DEPOK - Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) bekerja sama dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) serta didukung oleh PT SC. Johnson menggelar serangkaian kegiatan sebagai salah satu upaya promotif dan preventif dalam menanggulangi penyakit Demam Berdarah. Kegiatan yang berlangsung selama lebih kurang empat bulan ini akan melibatkan Pemerintah DKI Jakarta, Pemerintah Kota Depok, Dosen dan Mahasiswa UI serta Guru dan Siswa SD se-Jabodetabek. Kegiatan ini sekaligus sebagai rangkaian kegiatan HUT FKM-UI ke-50 di tahun 2015 ini.
Serangkaian kegiatan seperti dijelaskan Kepala Kantor Komunikasi UI, Rifelly Dewi Astuti,SE,MM adalah Pelatihan Mahasiswa, Guru, Jambore Jumantik Cilik dan Aksi Jumantik Cilik. Sebagai rangkaian kegiatan pertama, Duta Besar Kuba untuk Indonesia H.E EnnaViant Valdes memberikan kuliah umum sekaligus pelatihan bertajuk “Best Practice Keberhasilan Negara Kuba Mengendalikan Epidemi DBD” pada (4/3) di Balai Sidang UI kampus Depok. Turut hadir pula dalam kuliah umum tersebut adalah Dekan FKM-UI dr. Agustin Kusumayati, MSc, PhD dan Ketua Umum IAKMI Pusat dr. Adang Bachtiar, MPH, ScD.
Negara Kuba kata Felly merupakan salah satu negara yang telah berhasil menanggulangi kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sejak beberapa tahun lalu. Seperti yang diketahui bersama, pada tahun 1981 Negara Kuba mengalami kerugian tidak kurang dari US$ 103.000.000 akibat wabah DBD. Namun kini Kuba telah berhasil mengatasinya dan bebas dari permasalahan DBD. Melihat keberhasilan tersebut, FKM UI bersama IAKMI mengundang perwakilan Negara Kuba untuk berbagi strategi penanggulangan DBD di negaranya.
Lebih lanjut dikatakan Felly, DBD merupakan penyakit menular melalui vektor nyamuk (Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus) yang membawa virus dengue. Penyakit ini termasuk penyakit musiman, cenderung meningkat di saat musim hujan dan sering mengakibatkan Kejadian Luar Biasa (KLB) di tiap daerah. DKI Jakarta merupakan daerah endemis kasus DBD. Menurut data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2009 terdapat 18.735 kasus DBD dengan IR (incidence rate/angka kesakitan): 221,09 per 100.000 penduduk dan angka CFR (case fatality rate/angka keparahan) 0,10%. Sedangkan sejak 2011 angka tersebut terus meningkat, dengan CFR tertinggi pada tahun 2014 sebesar 0,31%. Tren peningkatan angka keparahan kasus DBD ini harus diantisipasi sedini mungkin mengingat kemungkinan adanya siklus kejadian luar biasa DBD 5 tahunan.
Berdasarkan kotamadya tambah Dewi, jumlah IR DBD terbanyak di DKI Jakarta pada tahun 2014 adalah Jakarta Selatan dengan IR 109,43 ; selanjutnya Jakarta Barat IR 98,68 ; Jakarta Pusat IR 76,83 ; Jakarta Timur 69,88 ; dan Jakarta Utara 60,98. Kecamatan dengan IR DBD tertinggi di Jakarta Selatan pada tahun 2014 adalah Kecamatan Cilandak dengan IR 142,08, Kebayoran Baru dengan IR 124,58 dan Pasar Minggu dengan IR 122,11. Menurut data Dinkes DKI Jakarta, kelompok umur tetinggi dari penderita DBD dengan IR 229/100.000 penduduk adalah umur 7- 12 tahun, usia anak-anak sekolah dasar. Sedangkan di Kota Depok, Sepanjang tahun 2014 terdapat 980 kasus DBD di Kota Depok, dengan kasus tertinggi di Kecamatan Pancoran Mas sebanyak 195 kasus.
Berangkat angka tersebut kata Felly, para mahasiswa UI yang telah terlatih akan turun ke 55 sekolah atau 35.000 siswa di DKI Jakarta dan Depok menjadi fasilitator guna mengedukasi, advokasi dan memberdayakan para siswa tersebut agar mampu menjadi agen pemberantas nyamuk di sekolah atau disebut dengan istilah “Jumantik Cilik”. Fokus kegiatan aksi Jumantik Cilik ini di wilayah dengan IR tertinggi di DKI Jakarta yaitu Kecamatan Cilandak dan Kecamatan Pasar Minggu serta kota Depok. Bentuk penyuluhan dan aksi Jumantik Cilik akan diawali pada 20 Maret dan berakhir pada 22 Mei 2015 yang secara rutin dilaksanakan setiap Jumat pagi.
Indikator keberhasilan kegiatan ini adalah diketahuinya jumlah penurunan kasus DBD di wilayah kegiatan selama periode tertentu melalui laporan kasus puskesmas. Selain melihat tingkat partisipasi aktif warga, keberhasilan kegiatan tersebut juga diukur dengan melihat angka bebas jentik, house index, container index serta breteau index di pemukiman warga.
Felly berharap melalui kegiatan ini, UI dapat turut berkontribusi dalam upaya penanggulangan DBD serta mampu memperkuat komitmen pemerintah dalam mencegah peningkatan kasus DBD melalui advokasi yang berkelanjutan dan meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat, khususnya tatanan sekolah untuk melakukan upaya pencegahan DBD di lingkungan sekolah.(PR)
Penulis : Patricia Aurelia