Loading
Pertemua Bimbingan Teknis Peningkatan Kompetensi PAUD TamanSeminari (Dok. DBK)
BOGOR, SCHOLAE.CO - Salah satu Kebijakan strategis Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama di bidang pengelolaan dan pembinaan pendidikan Katolik adalah, mewujudkan tenaga pendidikan dan kependidikan agama Katolik yang berkualitas. Kegiatan konkrit yang dilakukan antara lain, melalui kegiatan bimbingan teknis peningkatan kompetensi guru pendidikan agama Katolik tingkat dasar.
Sepanjang Tahun Anggaran 2018 ini, Ditjen Bimas Katolik melalui Direktorat Pendidikan Katolik menggelar kegiatan serupa di sembilan pronvinsi yang tersebar di 29 Kabupaten yang ada di Indonesia. Salah satunya, kegiatan Pembinaan Kompetensi Pendidik Taman Seminari di Jakarta, Tanggal 15 – 19 Oktober 2018. Pertemuan yang dihadiri dihadiri 50 orang peserta dari berbagai wilayah di Indonesia itu, menghadirkan para pakar pendidikan yang sudah mumpuni di bidangnya. Yaitu Ratih Ibrahim, Rm. Alexius Dwi Widiatna, Rm. Leo Sugiyono, Anna Subekti, dan Ana Dwi Aryani.
Dalam sambutan Pembukaannya, Direktur Pendidikan Katolik, Fransiskus Endang menyampaikan bahwa Tiga catatan penting pendidikan global; fokus pembelajaran (learning), guru sebagai faktor menentu keberhasilan pembelajaran, dan penerapan sistem pendidikan.
Lebih lanjut Fransiskus menyampaikan agar para Pembina mempersiapkan Taman Seminari yang dikelolanya, sebagai wadah menumbuhkan generasi yang produktif. Harapan dan tumpuan, untuk menciptakan generasi yang matang secara karakter. Serta mengembangkang terus Taman Seminari, inovasi, kreatif, dan kemandirian dalam rangka membangun nilai iman dan moral Katolik. “Sosialisasikan terus kepada umat Katolik agar mereka memahami secara baik tentang Taman Seminari sebagai lembaga formal pendidikan anak usia dini berciri khas agama Katolik,” ungkap Fransiskus.
Ketua Panitia, Barnabas Ola Baba menjelaskan bahwa pertemuan pembinaan ini merupakan moment pentin dalam rangka mempersiapkan masa depan lembaga dan peserta didik Taman Seminari yang berkualitas.
Adapun tujuan dilaksanakannya pertemuan ini, menurutnya, untuk menyegarkan sekaligus memurnikan kembali motivasi pelaksanaan tugas sebagai pendidik Taman Seminari. Selain itu, menyiapkan Pendidik Taman Seminari utnuk melaksanakan Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini Taman Seminari.
Kepala Seksi Kurikulum dan Evaluasi pada Subdit Penididkan Dasar itu pun menginformasikan bahwa ada 27 Taman Seminari yang mendapat Ijin Operasional dan telah mendapat nomor pokok sekolah nasioal (NPSN) dari Badan Statistik Kementerian Pendidikan Kebudayaan.
Pembasahan dalam pertemuan tersebut salah satunya tentang, pembalajaran yang berawal dari mengamati-membaca-mendengar-menyimak. Proses kedua melalui tanya jawab dan diskusi. Selanjutnya guru mencoba melakukan eksperimen dan mengumpulkan imformasi terkait topic yang diajarkan. Dari pemahaman pengajar ini maka proses berikutnya adalah mengasosiasi, mengolah informasi, menganalisis dsb. Proses terakhir adalah mengomunikasikan, melaporkan, dan menyajikan.
Tema lainnya tentang Pendidikan Karakter PAUD. Diungkapkan, 10 Prinsip-Prinsip Pembalajaran TK-PAUD Kurikulum 2013 yaitu, belajar melalui bermain, berorientasi pada perkembangan anak, berorientasi pada kebutuhan anak, berpusat pada anak, Pembelajaran aktif, berorientasi pada pengembangan nilai-nilai karakter, berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup, didukung oleh lingkungan yang kondusif, berorientasi pada pembelajaran yang demokratis, dan Pemanfaatan media belajar, sumber belajar, dan narasumber.
Keberadaan Kurikulum 13 berciri khas dengan orientasi pada perkembangan anak . Hal ini berbeda dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Karena berorientasi pada siswa, maka pusatnya adalah murid. Sedangkan guru menjadu fasilitator. Anak berupaya mencari tahu sendiri, Karena dasanya adalah kompetensi. “Hal ini juga merupakan yang utama dari Kurikulum 13, yaitu berorientasi pada kompetensi dan pembelajarn karakter. Dan ini berpengaruh pula terhadap saat pembuatan RPP tersebut,” papar Rm. Leo, salah satu narasumber ahli. Pada kesempatan itu, Rm. Leo juga mengadakan Praktek Penyusunan RPP Taman.
Mewakili Pemerintah, Direktur Pendidikan Katolik, Fransiskus Endang menyampaikan bahwa Dalam rangka meningkatkan mutu pengelolaan dan layanan Taman Seminari, Pemerintah, dalam hal ini Ditjen Bimas Katolik berupaya memfasilitasi, membina, dan mengarahkan masyarakat agar memahami apa, mengapa, dan bagaimana menyelenggarakan pendidikan anak usia dini yang benar.
Taman Seminari hadir untuk memberi warna dan harapan baru saat ini, Sedangkan Negara berperan sebagai fasilitator keberadaan lembaga PAUD untuk membangun sebuah nilai dan moral bangsa yang lebih baik. “Saat ini animo masyarakat Katolik sangat tinggi akan hadirnya lembaga pendidikan tersebut di berbagai pelosok nusantara,” ungkap Direktur.