Selasa, 27 Januari 2026

Permudah Riset, Kemendikbud Luncurkan Aplikasi Sikoper


 Permudah Riset, Kemendikbud Luncurkan Aplikasi Sikoper Kemendikbud Luncurkan Aplikasi Sikoper (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Pemerintah terus mendorong para peneliti untuk melakukan kajian keilmuan. Salah satunya melalui penjelajahan lliterasi. Bahan bacaan ini, menjadi unsur utama dalam mendukung sebuah riset yang dilakukan. Misalnya kajian di bidang bidang pendidikan, kebudayaan, bahasa, atau arkeologi.

Namun tak cuma untuk kepentingan penelitian, masyarakat pun perlu didorong pula untuk menumbuhkan kegemaran membaca. Selama ini, masyarakat lebih banyak melakukan aktivitas berselancar buku dengan memanfaatkan gawai yang dimiliki. Pola masyarakat dalam mencari koleksi perpustakaan juga sudah mulai dipermudah dengan hanya memasukkan kata kunci yang diinginkan.

Menanggapi tren yang berkembang ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan peluncuran layanan Sikoper atau Sistem Integrasi Koleksi Perpustakaan Kemendikbud, Senin (25/11).

Peluncuran dilakukan oleh Sekrataris Jenderal Kemendikbud, Didik Suhardi, didampingi Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM), Ade Erlangga Masdiana di Ruang Perpustakaan Dikbud, Gedung A, Senayan, Jakarta.

Sikoper merupakan layanan yang dikembangkan Perpustakaan Kemendikbud berupa kemudahan mengakses seluruh koleksi perpustakaan dan bahan publikasi yang tersebar di seluruh unit utama dan satuan kerja di lingkungan Kemendikbud. Melalui Sikoper, seluruh koleksi tersebut terintegrasi dengan baik dan dapat diakses degan mudah oleh seluruh pemustaka.   

“Melalui sikoper, pemustaka di seluruh Indonesia dapat memeroleh informasi mengenai koleksi perpustakaan Kemendikbud,” ujar Ade Erlangga saat ditemui usai pembukaan Pekan Perpustakaan Kemendikbud 2019.

Ia menambahkan, kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memungkinkan pengintegrasian koleksi perpustakaan Kemendikbud yang jumlahnya lebih dari ratusan ribu koleksi. Di dalam Sikoper terdiri atas kolaborasi koleksi perpustakaan, mulai dari koleksi perpustakaan tercetak yang terhimpun dalam katalog induk perpustakaan Kemendikbud dengan menggunakan sistem otomasi perpustakaan Slims (Senayan Library Management System), koleksi dalam bentuk digital yang dikelola oleh 120 satuan kerja di dalam Repositori Institusi Kemendikbud, dan koleksi ribuan artikel di dalam 46 jurnal ilmiah terbitan Kemendikbud yang dikelola menggunakan Open Journal System (OJS).

“Dengan layanan ini tentu dapat memudahkan bagi mereka yang ingin melakukan riset di bidang pendidikan, kebudayaan, bahasa, atau arkeologi, karena semua jurnal yang diterbitkan Kemendikbud dapat ditemukan di Perpustakaan Kemendikbud,” tutur Ade Erlangga.

Lebih lanjut Ade Erlangga mengungkapkan bahwa perpustakaan masa depan bisa jadi berbeda dari perpustakaan saat ini. Masyarakat akan dimudahkan untuk berselancar buku hanya dengan memanfaatkan gawai yang dimiliki. Pola masyarakat dalam mencari koleksi perpustakaan juga sudah mulai dipermudah dengan hanya memasukkan kata kunci yang diinginkan. “Dulu modelnya masih manual, belum ada koding-koding atau semacamnya yang memudahkan dalam pencarian koleksi perpustakaan yang diinginkan. Saat ini pencairan dapat dilakukan dengan sangat mudah,” katanya.

Fungsi perpustakaan, tambah Ade Erlangga, juga berkembang. Bukan saja sebagai tempat mencari dan membaca buku yang diinginkan, tetapi juga sebagai tempat hiburan, diskusi, bahkan bisnis. “Keberadaan perpustakaan juga saat ini tidak melulu di perkantoran, tetapi di tempat publik lainnya, seperti rumah makan, stasiun, bandara, dan tempat-tempat lainnya,” imbuhnya.

Penulis : Maria L Martens

Berita Scholae Terbaru