Selasa, 27 Januari 2026

Tiga Peneliti Muda Indonesia Dapat Penghargaan dari Prancis


 Tiga Peneliti Muda Indonesia Dapat Penghargaan dari Prancis Peneliti Muda Indonesia dapat penghargaan dari Prancis. (Antaranews Jatim)
LONDON, SCHOLAE.CO - Tiga peneliti muda Indonesia bidang sains yang tengah menyelesaikan disertasinya di Prancis mendapat penghargaan Prix Mahar Schtzenberger dari Asosiasi Franco-Indonesia untuk Pengembangan Sains (AFIDES) di Balai Budaya KBRI Paris, Kamis, (3/5/2018).

Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Paris, Surya Rosa Putra kepada Antara London, Jumat mengatakan, ketiga peneliti tersebut adalah Arief Wicaksana dari Departemen TIMA (Teknik Informatika dan Mikroelektronika untuk Arsitektur) Universitas Grenoble-Alpen, Rifan Hardian dari program Kimia, Universitas Aix-Marseille, dan Vinsensia Ade Sugiawati juga dari departemen Kimia, Universitas Aix Marseille - Marseille.

Menurut Surya Rosa Putra, ketiga pemenang diseleksi dari 12 kandidat berasal dari mahasiswa tahun kedua program doktoral. Jumlah mahasiswa program doktoral asal Indonesia tercatat di Kementerian Pendidikan Nasional Prancis tahun 2018 sebanyak 118 orang.

Pemberian penghargaan dihadiri Presiden AFIDES, Hlne Schtzenberger, Kuasa Usaha AdInterim KBRI Paris, Agung Kurniadi, para juri, perwakilan dari Kementerian Pendidikan Nasional Prancis, beberapa peneliti dari perguruan tinggi Prancis, mahasiswa Indonesia di negara tersebut, serta staf KBRI Paris.

Penghargaan Mahar Schtzenberger lahir dari gagasan Profesor Marcel-Paul Schtzenberger pada tahun 1988, saat dia diangkat sebagai anggota Acad mie des Sciences Perancis (organisasi elite ilmuwan Prancis yang setara dengan Royal Society of London, Inggris).

Pemberian penghargaan itu bertujuan untuk mempererat hubungan dengan Indonesia yang dijalin Profesor Schtzenberger sejak tahun 1951, ketika dia mengikuti misi WHO untuk pemberantasan penyakit infeksi kronis tropis. Nama Mahar Schtzenberger yang digunakan di sini diambil dari nama putranya yang meninggal dunia saat menempuh pendidikan di Ecole Polytchnique Paris tahun 1980.

Hlne Schtzenberger, yang juga putri dari Profesor Marcel-Paul, menyampaikan penganugerahan Prix Mahar Schtzenberger dilangsungkan sejak tahun 1991 sebagai bentuk kepedulian AFIDES terhadap pengembangan sains Indonesia.

Kepada pemenang, AFIDES memberikan penghargaan berupa uang dan piagam. Selain itu, AFIDES juga memberikan medali unik yang menggambarkan gedung Academie des Sciences Prancis di satu sisi dan gambar wajah Supartinah Pakasi, salah satu tokoh pendidikan Indonesia, yang juga kakak dari istri Profesor Marcel-Paul Schtzenberger.

KUAI KBRI Paris, Agung Kurniadi, menyampaikan terima kasih dan apresiasi pemerintah Indonesia terhadap inisiatif dan dedikasi AFIDES untuk pengembangan sains Indonesia. Dikatakannya kegiatan AFIDES ini adalah salah satu kerja sama bilateral nyata antara Indonesia-Prancis dan berharap akan berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Selain itu, Agung berpesan kepada pemenang untuk menjadikan penghargaan ini sebagai motivasi dalam menjadi peneliti unggulan Indonesia di masa datang.

Puncak pemberian penghargaan sebagaimana dilaporkan Antara adalah presentasi hasil riset dari ketiga pemenang. Arief Wicaksana menampilkan riset terbaru untuk meningkatkan kinerja mikroprosesor FPGA (Field-Programmable Gate Array). Sementara, Rifan Hardian mempresentasikan hasil penelitian dalam upaya membuat material baru yang lebih efisien, efektif dan aman, untuk menangkap, memisahkan, dan menyimpan gas sekaligus. Senada dengan Rifan, Vinsensia yang berasal dari laboratorium yang sama mengembangkan material komposit untuk keperluan baterai mikro.

Apa yang dilakukan ketiga pemenang menggambarkan riset unggulan utama Prancis. Diluar kimia dan material komposit, Prancis sangat kuat di bidang transportasi, ekoteknologi dan nanoteknologi. Acara pemberian penghargaan diselingi dengan dua tarian nusantara dan ditutup dengan makan malam bersama.
Penulis : Patricia Aurelia

Berita Scholae Terbaru