia. Itulah yang membedakan kalian,” ujar Felicia saat acara pengambilan sumpah dokter bertema In Corde Lux, In Manibus Cura—hati yang bersinar, tangan yang menyembuhkan dengan kepedulian—di Jakarta, Selasa (4/11/2025).
Felicia menambahkan, dunia medis kini dihadapkan pada berbagai tantangan: mulai dari munculnya penyakit-penyakit baru, perkembangan sistem pelayanan kesehatan, hingga pemanfaatan AI dalam pengambilan keputusan klinis.
Namun, menurutnya, relevansi seorang dokter tidak ditentukan dari kemampuan menyaingi mesin, melainkan kemampuan berkolaborasi dengan teknologi secara bijak, tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.
“Kalian harus terus belajar, terbuka pada inovasi, dan tetap rendah hati. Tapi yang paling penting, jagalah hati yang tulus untuk melayani,” pesannya.
Inspirasi dari Tanah Papua
Dari 23 dokter yang dikukuhkan, salah satunya adalah dr. Aprilda Yulifa Thalia Thomas Karupukaro, penerima beasiswa penuh dari Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) serta Freeport Indonesia.
Thalia mengaku terinspirasi menjadi dokter karena pengalaman pribadinya yang tumbuh di Timika, Papua, di mana akses layanan kesehatan masih terbatas.
“Saya ingin membantu masyarakat di tanah kelahiran saya. Karena saya tahu sendiri sulitnya mendapatkan layanan kesehatan di sana,” tuturnya.
Kini, ia bercita-cita melanjutkan studi menjadi spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT), serta berharap bisa menginspirasi generasi muda Papua lainnya.
“Untuk teman-teman Papua, jangan takut bermimpi besar. Walau jalannya panjang, semua bisa dicapai dengan tekad dan semangat,” ujar Thalia penuh semangat dikutip Antara.
Semangat Kemanusiaan di Era AI
Acara pengukuhan dokter ini menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi dan dominasi AI, profesi dokter tetap membutuhkan sentuhan manusia—empati, etika, dan dedikasi untuk melayani sesama.
Dengan semangat In Corde Lux, In Manibus Cura, para dokter lulusan Unika Atma Jaya diharapkan siap berkontribusi dalam membangun dunia kesehatan yang berintegritas, berkeadilan, dan berkemanusiaan.