Loading
Teknologi skill dan soft skill kunci sukses vokasi (Net)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Perpaduan antara keterampilan teknologi atau teknologi skill dan soft skill yaitu pendidikan karakter menjadi kunci sukses dari pendidikan vokasi. "Sukses pendidikan vokasi perpaduan antara teknologi skill dengan soft skill. Kita tidak ingin anak-anak kita menjadi robot atau menggantikan robot, karena itu pendidikan karakter harus menjadi bagian tadi dan kuncinya di situ," kata Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Kemendikbud Ananto Kusuma Seta di Jakarta, kemarin.
Dia menambahkan, soft skill terdiri dari 4C yaitu Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation. "Ke depan kita rancang perpaduan teknologi skill dengan human skill (soft skill) karena kita tidak ingin anak-anak kita tidak didikte jadi robot," katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan, saat ini pendidikan mulai bergeser ke pendidikan vokasi dan investasi yang menguntungkan pendidikan dimasa depan adalah vokasi.
Ke depan lulusan yang terampil dan siap kerja sangat diperlukan di dunia kerja sehingga pendidikan vokasi sangat penting tentunya yang memiliki pendidikan karakter.
Lebih lanjut ia mengatakan industri tidak akan sukses ke depan tanpa kerja sama dengan sekolah yang berlatar pendidikan vokasi. "Tidak ada pendidikan vokasi yang bagus kalau tidak kerja sama dengan industri dan tidak ada industri yang sukses tanpa kerja sama dengan sekolah, ini kunci ke depan," kata Ananto.
Ananto disela-sela kegiatan apresiasi SMK link and match dengan industri unggulan dan kompeten di SMKN 26 Pembangunan Jakarta, mengatakan jantung revitalisasi pendidikan vokasi adalah kerja sama dengan dunia usaha atau industri bukan pada kurikulum. "Kerja sama dengan industri kita bisa inline-kan dengan kurikulum kita, kita bisa sertifikasi, siswa kita juga dapat tempat magang serta infrastruktur SMK juga bisa terbantu," tambah dia.
Ia menegaskan bahwa ada tiga hal yang bisa diperankan industri yaitu menjadi tempat akses marketing lulusan SMK, akses sumberdaya serta menjadi akses sumber ilmu pengetahuan dan keterampilan.
Deputi division head enviroment social responsibility PT Astra Internasional Dyah S Febrianti mengatakan perusahaan mengharapkan kerja sama yang lebih intensif dengan Kemendikbud di bidang vokasi.
"Karena Astra punya perhatian besar terhadap vokasi bahkan punya politeknik manufaktur Astra Sejak 1995 yang sampai sekarang menghasilkan profesional yang langsung bisa ke industri," ujar Dyah.
Menurut dia, input PT Astra Internasional paling baik dari SMK dan dari 220 ribu karyawan Astra di seluruh Indonesia banyak yang berangkat dari SMK sehingga Astra punya kepentingan yang besar untuk bisa menyiapkan lulusan SMK yang siap bekerja dengan keterampilan yang memadai.