JAKARTA, SCHOLAE.CO – Universitas terkemuka di Rusia, National Research Tomsk State University (TSU), menganugerahi gelar Visiting Professor of International Relations kepada M. Wahid Supriyadi, Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus.
Penghargaan diberikan TSU atas kontribusi Dubes Wahid di bidang hubungan internasional, khususnya dalam pengembangan kerja sama antara Indonesia dengan Rusia.
TSU adalah salah satu universitas tertua Rusia yang didirikan tahun 1878, dan merupakan Universitas Imperial Siberia Pertama. Saat ini TSU salah satu universitas terkemuka di Rusia, dan masuk dalam peringkat ke-277 dunia menurut QS World University Rankings 2018. Di TSU belajar mahasiswa asing, termasuk mahasiswa Indonesia.
Wahid adalah Dubes asing pertama yang diberikan award tersebut oleh TSU. Acara penganugerahan diadakan pada 6 September 2018, bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-140 universitas tersebut. Acara itu dihadiri Presiden TSU Georgiy Mayer beserta jajaran staf, dan staf pengajar, serta mahasiswa TSU. Hadir juga Rektor Universitas Pattimura, Ambon dan tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya Georgiy Mayer mengatakan Dubes Wahid berupaya melakukan hal-hal baru yang dapat memberikan hasil signifikan dan nyata, dalam pengembangan hubungan Indonesia dengan Rusia. "Tomsk State University senang dan bangga melihat Duta Besar Wahid Supriyadi sebagai guest lecturer," kata Mayer seperti dikutip dari rilis yang diterima dari KBRI Moskow, 9/9/2018.
Setelah penganugerahan, Dubes Wahid langsung didaulat untuk memberikan kuliah umum. Tema yang disampaikannya dalah Indonesia-Russia: From Image Building to Practical Cooperation. Dalam paparannya, Wahid mengatakan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia dan Rusia adalah image building.
Menurut Wahid, sebagian besar masyarakat dunia, termasuk Indonesia, masih menganggap Rusia sebagai kelanjutan dari Uni Soviet yang komunis dan masyarakatnya tertutup. “Penyelenggaraan Piala Dunia 2018 di Rusia telah mengubah persepsi banyak orang di dunia terhadap Rusia, termasuk orang Indonesia,” ujarnya.
Sebaliknya, katanya, sebagai negera berpenduduk Muslim terbesar dunia, negara dengan penduduk terbesar keempat dunia, serta perekononian ke-15 dunia, Indonesia masih kurang dikenal. Tidak sedikit masyarakat dunia, termasuk Rusia, bahkan lebih mengenal Bali dari pada Indonesia.
Dubes Wahid menggrisbawahi berbagai langkah yang dilakukan untuk lebih mendekatkan hubungan antara Indonesia dengan Rusia. Salah satunya adalah dengan menyelenggarakan Festival Indonesia di Moskow (FIM) yang sudah berlangsung tiga kali.
"Saya yakin Festival Indonesia dapat mempersempit jarak kesalahpahaman dan mispersepsi antara kedua bangsa yang besar ini. Hubungan antar masyarakat merupakan kunci utama. Sebagaimana peribahasa Indonesia, yaitu Tak kenal maka tak saying," kata Dubes Wahid dalam presentasinya.
Ditambahnya bahwa selama dua kali penyelenggaraan festival sebelumnya, tahun 2017 perdagangan Indonesia dan Rusia mengalami peningkatan 25% menjadi sebesar US$3,27 miliar, wisatawan Rusia ke Indonesia meningkat 37% menjadi 110.500 orang. Dan sebaliknya jumlah wisatawan Indonesia yang pergi ke Rusia sekitar 20.000 orang.
Kerja Sama Perguruan Tinggi
Wahid juga mengatakan bahwa saat ini ada pengembangan kerja sama perguruan tinggi di Indonesia dan Rusia.
Kerja sama antar perguruan tinggi menjadi salah satu yang sedang dikerjakan antara Indonesia dan Rusia. Rektor dari UI, UGM, ITB, IPB, Undip, dan Wakil Rektor ITS, serta perwakilan Unud yang tergabung dalam delegasi PLN, berkunjung ke Rusia pada 3-8 September 2018.
Perguruan tinggi Indonesia tersebut, kata Wahid, melakukan penjajakan kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Rusia. Yaitu Moscow Power Engineering Institute (MPEI), National Research Nuclear University MEPhI (Moscow Engineering Physics Institute), dan Gubkin Russian State University of Oil and Gas.
Dalam kunjungan tersebut ditandatangani perjanjian kerja sama antara ITB dan UI dengan Russian State Agrarian University- Moscow Timiryazev Agricultural Academy (RSAU MTAA), dan ITB dengan Moscow Aviation Institute (MAI). Sementara UGM dan Unud sebelumnya telah menjalin menandatangani perjanjian kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Rusia. (Yoely Saleh)