Loading
Suasana kelas Justice di Harvard University, yang diajarkan Michael Sandel. (Future Predictions/Okezone)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Amerika Serikat selama ini menjadi magnet utama bagi pelajar mancanegara untuk menimba ilmu. Namun, sebuah laporan terbaru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Melansir data dari The Asahi Shimbun, jumlah mahasiswa asal Jepang yang memasuki Amerika Serikat dengan visa pelajar mengalami penurunan signifikan hingga 3.000 orang sepanjang tahun 2025.
Apa yang sebenarnya terjadi di balik angka tersebut?
Tembok Tinggi di Balik Kebijakan Visa
Penurunan ini bukan tanpa alasan. Analisis data dari Departemen Perdagangan AS menunjukkan adanya korelasi kuat antara kebijakan ketat pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap mahasiswa internasional dengan sulitnya penerbitan visa. Hingga November 2025, total kedatangan pelajar Jepang hanya menyentuh angka 26.635—menyusut hampir 3.000 jiwa dibanding tahun sebelumnya.
Tekanan mulai terasa sejak musim semi 2025, saat pemerintah mulai memperketat proses penyaringan di berbagai universitas bergengsi, termasuk Harvard. Bahkan, data Departemen Luar Negeri AS sempat mencatat penurunan penerbitan visa hingga 40 persen pada Mei 2025.
Kisah Penundaan yang Memilukan
Di balik statistik tersebut, ada ribuan mimpi yang harus tertunda. Salah satunya adalah seorang gadis berusia 19 tahun yang telah mengantongi beasiswa di universitas impiannya di Pantai Timur AS. Akibat penangguhan wawancara visa secara mendadak, ia terpaksa menunda studinya selama setahun.
"Saya benar-benar terkejut dan bingung menghadapi situasi ini," kenangnya. Ketakutan juga merambah ke ranah pribadi, di mana akun media sosial kini diperiksa secara ketat. Ia bahkan menghapus jejak digital aktivitas lingkungannya karena khawatir akan pandangan politik pemerintah yang berseberangan.
Tetap Tenang di Tengah Ketidakpastian
Meski situasi sedang memanas, Amerika Serikat secara historis tetap menjadi destinasi studi nomor satu bagi warga Jepang. Midori Matsunaga dari Agos Japan Inc. mengonfirmasi bahwa meski banyak orang tua merasa cemas, minat mahasiswa untuk masuk ke kampus-kampus elit belum benar-benar pudar.
"Belajar di luar negeri memang selalu penuh ketidakpastian. Kuncinya adalah tetap tenang dan mempersiapkan segala kemungkinan lebih awal," saran Matsunaga bagi para calon mahasiswa sebagaimana dikutip dari The Asahi Shimbun.
Bagaimana pendapatmu tentang kebijakan ini?