- Selasa, 14 Juli 2026 | 10:30 WIB
Loading

Penerima beasiswa Endress+Hauser Indonesia pada kegiatan Education Forum 2026. (Foto: Istimewa)
JAKARTA, SCHOLAE.CO – Kebutuhan akan sumber daya manusia yang siap menghadapi perubahan industri terus meningkat, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Menjawab tantangan tersebut, Endress+Hauser Indonesia menggelar Education Forum 2026 sebagai wadah kolaborasi antara dunia industri dan institusi pendidikan dalam memperkuat pendidikan vokasi di Indonesia.
Forum ini menjadi ruang dialog yang mempertemukan pelaku industri, akademisi, mahasiswa, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas strategi pengembangan talenta yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja masa depan.
Managing Director Endress+Hauser Indonesia, Henry Chia, menegaskan bahwa keberhasilan teknologi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihannya, tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam memanfaatkannya secara optimal.
Menurutnya, investasi pada pengembangan talenta menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan industri. Ia mengungkapkan bahwa dalam lima tahun terakhir bisnis Endress+Hauser di Indonesia mengalami pertumbuhan hingga 40 persen. Pertumbuhan tersebut juga diikuti peningkatan peluang kerja sebesar 4 persen dan kenaikan jumlah peserta program magang hingga 10 persen.
“Teknologi akan memberikan dampak nyata ketika didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten dan siap menghadapi perubahan,” ujarnya.
Komitmen pengembangan talenta juga menjadi perhatian Endress+Hauser di tingkat global. Head of Global Dual Education Endress+Hauser Group Services, Jens Kroeger, menyoroti pentingnya peran industri dalam mendukung pendidikan melalui kemitraan yang berkelanjutan dengan institusi pendidikan.
Menurut Jens, dunia usaha dapat berkontribusi melalui penyediaan program magang yang terstruktur, platform berbagi pengetahuan, sistem pembelajaran digital, hingga pengalaman praktik langsung yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Endress+Hauser Indonesia kembali memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi dari sejumlah perguruan tinggi yang memiliki keterkaitan dengan sektor otomasi dan manufaktur. Penerima beasiswa berasal dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Politeknik Industri ATMI, Politeknik Manufaktur Bandung (POLMAN), serta Swiss German University.
HR Head Endress+Hauser Indonesia, Vivi Sutardi, menjelaskan bahwa program beasiswa tersebut telah memasuki tahun kedua pelaksanaannya dan diharapkan dapat menjadi agenda berkelanjutan.
“Kami berharap program ini dapat terus dilaksanakan secara rutin sehingga semakin banyak mahasiswa yang mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi dan kompetensinya,” kata Vivi.
Tidak hanya melibatkan kalangan akademik, perusahaan juga mengajak para pelanggan untuk melihat langsung berbagai program pengembangan talenta yang telah dijalankan. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat kepercayaan industri terhadap kualitas lulusan yang dihasilkan dari berbagai program pendidikan dan pelatihan yang didukung perusahaan.
“Bagi kami, sebuah kebanggaan ketika para pelanggan mempercayai lulusan program ini untuk bergabung dan berkembang di perusahaan mereka,” tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, Education Forum 2026 menghadirkan dua sesi diskusi utama. Sesi pertama mengangkat tema “Dual Vocational as a Strategic Anchor in Times of Uncertainty” yang membahas pentingnya pendidikan vokasi ganda sebagai strategi menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Sementara itu, sesi kedua bertajuk “AI and the Future of Work: Rethinking Vocational Talent Development” mengulas dampak kecerdasan buatan terhadap dunia kerja serta perlunya transformasi pendidikan vokasi agar tetap relevan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Melalui forum ini, Endress+Hauser Indonesia berharap sinergi antara dunia pendidikan dan industri dapat semakin kuat. Selain membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, forum tersebut juga diharapkan membantu generasi muda menemukan jalur karier yang sesuai dengan kompetensi yang mereka miliki sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di era industri berbasis teknologi.