Selasa, 27 Januari 2026

BPK PENABUR Jakarta Persiapkan Kampanye Budaya Anak Indonesia


 BPK PENABUR Jakarta Persiapkan Kampanye Budaya Anak Indonesia Salah satu atraksi dalam perhelatan Batik Carnival (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Dalam rangka memajukan kebudayaan Indonesia dan memperingati Hari Batik Nasional pada 2 Oktober 2019 lalu, sedianya BPK PENABUR Jakarta akan menyelenggarakan kegiatan Car Free Day “Batik Carnival”. Namun acara ini ditunda pelaksanaannya.

Kegiatan yang sedianya diikuti oleh 862 peserta didik kelas 1 sampai kelas 6 SDK PENABUR Bintaro Jaya ini, sejalan dengan misi pemerintah. 

Adapun tujuan dari kegiatan ini berkaitan dengan Pekan Kebudayaan Nasional yang sebelumnya dilaksanakan pada 7-13 Oktober 2019 sebagai strategi pemajuan kebudayaan di Indonesia. Demikian “Batik Carnival” menyediakan ruang keberagaman ekspresi budaya anak Indonesia, yang selanjutnya diharapkan dapat mengajak masyarakat sekitar untuk bangga dan melestarikan batik sebagai budaya bangsa.

Kepala Sekolah SDK PENABUR Bintaro Jaya, Joko Mulyono mengutarakan bahwa menumbuhkan rasa cinta peserta didik dan masyarakat akan batik sebagai hasil budaya Bangsa Indonesia perlu didukung oleh pemerintah. “Misalnya dengan diadakan Pekan Kebudayaan Nasional ataupun kegiatan-kegiatan lain bertemakan batik,” ujarnya.

Ragam permainan tradisional, alat musik angklung, serta tarian tradisional jaranan telah disiapkan untuk ditampilkan di acara pawai. Ikon Garuda Pancasila Bhinneka Tunggal Ika serta hasil karya batik peserta didik yang terlukiskan pada kaos serta kain sepanjang 30 meter pun ikut dipertunjukan. Tak lupa, acara ini didukung oleh para orangtua peserta didik yang ikut mendampingi para putra-putrinya mengkampanyekan kebudayaan Indonesia di sepanjang jalan car free day.

Batik pertama kali diperkenalkan kepada dunia internasional oleh Presiden Soeharto saat mengikuti konferensi PBB. Batik Indonesia didaftarkan untuk mendapat status intangible cultural heritage (ICH) melalui kantor UNESCO di Jakarta oleh kantor Menko Kesejahteraan Rakyat mewakili pemerintah dan komunitas batik Indonesia, pada 4 September 2008. Pengajuan itu pun membuahkan hasil bagi pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

Pada 9 Januari 2009, pengajuan batik untuk Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi UNESCO diterima secara resmi.

Batik dikukuhkan pada sidang keempat Komite Antar-Pemerintah tentang Warisan Budaya Nonbendawi yang diselenggarakan UNESCO di Abu Dhabi pada 2 Oktober 2009.
Pada sidang tersebut batik resmi terdaftar sebagai Warisan Kemanusiaan Karya Agung Budaya Lisan dan Nonbendawi di UNESCO. Sebelumnya selain batik, UNESCO juga sudah mengakui keris dan wayang sebagai Warisan Kemanusiaan Karya Agung Budaya Lisan dan Nonbendawi .


Penulis : Maria L Martens

Berita Scholae Terbaru