Loading
Ilustrasi : Universitas Brawijaya di Kota Malang, Jawa Timur. ANTARA/HO-Humas Universitas Brawijaya
MALANG, SCHOLAE.CO - Di balik keberhasilan Kota Malang meraih predikat Kota Kreatif UNESCO bidang Media Arts, ternyata ada peran besar dari Universitas Brawijaya (UB). Kampus biru kebanggaan warga Malang ini menjadi salah satu penggerak utama dalam proses panjang menuju pengakuan internasional itu.
Dosen Bahasa dan Budaya Tiongkok Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UB, Yang Nadia Miranti, M.Pd, menjelaskan bahwa UB punya kontribusi penting lewat kerja sama diplomasi akademik dengan Peking University, Tiongkok. Kolaborasi tersebut turut melibatkan Prof. Dr. Xiang (Hardy) Yong, Dekan Institute for Cultural Industries sekaligus UNESCO Chairholder on Creativity and Sustainable Development in Rural Areas.
“UB berperan aktif sejak awal, termasuk mendampingi Prof. Hardy saat meninjau potensi industri budaya di Kota Malang pada Februari 2025,” ujar Nadia di Malang, Rabu (5/11/2025).
Dalam kunjungan tersebut, delegasi dari UB, Pemerintah Kota Malang, dan Peking University mendatangi sejumlah lokasi seperti Malang Creative Center (MCC), Kampung Heritage Kayutangan, dan Kampung Budaya Polowijen. Dari hasil kunjungan itu lahirlah sebuah surat rekomendasi resmi yang menjadi dokumen penting dalam pengajuan Malang ke UNESCO.
Surat tersebut menegaskan bahwa Malang memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan ekosistem media arts, mulai dari komunitas kreatif, ruang kolaborasi, hingga inovasi budaya digital.
Tak berhenti di situ, rekomendasi akademis dari Prof. Hardy menjadi validasi penting bagi Komite Evaluasi UNESCO dan membuka peluang kolaborasi dengan kota-kota kreatif dunia seperti Changsha (Tiongkok) dan Gwangju (Korea Selatan).
“Malang adalah cerminan semangat jaringan kota kreatif UNESCO. Di sini, seni media bukan hanya hiburan, tapi juga jadi katalis untuk ketahanan budaya, ekonomi, dan kohesi sosial,” jelas Nadia.
Ke depan, UB bersama Prof. Hardy akan membentuk Media Arts Innovation Council dan mengembangkan Media Arts Impact Index — alat ukur kontribusi kota-kota kreatif terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Nadia juga mengungkapkan bahwa kerja sama UB dengan Peking University akan berlanjut dalam bentuk Workstation UNESCO Chairholder dan program student mobility 2026.
“Kami juga sedang mempersiapkan kerja sama sister city antara Malang dan Changsha, serta sister village antara desa di Kabupaten Malang dan desa di Tiongkok,” tambahnya dikutip Antara.
Dengan semangat kolaboratif ini, UB bukan hanya mencetak prestasi akademik, tapi juga ikut menguatkan identitas Malang sebagai kota yang kreatif, adaptif, dan mendunia.