Loading
Rektor UI Prof Dr Ir Muhammad Anis M Met dan Ketua Dewan Pembina UTA 1945 Rudyono Darsono SH MH (Net)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Pengujian riset yang cermat dan matang, didukung pemanfaatan teknologi, niscaya menghasilkan manfaat bagi banyak orang. Karena pendidikan bisa menjadi solusi atas persoalan yang dihadapi. Utamanya bila penelitian itu dilakukan di tataran pendidikan tinggi.
Karenanya, para kademisi perlu menjalin kemitraan untuk memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa dan negara. "Yang penting terlebih dahulu dilakukan riset yang berkaitan dengan permasalahan tersebut sehingga tindakan mengatasinya benar-benar tepat dan solutif," ungkap Prof Dr Ir Muhammad Anis M Met.
Rektor Universitas Indonesia (UI) itu mengatakan hal tersebut saat penandatanganan nota kesepahaman bersama (MoU) antara UI dengan Universitas 17 Agustus Jakarta (UTA '45) di kampus UI Depok, Selasa (17/9/2019).
Dia menyebutkan bahwa saat ini berbagai permasalahan yang menimbulkan kerumitan mendesak ditanggulangi oleh anak bangsa Indonesia sendiri. Sang rektor universitas ternama Indonesia itu mencontohkan hujan. Pada saat kemarau panjang seperti saat ini sangat dibutuhkan hujan karena begitu banyak warga masyarakat Indonesia yang kesulitan dan membutuhkan air (bersih). Namun kala musim hujan atau tepatnya saat turun hujan deras, maka yang timbul seringkali banjir yang tidak saja menelan korban material tetapi juga nyawa anak bangsa.
“Jika dilakukan riset yang cermat dan matang dan didukung tehnologi, bisa saja permasalahan yang sudah turun temurun ini dapat ditanggulangi. Bahkan dibuat menjadi bermanfaat bagi bangsa Indonesia di mana saja berada,” tuturnya.
Selain soal air hujan yang menimbulkan banjir, Muhammad Anis, juga menilai soal kesehatan masih memerlukan kepedulian dalam hal pelaksanaannya. Dia menyebutkan BPJS tidak sesederhana yang dibayangkan selama ini. “Nah kalau berbagai pihak melakukan riset berkolaborasi berbagai ilmu dan tehnologi niscaya hasilnya akan memberikan manfaat yang lebih banyak bagi masyarakat,” tuturnya.
Muhammad Anis menilai kesepahaman bersama antara UI-UTA 1945 menjadi begitu tepat karena UI yang lahir tahun 1950 menyandang nama negara Indonesia. Sementara itu UTA '45 yang lahir pada tahun 1952 menyandang hari kemerdekaan Indonesia. “Jadi, tepat kalau dua universitas menjalin kesepahaman bersama demi bangsa dan negara,” tuturnya.
Ketua Dewan Pembina UTA '45 Rudyono Darsono SH MH mengaku senang bisa bekerjasama dengan UI yang terbaik di Indonesia. Terutama dalam hal merealisasikan cinta untuk anak bangsa di tengah-tengah bising politik seperti saat ini. “Saya salut dan bangga melihat Pak Rektor (UI) yang mau bekerjasama dengan kami perguruan tinggi swasta yang tengah berjuang mengembalikan kejayaannya sebagai kampus nasionalis,” kata Rudyono Darsono yang didampingi Rektor UTA '45 Dr Virgo Simamora MBA dan civitas akademika perguruan tinggi yang sudah cukup tua itu.
Dia mengungkapkan, tahun 2007 UTA '45 sempat tidak memiliki izin apapun. Namun demikian Rudyono Darsono dengan beberapa dosen serta civitas akademika terus berupaya bangkit dan mendapatkan perizinan. Melihat itu pihak Kopertis sempat menuding mereka sebagai gila karena mengoperasionalkan perguruan tinggi (swasta) tanpa izin.
