Loading
Praktisi pendidikan, Najelaa Shihab (Net)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Para praktisi pendidikan terus mendengungkan program-program pengajaran yang ideal. Tujuannya, agar para guru yang mengajar, terus mengembangkan kemampuan dan mutunya. Sehingga berdampak pada peserta didiknya yang menjadi pembinaannya.
Pengumuman susunan Kabinet Indonesia Maju pada Rabu (23/10) lalu menampilkan beragam hal yang menarik. Salah satunya adalah terpilihnya Nadiem Makarim, yang merupakan seorang profesional muda, sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Dalam pidato pertamanya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia periode 2019-2024, Nadiem Makarim mengatakan, “Harapan saya adalah untuk menciptakan suatu pendidikan berbasis kompetensi dan karakter, karena itu luar biasa pentingnya untuk kita.”
Lalu seperti apa pendidikan yang berbasis kompetensi dan karakter yang dimaksud?
Praktisi pendidikan, Najelaa Shihab mengatakan bahwa kompetensi dalam pendidikan bukan hanya sekedar menjawab soal ujian, tapi juga kemampuan murid untuk melakukan aksi, mendemonstrasikan apa yang sudah dipelajari dalam berbagai situasi yang baru, memecahkan permasalahan dalam kehidupan. Dalam melaksanakan pembelajaran, murid akan melakukan serangkaian tahapan, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi yang mendorong keterampilan berpikir murid di dalamnya.
“Dalam pendidikan yang berbasis kompetensi, setiap kompetensi nantinya akan mengandung banyak dimensi. Tidak seperti sebelumnya yang hanya mengandung satu dimensi di mana murid hanya perlu menghafalkan materi dan menyebutkan kembali saat ujian. Untuk mencapai kompetensi, nantinya murid juga tetap harus menguasai materi, memiliki pengetahuan dasar, dan punya pemahaman esensial, sebelum melangkah dan mempraktikkan apa yang diketahui dan dipahaminya dalam dunia nyata,” jelas Najelaa.
Bagi Najelaa Shihab, yang telah aktif dalam dunia pendidikan selama lebih dari 20 tahun, karakter merupakan bagian yang sangat penting dari pengembangan kompetensi karena akan menjadi dasar bagi murid untuk dapat menerapkan kompetensinya di mana saja.
“Anda bisa bayangkan pengalaman kita di sekolah dulu, karakter dalam bentuk nilai-nilai Pancasila dan agama biasanya hanya ditampilkan dalam bentuk ceramah, dan biasanya hanya menjadi sesuatu yang bisa dijawab dengan sempurna di lembar kerja siswa atau pada saat ujian saja. Tapi, belum tentu muncul dalam bentuk perilaku sehari-hari di sekolah ataupun sesuatu yang bisa ditransfer di rumah,” papar Najelaa.
Bagi Najelaa, pendidikan yang berbasis kompetensi itu berorientasi pada keinginan untuk meningkatkan standar pencapaian. Bukan hanya sekedar hafalan, tapi juga sampai pada pemahaman dan kemampuan mempraktikkan. “Itulah karakter sesungguhnya yang akan mendorong anak untuk mempunyai kompetensi-kompetensi lainnya,” tegas Najelaa, yang juga pendiri Rumah Main Cikal, Sekolah Cikal, dan Kampus Guru Cikal.
Najelaa bersama Cikal, sebagai komunitas pelajar sepanjang hayat, telah mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi dan karakter yang disebut Kompetensi 5 Bintang Cikal. Kurikulum ini ditujukan untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi masa depan.
“Sekolah bukan hanya untuk sekedar sekolah saja, tapi bagaimana kesuksesan di sekolah itu jadi bekal untuk anak-anak sukses dalam kehidupan di masa depan nanti,” tutup Najelaa Shihab.