Loading
Ilustrasi: Kuliah di Luar Negeri. (via: dcu.ie/Liputan6.com)
WASHINGTON, SCHOLAE.CO — Gelombang penurunan mahasiswa internasional baru mulai terasa di berbagai perguruan tinggi Amerika Serikat (AS). Laporan terbaru menunjukkan bahwa hambatan visa dan kebijakan imigrasi yang makin ketat membuat banyak calon mahasiswa asing mengurungkan niat menempuh studi di negeri tersebut.
Institute of International Education (IIE) mencatat penurunan 17 persen mahasiswa internasional baru pada semester musim gugur 2025. Angka ini menjadi yang terbesar di luar masa pandemi selama lebih dari satu dekade. Penurunan tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa AS mulai kehilangan daya tariknya di mata pelajar global.
Proses Visa Jadi Penghambat Terbesar
Survei IIE menunjukkan bahwa 96 persen kampus menilai pengajuan visa sebagai masalah utama. Proses yang biasanya berlangsung dalam hitungan minggu kini berubah menjadi berbulan-bulan, bahkan disertai tingkat penolakan yang meningkat. Banyak pelajar harus berulang kali menjadwalkan wawancara atau menerima keputusan yang tidak transparan.
Selain itu, 68 persen institusi pendidikan menyebut pembatasan perjalanan sebagai alasan lain menurunnya keberangkatan mahasiswa asing. Situasi ini diperparah oleh retorika anti-imigran yang berkembang dalam beberapa kebijakan serta pernyataan sejumlah pejabat publik.
Calon Mahasiswa Mulai Merasa Tak Disambut
Faktor non-administratif ternyata ikut mendorong penurunan ini. Survei menunjukkan bahwa 67 persen calon mahasiswa internasional mengaku khawatir tidak diterima di AS, baik karena isu diskriminasi maupun suasana sosial-politik yang mereka anggap tidak kondusif.
Sebanyak 64 persen kampus juga mencatat kecemasan pelajar terhadap situasi politik AS sebagai pertimbangan besar dalam menentukan tujuan studi.
CEO Association of International Educators, Fanta Aw, mengatakan bahwa AS semakin kehilangan daya saing dalam menarik mahasiswa global. “Banyak mahasiswa sebenarnya ingin datang, tetapi proses visa membuat mereka menyerah sebelum memulai,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip berbagai media pendidikan.
Kerugian Ekonomi Mengintai
Penurunan mahasiswa internasional bukan sekadar isu pendidikan, tetapi juga berdampak langsung ke ekonomi. Kelompok pendidik internasional memperkirakan kerugian hingga 1,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp18,4 triliun tahun ini akibat menurunnya jumlah mahasiswa yang datang.
Mahasiswa internasional selama ini dikenal sebagai penyumbang besar bagi sektor pendidikan dan tenaga kerja. Pada tahun akademik 2024–2025, kontribusi mereka mencapai hampir 43 miliar dolar AS, serta mendukung lebih dari 355.000 lapangan kerja di ekonomi AS.
Dengan turunnya jumlah pelajar asing, banyak universitas yang mengandalkan biaya kuliah lebih tinggi dari mahasiswa internasional diprediksi akan menaikkan biaya kuliah reguler untuk menutup kekurangan.
Ancaman Kekurangan Tenaga Profesional
Selain berdampak ekonomi, tren ini memicu kekhawatiran terhadap masa depan tenaga kerja terampil di AS. Banyak mahasiswa internasional yang setelah lulus mengisi sektor kesehatan, penelitian, dan profesi penting lainnya—terutama di daerah yang kekurangan tenaga lokal.
Jika kebijakan imigrasi terus diperketat, AS berisiko menghadapi kekurangan tenaga profesional dalam beberapa tahun mendatang, terutama di bidang kesehatan, teknologi, dan pendidikan.
Penurunan pendaftar ini menempatkan dunia pendidikan tinggi AS pada titik kritis: apakah mereka mampu kembali menarik mahasiswa dari seluruh dunia, atau harus siap menghadapi perubahan besar dalam ekosistem pendidikan dan ekonomi mereka.