Selasa, 27 Januari 2026

Program 'Buddy System' LSPR, bagi Mahasiswa 'Istimewa'


 Program 'Buddy System' LSPR,  bagi Mahasiswa 'Istimewa' LSPR Jakarta menyelenggarakan program kuliah buddy system bagi anak-anak autis. (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Peduli pada keberadaan anak-anak berkebutuhan khusus, sebuah terobosan dengan program 'buddy system', pun digulirkan. Tujuannya agar anak-anak dengan autis bisa mendapatkan teman, sedangkan bagi mahasiswa lainnya terbangun rasa empati kepada mereka yang berkebutuhan khusus.

Adalah Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi London atau School of Public Relations (LSPR) Jakarta yang menyelenggarakan program kuliah bagi anak-anak autis dengan berbagai metode yang memungkinkan mereka dapat belajar dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

"Anak-anak dengan autisme memiliki tantangan dalam berkomunikasi. LSPR mengupayakan agar mereka memiliki kesempatan untuk melanjukan pendidikan hingga perguruan tinggi dan memperoleh gelar akademik dengan ilmu yang dapat diaplikasikan bagi orang lain," kata Pendiri dan Direktur LSPR Jakarta, Prita Kemal Gani di Jakarta, Jumat (19/10/2018).

Dia menjelaskan bahwa anak-anak dengan autisme yang kuliah di LSPR mengikuti kelas khusus yang hanya diperuntukkan bagi mereka. Pada waktu tertentu mereka akan mengikuti kelas regular untuk bertemu dan berinteraksi dengan teman-teman mereka.

"Ini adalah program 'buddy system'. Tujuannya agar anak-anak dengan autis bisa mendapatkan teman, sedangkan bagi mahasiswa lainnya terbangun rasa empati kepada mereka yang berkebutuhan khusus," jelas Prita, seraya menambahkan bahwa dengan metode seperti demikian, LSPR telah meluluskan sejumlah sarjana dengan autisme yang mampu membuat karya sesuai dengan bakat dan minat mereka.

Dia menegaskan bahwa anak-anak dengan autisme sesungguhnya memiliki kemampuan yang sama dengan anak-anak lainnya, seperti di bidang olah raga, seni, dan teknologi.

"Jika anak-anak kita dididik agar mereka mampu menghasilkan karya, maka mereka akan merasa berguna," ujarnya.

Namun, mendidik dan mengasah kemampuan anak-anak autis masih menjadi tantangan di tanah air mengingat jumlah terapi dan guru yang memiliki latar belakang pendidikan bagi orang-orang berkebutuhan khusus masih sangat terbatas.

Karenanya, lanjut Prita LSPR juga menyelenggarakan program "parents siblings" yang mempertemukan para orangtua yang memiliki anak autis untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Selain itu, LSPR juga menyelenggaralan pelatihan bagi guru yang khusus mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. "Sejauh ini sudah ada 3.000 sekolah yang mengikuti program ini," kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Autisma Indonesia (YAI), dr. Melly Budhiman menjelaskan bahwa autisme di Indonesia belum menjadi perhatian hingga tahun 1997.

"Pada tahun 80-an saya sudah menangani kasus anak-anak autis tapi hanya sekitar tiga kasus per tahun. Pada waktu itu, para orangtua mengeluh karena anak-anak mereka dikucilkan di sekolah, dan mereka juga dikucilkan karena memiliki anak autis," jelas dr. Melly yang juga seorang psikiater anak.

Dia mengatakan pada tahun 1997, ketika autisme sudah mendapat perhatian di masyarakat, sejumlah orangtua dan dokter mendirikan YAI yang salah satu tujuannya adalah menyediakan pendidikan dan pengetahuan bagi seluruh masyarakat tentang autisme.

Meskipun anak dengan autisme memiliki kesulitan dalam berkomunikasi, menurut dia mereka dapat sembuh dan beraktivitas seperti orang pada umumnya.

Bahkan, tidak sedikit anak-anak dengan autis yang mampu menyelesaikan pendidikan kedokteran, arkeologi, teknik mesin, dan menjadi sarjana pendidikan, kata dr. Melly. (Editor: Maria L. Martens)

Penulis : Maria L Martens

Berita Scholae Terbaru