Selasa, 27 Januari 2026

UI–BRIN–IAEA Dorong Penguatan Standar Fisika Medis di Asia dan Timur Tengah


 UI–BRIN–IAEA Dorong Penguatan Standar Fisika Medis di Asia dan Timur Tengah UI-BRIN-IAEA ketika membahas penguatan standar fisika medis. ANTARA/HO-Humas UI.

DEPOK, SCHOLAE.CO — Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan International Atomic Energy Agency (IAEA) kembali mengambil langkah penting dalam peningkatan standar fisika medis di Indonesia.

Melalui penyelenggaraan International Workshop on Certification of Medical Physicists, ketiga institusi ini mendorong penguatan sertifikasi kompetensi di tengah pesatnya perkembangan layanan kesehatan berbasis radiasi.

Dekan FMIPA UI, Prof. Dede Djuhana, menekankan bahwa lonjakan penggunaan teknologi radiologi diagnostik, kedokteran nuklir, hingga radioterapi menuntut kehadiran fisikawan medik yang benar-benar kompeten. Menurutnya, kebutuhan tenaga profesional yang tersertifikasi meningkat signifikan, sementara jumlah fisikawan medik bersertifikat masih tertinggal dari pertumbuhan fasilitas.

“Teknologi kesehatan berkembang cepat. Kita membutuhkan fisikawan medik yang terlatih dan tersertifikasi agar keselamatan pasien tetap terjamin. Workshop ini menjadi momentum penting bagi Indonesia dan kawasan untuk menyelaraskan standar dengan praktik internasional,” ujar Prof. Dede.

Kondisi kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan SDM membuat Pemerintah mendorong penerapan standar keselamatan radiasi yang lebih ketat. Skema sertifikasi pun menjadi prioritas agar mutu layanan tetap terjaga.

Dalam forum internasional tersebut, FMIPA UI tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga mempertegas komitmennya dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan berbasis radiasi di Indonesia. Salah satu agenda penting adalah penyerahan sertifikat kompetensi kepada 18 lulusan residensi fisikawan medik, khususnya di bidang radiologi diagnostik dan radioterapi, yang kini bertugas di sejumlah rumah sakit nasional.

Local Director kegiatan, Prof. Supriyanto Ardjo Pawiro, menyebut bahwa kolaborasi dengan IAEA membuka akses luas bagi Indonesia untuk mengadopsi praktik terbaik (best practices) dari negara lain. Selain belajar, Indonesia juga berkesempatan memberikan kontribusi dalam penyusunan rekomendasi regional terkait kompetensi profesional fisika medis.

“Pertemuan ini menjadi ruang dialog yang penting untuk menyamakan persepsi mengenai standar kompetensi fisikawan medik. Indonesia bisa belajar sekaligus berbagi pengalaman dalam forum internasional,” kata Prof. Supriyanto dikutip Antara.

Melalui workshop ini, UI, BRIN, dan IAEA berharap penguatan kapasitas fisika medis dapat berjalan lebih cepat, sehingga kualitas layanan kesehatan nasional semakin meningkat dan keselamatan radiasi bagi masyarakat tetap terjaga.

Editor : Farida Denura

Berita Scholae Terbaru