Studi Universitas Manchester: AI Ubah Dunia Kerja, Kampus Harus Ubah Cara Mendidik Mahasiswa


Studi Universitas Manchester: AI Ubah Dunia Kerja, Kampus Harus Ubah Cara Mendidik Mahasiswa Kalangan universitas secara fundamental harus memikirkan kembali cara mereka mendidik mahasiswa di dunia di mana kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sedang mengubah dunia kerja, ungkap sebuah studi baru yang dirilis pada Jumat (3/7) oleh Universitas Manchester. ANTARA/Xinhua.

LONDON, SCHOLAE.CO – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin mengubah cara manusia belajar, bekerja, hingga mengambil keputusan. Kondisi ini membuat perguruan tinggi dituntut untuk beradaptasi dan merancang kembali sistem pendidikan agar lulusannya tetap relevan di masa depan.

Hal tersebut terungkap dalam studi terbaru yang dirilis Universitas Manchester pada Jumat (3/7/2026). Penelitian yang ditulis oleh Kelechi Ekuma dari Institute for Development Policy and Management itu menilai bahwa banyak universitas masih menggunakan pola pengajaran dan sistem penilaian yang dirancang untuk era sebelum AI berkembang pesat.

Akibatnya, muncul kesenjangan antara kemampuan lulusan dengan kebutuhan dunia kerja yang kini semakin terdigitalisasi.

Menurut studi tersebut, pendidikan tinggi tidak cukup hanya memasukkan AI ke dalam proses belajar mengajar. Universitas perlu memikirkan kembali tujuan pendidikan secara menyeluruh agar mahasiswa siap bekerja berdampingan dengan teknologi AI, bukan justru bersaing dengannya.

Dalam era AI, kemampuan yang paling dibutuhkan bukan sekadar penguasaan teknologi, melainkan keterampilan berpikir kritis, komunikasi yang efektif, penilaian etis, kemampuan memahami persoalan kompleks, serta literasi mengenai cara kerja AI.

"AI sedang mengubah cara pengetahuan diciptakan, cara pengambilan keputusan, dan cara banyak pekerjaan dilakukan. Universitas perlu mempertimbangkan secara cermat bagaimana mereka mempersiapkan mahasiswa menghadapi masa depan tersebut," ujar Kelechi Ekuma dikutip Antara.

Penelitian itu juga mendorong perubahan besar dalam sistem evaluasi pembelajaran. Model ujian dan tugas konvensional dinilai sudah tidak lagi cukup untuk mengukur kompetensi mahasiswa di era AI.

Sebagai gantinya, universitas didorong menerapkan bentuk penilaian yang lebih autentik, seperti penyelesaian studi kasus, proyek berbasis masalah nyata, hingga evaluasi kemampuan mengambil keputusan dan menerapkan ilmu dalam situasi yang kompleks.

Ekuma menegaskan bahwa AI seharusnya dipandang sebagai mitra dalam proses pembelajaran, bukan ancaman. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa dapat mengembangkan literasi AI sekaligus memperkuat kompetensi sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa transformasi pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi, tetapi juga bagaimana kampus membentuk lulusan yang adaptif, kreatif, beretika, dan siap menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dipengaruhi kecerdasan buatan.

Editor : Farida Denura

Berita Scholae Terbaru