TANGERANG - Menyadari luasnya makna budaya dan kuliner, serta makin menipisnya kesadaran masyarakat utk mengenal kembali pangan asli n usantara sebagai makanan sehat yang bercitarasa tinggi serta mengajak seluruh masyarakat untuk kembali hidup sehat kembali kealam serta ikut serta melaksanakan program pemerintah dalam rangka diversifikasi pangan dengan usaha guna mengurangi ketergantungan masyarakat akan konsumsi beras dan terigu.
Karenanya Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid (STP Sahid) dalam rangkaian acara ulang tahun ke-30 menggelar “Sahid Healthy Local Food Festival 2013”. Sebagai penyelenggara kegiatan ini bertujuan sebagai dinamisator bagi pemuda-pemudi Indonesia untuk mengeksplor budaya, kuliner, ketrampilan, kemampuan serta kreatifitas serta mengenalkan pada masyarakat umum bahwa panganan lokal mampu diolah menjadi makanan yang memiliki citarasa internasional.
Tepat pada hari ulang tahunnya pada Sabtu (23/3) STP Sahid Jakarta telah berhasil memecahkan rekor Muri dengan 533 menu jenis olahan pangan berbahan dasar dari umbi sebagai tindakan nyata yang memperlihatkan kepada kita semua bahwa betapa kayanya jenis, cara pengolah sampai dengan budaya makan berbasis umbi-umbian. Jenis penganan diolah dengan cara kukus, goreng, panggang dan rebus. Dengan bahan baku singkong, ubi jalarungu/merah/putih/kuning, gnyong,garut,talas, gadung, kentangsemua diolah berdasarkan bahan bakunya berupa umbi ataupun dalam bentuk tepung seperti tepung Mocaf (Modification Casava), dilengkapi dengan pewarna alami, pemanis gula aren kristal organik dan madu, melinjo, kelapa, wijen, kurma, jahe, kayumanis. Displai menu dan penilaian dilakukan dilakukan di Lapangan STP Sahid Pondok Cabe.
Masih di hari yang sama, STP Sahid juga menyelenggarakan talkshow dan Clinic Cooking yang dikemas apik dengan mengusung tema “Mengangkat Umbi Sebagai Mutiara Alam yang Terpendam dari Bumi Indonesia”. Diharapkan peserta ataupun pengunjung yang hadir akan mendapat gambaran secara utuh tentang potensi umbi-umbian lokal kita. Dengan narasumber dari berbagai profesi antara lain pemangku kebijakan, intelektual, pengusaha, pemerhati dan aktifis.
Narasumber acara tersebut Dr Ir HNur Mahmudi Ismail, MSc selaku Walikota Depok yangmemberikan pencerahan kepada masyarakat dengan programnya One Day No Rice. Sementara STP Sahid diwakili Ketua STP Sahid, Ir Kusmayadi, MM sebagai salah satu penerus kekayaan lokal, mengungkapkan pentingnya dunia pendidikan seperti STP Sahid sebagai pusat pendidikan kuliner nusantara berusaha mengangkat potensi umbi ke taraf internasional melalui pendidikan.
Dari sisi peluang bisnis Ambarwati mengupas hubungannya bisnis berbasis pangan nusantara dengan pemberdayaan masyarakat yang terbukti meningkatkan taraf hidup keluarga. Sedangkan Prof Murdijati dari Pusat Kajian Makanan Tradisional Universitas Gadjah Mada mengulas gastronomi Indonesia yang belum banyak diminati mahasiswa dan masyarakat Indonesia padahal merupakan kekayaan intelektual yang luar biasa.
Sementara istri Meneg BUMN, Ny. Dahlan Iskan sebagai Pembina IIP BUMN menjelaskan kepedulian ibu-ibu sebagai pendorong gerakan pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan lokal. Peranan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian mengulas tentang kebijakan diversifikasi pangan. Bibong Widyarti salah satu pegiat gerakan Slow Food juga Convivium Leader Slow Food Jabodetabek – Jakarta mengulas tentang bagaimana makanan tidak hanya sebagai makanan akan tetapi merupakan bagian dari budaya, kesehatan, sosial dan lingkungan terutama umbi-umbian yang merupakan kekayaan asli Indonesia yang tidak terlihat. (PR)
Sumber: Harian Sinar Harapan, edisi Selasa 02 April 2013