Selasa, 27 Januari 2026

Mahasiswa Interior Desain Hadirkan Instalasi Biomimicry di Area Taman Kampus UPH


 Mahasiswa Interior Desain Hadirkan Instalasi Biomimicry di Area Taman Kampus UPH Instalasi biomimicry yang dibangun di area taman kampus UPH Lippo Village ini berdimensi panjang 10m dan tinggi 2.5m, berbentuk seperti daun kering . (Dok. Humas UPH)
KARAWACI, SCHOLAE.CO - Bila Anda melewati taman di area terbuka Kampus UPH Lippo Village, Karawaci Tangerang, Anda akan melihat beberapa instalasi atau konstruksi unik terbuat dari bambu. Tentunya instalasi tersebut tidak permanen, melainkan proyek Ujian Akhir Semester ( UAS) Mata Kuliah (MK) Studio Desain Integratif 2 dari mahasiswa program studi Interior Desain sementer 3. 

Salah satu instalasi yang ingin saya ulas di sini adalah instalasi biomimicry yang dikerjakan oleh Grace, mahasiswa Interior Desain angkatan 2017 dan 12 mahasiswa lainnya dalam satu kelompok. Instalasi biomimicry yang dibangun di area taman kampus UPH Lippo Village ini berdimensi panjang 10m dan tinggi 2.5m, berbentuk seperti daun kering yang telungkup jatuh di tanah.  

Menurut Grace, ide instalasi biomimicry ini berangkat dari pengamatan mereka terhadap kebutuhan mahasiswa UPH yang sehari-harinya sibuk dengan perkuliahan. Meskipun di kampus sudah tersedia area-area publik untuk rileks, namun kelompoknya ingin menghadirkan sebuah ruang yang dapat ‘menenangkan' publik UPH yang penat setelah beraktivitas, supaya mereka bisa meluangkan waktu untuk bernafas, melepaskan kekhawatiran mereka, dan membebaskan pikiran, serta menikmati alam.

Berangkat dari kebutuhan akan pentingnya ruang publik yang dapat menghilangkan kepenatan, Grace dan kelompoknya membuat sebuah instalasi yang dinamakan Biomimicry, yaitu sebuah pendekatan untuk menciptakan suatu inovasi  dalam mencari solusi untuk mejawab tantangan yang dihadapi manusia dengan cara meniru pola yang sudah ada dan teruji di alam.

Tujuan dari biomimicry adalah untuk mecapai sebuah produk, proses dan cara-cara yang baru untuk kita hidup dan beradaptasi di bumi dalam jangka waktu yang panjang (sumber https://geometryarchitecture.wordpress.com ).

Fokus instalasi ini adalah bagian daun yang berupa stomata, yaitu bukaan-bukaan kecil yang banyak terdapat pada bagian bawah daun, yang direalisasikan dengan bentuk bulatan-bulatan yang dibuat dari potongan batang bambu. Dengan berdiri di dalam instalasi biomimicry pengunjung dapat "bernafas", sama seperti sebuah daun yang bernafas melalui stomatanya.

Karya ini diaplikasikan dari MK Studio Desain Integratif 2, yang belajar memperdalam kemampuan abstraksi melalui beberapa media secara gambar/grafik dan model/maket. Mahasiswa yang mengambil MK ini banyak melakukan aktivitas berstudio untuk mengembangkan kemampuan tangan sebagai dasar pengetahuan dalam berbahasa desain.

Mahasiswa juga memperdalam mengenai elemen, prinsip dan terminology  desain juga sebagai acuan dasar dalam membuat komposisi suatu bentuk geometri dasar dua dimensi dan tiga dimensi. Penggunaan maerial, terutama di bidang warna dan tekstur akan membantu proses eksplorasi dalam membentuk komposisi.

Mahasiswa mempelajari hubungan antara bentuk dan abstraksi, bagaimana cara mengembangkan keduanya melalui proses desain sebagai alat untuk membentuk komposisi yang memiliki dasar estetis dan persepsi multi-sensori yang melibatkan seluruh indera termasuk gerak, integrasi antara hati dan pikiran. Persepsi tumbuh dan melibatkan seluruh keberadaan manusia ini bertujuan menciptakan pengalaman ruang.

Waktu yang dibutuhkan untuk pembangunan instalasi biomimicry ini 1 bulan sesuai waktu yang ditetapkan dosen.  Di mulai dengan memilih dan mematangkan konsep, lalu membuat maket 1:20, proses pemotongan bambu menggunakan mesin pemotong dan juga gergaji di bengkel UPH dan membersihkannya untuk membuat "stomata". Lalu, memulai membuat struktur instalasi. Setelah itu, tahap pembuatan lantai dan terakhir, memasangkan bundar-bundar "stomata". Selain membuat instalasi, mahasiswa pun dituntut untuk membuat poster, concept board, gambar teknik dan juga sebuah video mengenai instalasi tersebut.

Menurut Grace, kesulitan dalam membuat proyek terutama dalam pembuatan struktur, karena tidak mudah untuk melengkungkan dan menyambungkan bambu utuh. Salah satu bagian yang memakan paling banyak waktu adalah memotong bambu menjadi setebal 2cm untuk membuat "stomata"nya karena instalasi ini membutuhkan banyak sekali stomata untuk menutupi keseluruhan struktur instalasi. Pemilihan material bambu juga didasarkan alasan karena memiliki proyek ini memberikan banyak pelajaran bagi mahasiswa. Terutama pengalaman bekerja dengan menggunakan bambu.

Sebelumnya Grace dan rekan-rekannya yang mengambil MK Studio Desain Integratif 2 sudah melakukan study trip ke Bali untuk melihat bangunan-bangunan  yang dibuat dari bambu. Dari study trip ini mereka juga sudah belajar tentang potensi bambu sgt besar, harganya yang terjangkau, sifatnya yang dapat dibentuk, dan kekuatannya.

Jadi dalam proyek ini mahasiswa ditantang untuk mengaplikasikan materi bambu pada sebuah instalasi. Dari sini mahasiswa  tidak hanya belajar untuk mendesain menggunakan bambu, tetapi juga belajar dan memahami kelebihan kekurangannya.

Selain mendapat pelajaran dari aspek akademis, mahasiswa juga belajar untuk berinteraksi dan bekerjasama, belajar banyak hal tentang rekan-rekan tim, kekurangan dan kelebihan masing-masing, juga bagaimana cara berkomunikasi dengan baik. (RH)

Penulis : Rosse Hutapea

Berita Scholae Terbaru