JAKARTA-Universitas Kristen Indonesia (UKI) bekerjasama dengan Pelayanan Komunikasi Masyarakat Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (YAKOMA PGI), Selasa (3/4) menggelar Pentas Keliling Opera Batak "Mencari si Jonaha" dalam versi Simalungun, Samosir, Karo, dan Batak.
Pentas dengan menampilkan maestro Zulkaidah Harahap dan Alister Nainggolan tersebut akan digelar di auditorium Graha William Soeyadjaya, Cawang, Jakarta Timur, pukul 14.00 wib hingga selesai dan terbuka untuk umum.
Opera tersebut menceritakan bahwa Inang sudah lama bertanya-tanya ke mana arah kepergian Si Jonaha. Setiap malam Inang hanya dapat melantunkan doding Simalungunnya untuk melupakan rindu kepada anak angkatnya itu. Namun, terkadang Inang rindu juga mendengarkan kecapi Si Jonaha dan berharap kembali dengan suara kecapi itu untuk kebersihan sawah dan ladangnya. Dia mencoba menceritakan diri Si Jonaha ketika malam sudah mulai larut sambil meneruskan pekerjaannya membentuk keranjang bambu.
Sewaktu pagi dua orang datang ke rumah Inang membawa kabar tentang Si Jonaha. Inang dengan pakaian setengah dada terburu menyambut keduanya. Sambil menghempangkan tikar Inang terus bertanya-tanya atas kedatangan kedua orang itu. Satu berasal dari Siantar dan satu lagi berasal dari Medan. Rupanya mereka berdua mendengar kabar kematian Si Jonaha dengan berbagai versi.
Kabar kematian Si Jonaha membuat Inang bertambah sedih. Meskipun terkadang tidak yakin kalau Si Jonaha sudah mati. Keduanya diminta untuk mencari Si Jonaha. Inang memberikan ciri-ciri Si Jonaha kalau mungkin masih hidup. Tapi kalau benar-benar sudah mati tempatnya dikubur harus ditemukan
Dalam pencarian kedua orang itu banyak cerita ditemukan tentang Si Jonaha. Keduanya mencoba menyisir kemungkinan ke wilayah Simalungun dan perbatasan. Setelah mendengar cerita berkembang, mereka mengejar ke Samosir. Di sana mereka terkecoh saat mendengar kabar Si Jonaha berada di Sidikalang dan Kabanjahe.
Beberapa orang yang mereka temui memiliki ciri dan perilaku mirip Si Jonaha. Lalu keduanya tanpa sadar berperilaku seperti Si Jonaha sebelum menemukan yang asli, seorang penipu.
Sejak tahun 1920-an Opera Batak kreasi Tilhang Oberlin Gultom mewarnai kehidupan masyarakat Sumatera Utara selama 60 tahun. Seni pertunjukan yang memadukan unsur cerita, akting, musik, tari, dan lagu ini hadir melalui pementasan keliling. Bahkan sampai ke Sumatera Barat, Riau, dan Jakarta. Kemajuan teknologi komunikasi dan dunia hiburan di akhir tahun 1980 kemudian menghentikan kelompok-kelompok Opera Batak.
Tahun 2002 Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) memasukkan Opera Batak ke dalam program mereka sebagai salah satu kesenian tradisional yang perlu direvitalisasi. Program revitalisasi ini berhasil membentuk satu grup Opera Batak di Tarutung, Tapanuli Utara, yang bernama Grup Opera Silindung (GOS) dan telah melakukan pentas keliling di Balige, Medan, dan Jakarta.
Namun, GOS tidak berumur panjang. Tahun 2005 seniman yang ikut terlibat dalam program revitalisasi Opera Batak ATL menggagas pembentukan Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) di Pematangsiantar. Sejak berdiri PLOt aktif dalam program pelatihan serta menyediakan fasilitas latihan, manajemen organisasi seni, dan mendorong program penggalian budaya.
Di samping itu PLOt juga melakukan kerjasama produksi dengan berbagai pihak yang peduli terhadap upaya revitalisasi Opera Batak. Beberapa pementasan Opera Batak yang telah digelar dari kerjasama ini antara lain Sipiso Somalim, Sipurba Goring-Goring, Srikandi Boru Lopian, Guru Saman, dan Opera Danau Toba.
Tahun 2008 PLOt mengadakan Pelatihan Opera Batak. Dari pelatihan ini dilakukan simulasi pementasan dengan naskah Si Jonaha yang digali dari legenda masyarakat di Karo, Simalungun, Toba, dan Pakpak.
Tahun berikutnya naskah Si Jonaha dipentaskan di Pesta Danau Toba (PDT) 2009. Tahun 2010 PLOt mementaskan Si Jonaha di Batam pada acara Malam Budaya Batak yang disaksikan 5.000 orang. Maret 2011 Si Jonaha kembali dipentaskan di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) Medan dengan jumlah penonton 2.000 orang.
Bulan November 2011 tiga penggiat PLOt mengikuti Pelatihan Manajemen Seni di Bandar Lampung yang diadakan Teater Satu Lampung. Pelatihan tersebut dilanjutkan dengan Festival Legenda Sumatera pada Maret 2012. Masing-masing peserta pelatihan membawa legenda daerah asal.PLOt kemudian menjadikan event Festival Legenda Sumatera 2012 ini sebagai momentum menggelar Pentas Keliling 3 Kota yakni Pematangsiantar, Bandar Lampung, Jakarta. (PR)