Loading
Salah satu kegiatan Jambore Penggalang SMPK PENABUR (Net)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - SMPK PENABUR Jakarta kembali menggelar Jambore Penggalang yang rutin diadakan rutin setiap tahun. Jambore kali ini diikuti oleh 17 sekolah dengan 2.372 siswa kelas 7 didampingi 261 guru dan 276 dewan penggalang. Berlangsung pada tanggal 20 & 21 Juni 2019 di Bumi Perkemahan Cibubur.
Jambore Penggalang yang mengusung tema “Merangkul Keragaman” ini diharapkan tidak sekedar melatih kedisiplinan, kemandirian, serta kreativitas, tapi juga tenggang rasa dan kepedulian terhadap keragaman budaya maupun sesama.
Melalui Jambore ini dihadirkan pula kampung mini lengkap dengan ragam budayanya berupa: pakaian adat, makanan khas, tari tradisional, serta kesenian daerah yang dibuat dan diperagakan oleh peserta didik, dari berbagai daerah. Mulai dari Aceh, Yogyakarta, DKI Jakarta, Sulawesi Utara hingga NTT sampai Papua. Kampung mini ini pun bisa dikunjungi masing-masing siswa sekaligus mempelajari kebudayaan yang ada di dalamnya.
Peserta Jambore tidak hanya mempelajari uniknya budaya Indonesia , peserta Jambore Penggalang juga diajarkan untuk mengasah keterampilan kepramukaan, seperti: panorama, tali temali, kompas, sandi, semaphore, dan latihan keterampilan baris-berbaris.
Tak hanya dalam hal kebudayaan dan keterampilan, peserta juga dididik dan diajarkan untuk peduli dan berbagi kepada sesama. Dengan kegiatan berupa mengumpulkan buku untuk disumbangkan kepada Taman Bacaan Sumber Ilmu, berlokasi di Kampung Cidokom, Desa Kopo, Cisarua, Bogor.
Ditemui disela-sela kegiatan, Ketua BPK PENABUR Jakata, Ir. Antono Yuwono, sekaligus Kakak Pembina Upacara Jambore mengatakan, kegiatan Jambore ini merupakan salah satu rencana perubahan besar yang sedang BPK PENABUR laksanakan, dimana masalah tenaga kerja di masa depan memiliki ketidakpastian dan memprihatinkan. Banyak penelitian mengatakan bahwa tahun 2030 semakin banyak otomatisasi terjadi dimana-mana, banyak pekerjaan yang hilang, terjadi destruksi dimana usaha yang baru mengganggu usaha yang sudah mapan dan kebutuhan akan SDM semakin sedikit, tetapi masih banyak peluang di jenis pekerjaan yang lain.
“Setelah kami lakukan banyak studi, seminar dan penelitian yang melibatkan ahli di bidang pendidikan kami menyimpulkan hal utama yang dibutuhkan siswa untuk masa depannya adalah dasar kompentensi, kecerdasan sosial, kemampuan untuk bersosialisasi, kemampuan untuk berkoordinasi dan bekerjasama di lingkungan mereka,” paparnya.
Karenanya, menurut Antono Yuwono, BPK PENABUR lebih menekankan langkah-langkah metode pembelajaran yang bisa membantu siswa mencapai itu lebih baik lagi. Itu semua kita balut dalam kerangka besar keragaman Indonesia. Kita tetap selalu mendengungkan dan membangkitkan kebanggaan dan kecintaan akan Indonesia, menanamkan siswa-siswa untuk selalu bertengang rasa dan berteman dengan latar belakang yang berbeda”, kata Antono.
Lebih lanjut ia menjelaskan, core competence yang terdiri dari kemampuan berpikir kreatif, kritis, kolaborasi dan koordinasi, sangat diperlukan untuk generasi muda jaman now. Formula ini diyakini para pakar pendidikan, menjadi dasar kompentensi dalam mengahadapi masa depan. Untuk itu Pesan yang ingin disampaikan dari kegiatan ini agar seorang siswa yang nanti dewasa bisa atau mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, menanamkan dalam diri mereka untuk memilki life long learner, dengan terus menerus belajar memperbaharui pengetahuan dan yang utama menerapkan core competence yang dibutuhkan di masa depan.
“Nikmati saja kegiatan ini dan mudah-mudahan kakak pembina bisa membantu mengarahkan dan menjelaskan secara langsung kepada peserta Jambore agar kegiatan yang memerlukan jalinan kerjasama dapat berjalan lancar”, ujar Antono Yuwono.
Reporter : Theresia Masang