Saat itu mahasiswa UTA '45 tercatat hanya 300-an. Jika termasuk yang memiliki ijazah UTA '45 tetapi tidak terdaftar di kampus UTA 1945 diperkirakan mencapai 3.000. “Seringkali kami dipaksa bahkan sampai merasa sangat dirugikan saat yang bersangkutan melegalisir ijazah-ijazahnya itu,” cerita Rudyono. Tidak lama kemudian perizinan UTA '45 tiada lagi.
Berkat perjuangan mereka pada 2012 terbit lagi perizinan UTA '45 secara lengkap. Bahkan disusul dengan akreditasi C. Mereka selain memperbaiki kampus juga berupaya keras meningkatkan kesejahteraan karyawan. “Kami tidak ingin mengutarakan lagi kepada karyawan ketidakmampuan membayar gaji mereka,” ujarnya.
Rudyono Darsono menilai terseok-seoknya perjalanan UTA '45 erat kaitannya dengan kondisi politik saat itu. Pengelola mencapuradukkan politik dengan pendidikan. Akibatnya, pendidikan menjadi sulit berkembang apalagi maju.
Saat ini Rudyono Darsono dengan kawan-kawan sudah lebih vokus ke pendidikan. Di kampus yang terletak di belahan Jakarta Utara itu terus menerus dipupuk nasionalisme dan rasa cinta selaku anak bangsa (Indonesia). Taraf pendidikan dosen-dosen terus ditingkatkan sehingga belajar mengajar semakin bermutu di kampus yang terletak di Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara itu, sehingga akreditasinya pun naik menjadi B.
“Bangsa ini butuh peningkatan kesempatan mengenyam pendidikan, butuh bea siswa agar tingkat pendidikan semakin merata dan yang miskin menjadi kaya. Kepedulian kita terhadap pendidikan akan memperbaiki dan meningkatkan SDM, memperbaiki kesejahteraan, menjauhkan gizi buruk yang pada akhirnya menjadikan Indonesia sehat,” tutur Rudyono.
Dia berharap tidak hanya mahasiswa UI dan UTA '45 yang sehat, berpendidikan dan bekerja dengan gaji lumayan. Tetapi juga anak-anak bangsa lainnya. Rudyono mengungkapkan satu desa di Bogor tidak terdapat SDN, melainkan hanya Madrasyah. Dalam kondisi seperti itu dia tidak yakin kalau anak-anak di sana dapat menikmati pendidikan yang baik sebagaimana di Ibukota Jakarta. “Padahal, dekat lho dari Jakarta desa yang tidak memiliki SDN itu. Boleh jadi, tidak hanya di Bogor saja kenyataan-kenyataan menyedihkan seperti itu terjadi. Tetapi kemungkinan besar terjadi atau terdapat di sejumlah desa-desa lainnya di berbagai pelosok di Tanah Air,” ungkapnya.
Dengan kesepahaman bersama tersebut (UI-UTA '45), Rudyono Darsono berharap cinta anak bangsanya (Indonesia) dapat diwujudkan dan direalisasikan lebih luas dan lebih menyentuh lagi bagi anak bangsa yang sangat membutuhkan.
Kesepahaman bersama UI-UTA '45 ini mencakup berbagai bidang. Jika berkaitan dengan pendidikan dan kesehatan maka yang melaksanakannya jurusan atau fakultas yang terkait dengan hal tersebut. Bidang ekonomi pun demikian, pelaksanaan dan pengwujudannya digarap fakultas masing-masing di dua universitas bersangkutan.
“Kami berharap gap yang ada tidak semakin melebar, yang miskin jangan semakin miskin dan banyak. Boleh saja yang kaya semakin kaya tetapi jumlahnya semakin bertambah berasal dari si miskin yang sudah berubah harkat dan martabatnya,” kata Rudyono Darsono.