Selasa, 27 Januari 2026

NUS, UI, UGM, dan ITB Bahas Masa Depan Pendidikan Tinggi di Era AI


 NUS, UI, UGM, dan ITB Bahas Masa Depan Pendidikan Tinggi di Era AI Selama sesi pembukaan panel NUS Innovation Forum Jakarta, para panelis dari Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, serta National University of Singapore membahas peluang dan tantangan yang dihadirkan AI bagi universitas. (Foto: National University of Singapore)

JAKARTA, SCHOLAE.CO — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang kian cepat mendorong kampus-kampus dunia untuk menata ulang strategi pembelajaran, riset, dan inovasi. Tema besar itu menjadi sorotan utama dalam NUS Innovation Forum (NIF) 2025 edisi Jakarta, forum yang mempertemukan para pemimpin perguruan tinggi dan pelaku industri untuk membahas relevansi pendidikan tinggi di tengah gelombang teknologi baru.

Untuk pertama kalinya digelar di Indonesia, NIF Jakarta menjadi bagian dari rangkaian forum internasional yang diinisiasi National University of Singapore (NUS) sejak 2024. Acara ini diselenggarakan oleh NUS Office of Alumni Relations dan dihadiri ratusan alumni, akademisi, hingga inovator teknologi dengan tema “Navigating the Age of AI”.

AI dan Relevansi Pendidikan Tinggi

Presiden NUS, Profesor Tan Eng Chye, menegaskan bahwa AI telah mengubah cara pengetahuan diciptakan dan dipelajari. Ia menilai bahwa universitas harus menjawab tantangan baru mengenai bentuk, nilai, dan tujuan pendidikan tinggi.

Tan mencontohkan lompatan inovasi DeepMind dalam pemodelan protein yang mampu memprediksi lebih dari 200 juta struktur protein hanya dengan satu proses. “Jika dilakukan manual, butuh lebih dari satu miliar tahun kerja lulusan PhD,” ujarnya. Contoh ini, menurut Tan, menunjukkan percepatan luar biasa yang dihasilkan AI—dan alasan mengapa kampus perlu beradaptasi cepat.

Ia mengungkapkan bahwa NUS telah merekrut 134 anggota fakultas baru dalam dua tahun terakhir, termasuk 27 pakar AI dan puluhan peneliti yang mengintegrasikan AI dalam riset lintas disiplin. Namun ia juga mengingatkan risiko penggunaan AI secara tidak bijak di kalangan mahasiswa: mulai dari cognitive offloading hingga mis-skilling, yang dapat mengikis kemampuan berpikir kritis. “Belajar harus tetap menantang. AI tidak bisa menggantikan proses berpikir,” tegasnya.

Pandangan Kampus Indonesia: AI Bukan Sekadar Teknologi

Dalam sesi panel “Peran Universitas dalam AI, Inovasi, dan Pertumbuhan Ekonomi”, perwakilan tiga universitas besar Indonesia—UI, UGM, dan ITB—sepakat bahwa AI adalah perubahan paradigmatis, bukan sekadar perangkat.

Profesor Lavi Rizki Zuhal (ITB) menyebut kurikulum harus dirancang ulang agar mahasiswa siap bekerja berdampingan dengan sistem cerdas. Menurutnya, masih ada dosen yang menolak AI, tetapi hal itu tidak mengubah fakta bahwa mahasiswa sudah memakai teknologi tersebut dalam keseharian.

Dr. Danang Sri Hadmoko (UGM) menekankan pentingnya riset lintas disiplin, terutama pada irisan teknologi dan perilaku manusia. UGM menggabungkan ilmuwan komputer dengan psikolog, dokter, hingga ahli farmasi untuk memastikan pengembangan AI tetap relevan secara sosial. Ia juga menyoroti mahalnya biaya komputasi cloud untuk riset AI sehingga kolaborasi multi-pihak menjadi keharusan.

Profesor Hamdi Muluk (UI) menyoroti aspek psikologis dan etika. Ia mengingatkan risiko ketika anak muda menjadikan AI sebagai ruang pelarian emosional, yang dapat berujung salah arah jika model memberikan respons keliru. Menurutnya, kampus harus memperkuat ketahanan psikologis mahasiswa melalui komunitas dan program kesehatan mental. “Kebijaksanaan bukan sesuatu yang bisa diberikan AI,” katanya.

Inovasi dan Dunia Startup di Era AI

Panel kedua menghadirkan perspektif dari para pendiri startup, termasuk Adi Reza Nugroho (MYCL), David Setiawan Suwarto, Pang Xue Kai (ForU AI), dan difasilitasi oleh Danial Talib (PIER71™). Mereka berbagi pengalaman membangun perusahaan yang adaptif terhadap perubahan teknologi, sekaligus menekankan bahwa AI seharusnya mempercepat kreativitas, bukan menggantikan manusia.

NUS Enterprise turut mengumumkan perkembangan jaringan BLOCK71 yang kini hadir di 11 kota, termasuk Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta—mendorong kolaborasi antara founder, mentor, investor, dan pasar internasional.

Membentuk Masa Depan Pendidikan Tinggi

NUS Innovation Forum Jakarta kembali menegaskan bahwa Indonesia dan Asia Tenggara bukan hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga bagian dari pembentuk ekosistem inovasi global. Forum ini melanjutkan rangkaian diskusi internasional yang telah berlangsung di Manila, San Francisco, Suzhou, Beijing, Shanghai, dan Tokyo, dengan fokus bagaimana inovasi dapat mendorong kemajuan ekonomi dan sosial lintas kawasan.

Editor : Farida Denura

Berita Scholae Terbaru