JAKARTA - Alumni Indonesia yang pernah menimba ilmu di beberapa Institusi Pendidikan Tinggi Belanda di kota Rotterdam berkumpul di sebuah acara reuni yang diadakan khusus untuk Alumni Rotterdam dari berbagai kelompok dan lintas generasi, Senin (24/8/2015) di Jakarta. Acara, dihadiri Walikota Rotterdam Ahmed Aboutaleb dan Duta Besar Belanda untuk Indonesia Rob Swartbol.
Rotterdam dan Indonesia telah memiliki hubungan yang erat dalam jangka waktu yang lama dengan jaringan alumni yang luas serta beragam, memainkan peran penting dalam hubungan ini. Alumnus asal Indonesia yang paling terkenal adalah Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Indonesia yang menimba ilmu di Rotterdam pada tahun 1921-1932. Selain itu alumni-alumni lain yang sukses adalah mantan Menkeu RI, Kwik Kian Gie dan Tri Rismaharini, yang saat ini tengah menjabat sebagai Walikota Surabaya.
Dalam siaran pers yanmg diterima scholae.co, dijelaskan bahwa universitas- universitas dan pemerintah Belanda sangat tertarik untuk mengembangkan jaringan alumni di Indonesia, oleh karena itu pemerintah Belanda berinvestasi dalam program-program beasiswa seperti NFP dan StuNed. Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Rob Swartbol yang juga merupakan alumni Rotterdam mengatakan banyaknya mahasiswa asal Indonesia yang merupakan profesional muda ke Rotterdam dan kota-kota lain di Belanda telah membuahkan jaringan alumni yang kuat dan hal tersebut menjadi aset yang sangat berharga dalam hubungan diplomatik dan bisnis antara Indonesia dan Belanda serta untuk pertukaran ilmu pengetahuan di berbagai bidang.

Indhira Sembiring Meliala (MSc Manajemen Sumber Daya Manusia, Rotterdam School of Management) yang hadir dalam acara tersebut berkomentar selama penelitian saya di Rotterdam, Saya belajar untuk mandiri, berpikiran terbuka, dan berani berpikir kreatif. Pada saat bersamaan, Saya juga bergaul tidak hanya dengan mahasiswa Indonesia akan tetapi juga dengan mahasiswa International.
Dalam kata sambutannya, Walikota Rotterdam, Ahmed Aboutaleb, yang sedang mengunjungi Indonesia dalam misi maritim, memperhatikan tantangan yang sama-sama dihadapi Rotterdam dan Jakarta sebagai sister cities, seperti kelangkaan energi, suplai bahan pangan, masalah lingkungan dan perubahan iklim.
“Kota-kota di seluruh dunia sedang mencari solusi untuk menghadapi perekonomian di masa depan, yang berarti ekonomi yang berputar atau circular economy. Trend global sedang berlomba-lomba menjadikan keadaan ekonomi yang saat ini linear menjadi circular economy dengan pemulihan bahan baku secara optimal dan sebisa mungkin meminimalisir perusakan nilai, ungkap Ahmed Aboutaleb.
Ia menambahkan untuk mencapai perubahan tersebut dibutuhkan kepemimpinan gaya baru ."Dunia butuh pemimpin-pemimpin yang ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman yang sesuai dengan negara-negara dan perusahaan-perusahaan lain dunia ini. Saya pervaya bahwa intitusi-institusi pendidikan di Rotterdam sanggup mengembangkan pemimpin-pempimpin seperti ini,” tambahnya.
Duta Besar, Rob Swartbol menambahkan para alumni muda dan berbakat mewakili hubungan yang kuat antara Jakarta dan Rotterdam memiliki peran yang sangat penting untuk pengembangan dan modernisasi dua kota delta kami.
Nuffic Neso Indonesia adalah organisasi non-profit yang ditunjuk resmi dan didanai oleh pemerintah Belanda untuk menangani berbagai hal yang berkaitan dengan pendidikan tinggi Belanda. Neso Indonesia adalah perwakilan Nuffic, organisasi Belanda yang menangani kerja sama internasional di bidang pendidikan tinggi. Neso Indonesia menyediakan informasi serta memberikan konsultasi secara cuma-cuma mengenai lebih dari 2.100 program studi yang diberikan dalam bahasa Inggris.
Neso Indonesia juga memprakarsai dan memfasilitasi kerja sama di bidang pendidikan tinggi antara institusi di Indonesia dan Belanda dan mengelola jaringan alumni.(PR)
Penulis : Patricia Aurelia