JAKARTA - Persoalan perbedaan tingkat perkembangan daerah, terus membayangi dan merupakan tantangan terbesar bagi akses terhadap pendidikan menengah. anak-anak dari keluarga miskin atau daerah pedesaan memiliki lebih sedikit kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dibanding anak-anak dari keluarga yang lebih mampu dan anak-anak dari wilayah perkotaan.
Kenyataan ini menyentil Wakil Ketua Komite III, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang membidangi persoalan pendidikan, Fahira Idris. Ia mengingatkan Pemerintah untuk memberikan perhatian pada perkembangan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang tersebar banyak di daerah-daearah pedesaan di Indonesia.
Penegasan ini senada dengan bukti-bukti internasional yang menunjukan pentingnya usia dini bagi perkembangan anak. Sistem saraf pusat, sel-sel otak dan jalur saraf manusia terbentuk sejak sebelum seorang anak terlahir hingga memasusi usia 8 tahun. Masa kritis perkembangan otak anak ini menjadi fondasi dasar masa depan dan jalur kehidupannya. Walaupun pengalaman hidup anak di kemudian hari masih dapat mengubah jalur itu, perkembangan anak pada usia dini dapat mempengaruhi kesehatan, perilaku, dan hasil belajar di tahun-tahun kehidupan yang akan datang.
Bukti menarik dari sektor kesehatan menunjukan bahwa kondisi kesehatan kronis yang mengancam nyawa seperti diabetes, dan penyakit jantung ternyata dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang buruk sejak awal masa kehamilan. Jika pembelajaran usia dini dan pengembangan holistik ditingkatkan, maka di masa depan mereka berpeluang lebih besar memiliki kehidupan yang lebih sehat, lebih aktif, lebih produktif, dan lebih sukses.

Investasi berupa pembekalan pendidikan, pembinaan, dan pendampingan untuk mendukung pendidikan anak usia dini bisa menghasilkan manfaat yang besar. Hasil investasi pendidikan pada anak usia dini akan jauh lebih besar daripada investasi pendidikan dan pelatihan yang diberikan kepada anak pada tahap berikutnya. Hal ini sebagian disebabkan karena pengaruh investasi usia dini terhadap pola perkembangan otak secara positif, dan juga karena pembelajaran usia dini membuat anak-anak lebih mudah mempelajari keterampilan lebih lanjut du kemudian hari.
Hasil penelitian terbaru yang diungkap Heckman (2008) yang menunjulan bahwa ‘keterampilan’ melahirkan keterampilan dan ‘motivasi’ melahirkan motivasi telah memberikan alasan yang kuat kepada banyak negara untuk memberikan perhatian kepaad pendidikan anak usia dini.
Saat ini yang sangat diperlukan adalah adanya political will, khususnya Pemerintah Daerah dengan memberikan perhatian secara kontinyu selama usia dini berlangsung dengan melakukan investasi pendidikan, pembinaan, dan pendampingan bagi anak-anak paling miskin dan tertinggal. Data yang dipaparkan Fahira, saat ini, dari 275.904 guru PAUD baru sekitar 28,7 persen yang berkualifikasi S-1/D-4 ke atas. Selain itu, masih banyak guru PAUD yang kompetensinya belum sesuai.
Sebuah penelitian yang dilakukan tentang peran PAUD yang dimotori Bappenas, menunjukan dua hal penting. Yaitu; anak-anak yang tidak mengikuti layanan pendidikan usia dini dalam bentuk kelompok bermain atau taman kanak-kanan, mendapatkan skor lebih rendag pada semua usia. Perbedaan nilai yes berkisar antara 14 persen pada saat anak-anak berusia enam tahun, hingga 10 persen pada saat anak-anak berusia 9 tahun. Selain itu, dalam hal perbedaan nilai ujian pun, tidak berkurang bahkan setelah 4 tahun di tingkat Sekolah Dasar, durasi rata-rata sekolah anak usia 9 tahun. Hal ini menandakan bahwa dampak investasi dalam pembekalan pendidikan anak-anak usia dini, terus berlanjut beberapa tahun kemudian.
Bahkan dengan melakukan upaya penyediaan pelayanan PAUD di Indonesia, terbukti mampu mengurangi perbedaan perkembangan anak usia dini antara masyarakat miski dan kaya. Evaluasi dampak yang dilakukan oleh Proyek Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini menemukan bahwa layanan PAUD yang diberikan di desa, memberikan dampak yang besar pada anak-anak dari rumah tangga miskin, termasuk dampak terhadap perkembangan bahasa dan kognitif mereja, kompetensi sosial, dan kematangan emosi si anak.
Maka Fahira meminta kepada Pemerintah untuk tidak melupakan guru PAUD. Karena jika PAUD berkualitas, anak-anak akan terbentuk dan tumbuh jadi pribadi mandiri, jujur, disiplin, percaya diri, dan punya rasa sosial tinggi.
Penulis : Maria L. Martens