Kurikulum 2013 yang akan diterapkan Juli mendatang masih menimbulkan kekhawatiran bagi sejumlah pihak. Kurikulum di jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK ini justru membuat sebagian kalangan guru kebingungan dengan penerapannya.
“Kurikulum 2013 mengharuskan agar anak-anak patuh terhadap apa yang didapatnya, terutama dalam pelajaran matematika. Hal ini bertentangan dengan tujuan kurikulum itu sendiri yaitu membuat anak-anak kritis. Kalau pengetahuan diterima tanpa ditanyakan lagi, bisa hancur sains itu. Justru sains harus ada keraguan,” jelas Guru Besar Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Dr Iwan Pranoto, dalam diskusi pendidikan bertema Pengajaran Sains Dalam Kurikulum Sekolah Dasar 2013 yang diadakan oleh PT Kalbe Farma Tbk. (Kalbe) pada Selasa (9/4) di Graha CIMB, Jakarta Pusat.
Iwan mengatakan bahwa masalah yang dihadapi hingga saat ini adalah pengajaran matematika dan sains yang masih kurang penalaran.
“Kalau anak-anak tidak belajar untuk meragukan segala sesuatu, maka akibatnya anak-anak bisa takabur dan sok benar. Anak-anak harusnya selalu menanyakan kenapa sesuatu bisa terjadi. Misalnya -1 (minus 1–red) dikali -1 kenapa hasilnya harus +1 (positif 1– red.)? Itu yang harus ditanyakan,” lanjutnya.
Menurut Iwan, kebijakan pendidikan di Indonesia masih banyak yang lack of knowledge (kurang pengetahuan–red). “Ini yang membuat anak-anak belajar bukan karena enjoyment, tapi hanya karena ada ujian,” sambungnya.
Terkait dengan kurikulum 2013, Dekan Fakultas Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, Dr. Karnadi, M.Si., mengatakan bahwa kurikulum memang harus berubah, tetapi perubahan itu hendaknya tidak membuat para guru menjadi bingung.
“Inti dari kurikulum kan adalah hubungan antara guru dengan siswa, maka jangan sampai kurikulum baru membuat semuanya semakin ruwet. Kalau ingin membahas kurikulum baru, harusnya para guru itu diajak berdiskusi dan ada juga peran serta masyarakat,” ujar Karnadi.
Karnadi juga mengatakan bahwa ada baiknya jika kurikulum dievaluasi setiap tiga hingga empat tahun sekali. “Inti dasar sebuah kurikulum ada empat, yaitu tujuan, konten atau isi, metodologi, dan evaluasi,” sambungnya.
Cinta Sains
Pendiri Kalbe, Boenjamin Setiawan, yang juga hadir dalam diskusi pendidikan tersebut mengatakan bahwa pendidikan sains harus diberikan pada anak-anak sejak kecil. Oleh karena itu, life science jangan sampai dikurangi porsinya dari kurikulum 2013.
“Kalau benar-benar porsinya (porsi untuk pendidikan sains–red) dikurangi dari kurikulum 2013, benar-benar bisa hancur pendidikan kita, karena masih banyak rahasia-rahasia dalam sains yang belum ditemukan alasan-alasannya hingga sekarang,”tuturnya.
Selain menyelenggarakan diskusi pendidikan, maka untuk mendorong anak-anak untuk tetap belajar dan mencintai sains, Kalbe juga menyosialisasikan Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) 2013.
Adapun KJSA 2013 merupakan ajang lomba karya sains untuk siswa tingkat sekolah dasar (SD) yang pada tahun ini merupakan tahun ketiga penyelenggaraannya. Karya sains sederhana yang boleh didaftarkan terbatas pada bidang Ilmu Pengetahuan Alam Terpadu (IPA Terpadu), teknologi terapan, dan matematika.
Para peserta yang menjadi target KJSA 2013 adalah para siswa yang pada saat pendaftaran pada 9 April hingga 22 Juni adalah siswa kelas IV hingga VI SD dari seluruh Indonesia.
Adapun 18 karya terbaik berdasarkan penilaian para juri akan diundang ke Jakarta pada 26 – 29 Agustus untuk presentasi hasil karyanya di depan tim juri. Setelah mempresentasikan hasil karyanya, maka akan terpilih sembilan pemenang yang akan dipamerkan pada acara Kalbe Junior Science Fair pada September mendatang.
“Dengan tema Inovasi Untuk Kehidupan yang Lebih Baik, kami berharap KJSA 2013 dapat menjaga antusiasme anak-anak SD untuk semakin mencintai ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi, yang pada akhirnya dapat lebih memajukan bangsa dan negara kita,” terang Ketua Panitia KJSA 2013, Arief Nugroho. (CR-33)
Sumber: Harian Sinar Harapan edisi Selasa, 16 April 2013