Selasa, 27 Januari 2026

Dosen dan Mahasiswa UTA 45 Jakarta Berikan Penyuluhan soal Penyakit Ginjal Kronis dan Sifat Kimia Obat


 Dosen dan Mahasiswa UTA 45 Jakarta Berikan Penyuluhan soal Penyakit Ginjal Kronis dan Sifat Kimia Obat Ilustrasi: Ginjal adalah organ ekskresi dalam vertebrata yang berbentuk mirip kacang. (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Dosen dan Mahasiswa Farmasi Universitas 17 Agutus 1945 Jakarta mengadakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) secara webinar soal penyakit Ginjal Kronis dan Sifat Kimia Obat kepada 50 warga Sunter, Jakarta Utara dan kisaran usianya 25-60 tahun belum lama ini dan menghadirkan pembicara Apoteker Rangki Astiani dan Apt Wahidin.

Sasaran dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah masyarakat umum dengan persentase peserta laki-laki sebanyak 50% dan perempuan sebanyak 50%.

 

Apoteker Rangki Astiani dalam paparannya mengatakan  Ginjal merupakan organ yang berperan dalam proses penyaringan darah. Ginjal memiliki kontribusi yang penting dalam pengeluaran produk hasil metabolisme yang tidak dibutuhkan lagi selain fungsinya dalam mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh (Kelly, 2005).

 

Ginjal adalah organ ekskresi dalam vertebrata yang berbentuk mirip kacang. Sebagai bagian dari sistem urin, ginjal berfungsi menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin.


Kedua ginjal manusia mengandung kira-kira 2.400.000 nefron, dan tiap - tiap nefron dapat membentuk urine sendiri. Pada dasarnya nefron terdiri dari suatu glomerulus dimana cairan difiltrasikan dan suatu tubulus panjang tempat cairan yang difiltrasikan tersebut diubah menjadi urine dalam perjalanan pelvis ginjal

Lebih lanjut Apoteker Rangki Astiani menambahkan untuk itu kenali lebih jauh tentang jenis obat yang bersifat nefrotoksik dan cara meminimalkan risikonya berikut ini.

“Ginjal memainkan peran penting dalam tubuh manusia. Berbagai fungsi ginjal antara lain: Detoksifikasi, Pengaturan cairan ekstraseluler, Homeostasis, Pengeluaran hasil metabolisme yang beracun bagi tubuh, beberapa jenis obat bisa bersifat nefrotoksik. Artinya, obat tersebut dapat memengaruhi kerja ginjal, entah itu penurunan fungsi atau, yang terberat, kerusakan ginjal,”paparnya.

Obat-obat tersebut kata dia adalah:

1. Aminoglikosida

Aminoglikosida adalah obat golongan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri tertentu. Kelompok ini termasuk obat nefrotoksik yang berpotensi merusak fungsi ginjal.Aminoglikosida bisa menyebabkan kerusakan pada tubulus ginjal sehingga tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Tubulus ginjal sendiri berfungsi mengangkut cairan tubuh dan darah menuju ginjal. 

2. NSAID

Ibuprofen termasuk salah satu obat NSAIDObat jenis nonsteroid anti-inflammatory drugs (NSAID) adalah obat yang cukup familier untuk mengatasi peradangan, demam, hingga nyeri. Meski begitu, konsumsi jangka panjang tanpa pengawasan dokter juga dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Dalam hal ini, NSAID seperti diklofenak, bisa menyebabkan penurunan tekanan intraglomerulus yang berperan mempertahankan filtrasi glomerulus. Artinya, ini akan memengaruhi fungsi ginjal dalam hal penyaringan.Akibatnya, glomerulus tidak bisa bekerja dengan maksimal. Beberapa contoh obat golongan NSAID, antara lain ibuprofen, naproxen, celecoxib, dan aspirin.

3. Antiretroviral

Antiretroviral adalah obat yang bisa digunakan untuk mengatasi HIV. Obat ini juga tergolong obat nefrotoksik yang berisiko merusak ginjal. Obat jenis antiretroviral berisiko merusak tubulus ginjal. Padahal, tubulus ginjal berfungsi menghilangkan limbah dari tubuh, termasuk sisa metabolisme dan obat-obatan.

4. Hydralazine

Hydralazine adalah obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Obat ini disebut juga vasodilator karena mampu merelaksasi pembuluh darah. Dengan begitu, aliran darah lebih lancar. Obat jenis ini juga termasuk obat-obatan nefrotoksik. Hydralazine bisa menyebabkan peradangan pada glomerulus (saringan kecil di ginjal). Kondisi ini bisa menyebabkan glomerulonefritis.

5. Allopurinol

Obat untuk asam urat juga dapat bersifat nefrotoksikAllopurinol dikenal sebagai obat asam urat. Obat ini juga dapat digunakan untuk mencegah penyakit asam urat atau gout. Allopurinol juga termasuk golongan obat nefrotoksik. Obat jenis ini bisa menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada ginjal atau disebut dengan nefritis interstisial. Konsumsi allopurinol tanpa pengawasan bisa membuat kondisi tersebut berkembang menjadi penyakit ginjal.  

6. Sulfonamida

Sulfonamida, disebut juga obat sulfa, adalah obat yang mampu mengatasi infeksi bakteri. Konsumsi jenis obat ini juga bisa memicu timbulnya nefrotoksisitas. Sulfonamida bisa menghasilkan kristal yang tidak larut dalam urine dan mengendap di tubulus ginjal distal. Kondisi ini disebut dengan nefropati kristal yang menyebabkan jaringan parut hingga penyumbatan di ginjal.

7. Ticlopidine

Ticlopidine adalah obat yang mampu mencegah penggumpalan darah. Jenis obat ini juga diketahui memiliki efek nefrotoksik yang mampu memengaruhi fungsi ginjal.Ticlopidine bisa menyebabkan mikroangiopati trombotik berupa kerusakan endotel vaskuler di ginjal. Kondisi ini disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh yang dipicu oleh obat jenis ini.

8. Statin

Statin dikenal sebagai obat penurun kolesterol, sekaligus menurunkan risiko serangan jantung dan stroke. Namun, penggunaan jangka panjang statin diketahui memiliki efek samping, salah satunya gangguan ginjal.  Jenis obat ini bisa menyebabkan rhabdomyolysis. Artinya, obat-obatan jenis statin dapat menyebabkan kerusakan otot rangka yang berdampak pada pelepasan mioglobin. Mioglobin inilah yang bisa memicu kerusakan ginjal dan penyumbatan tubulus. Meski beberapa jenis obat di atas dapat memengaruhi fungsi ginjal, Anda tidak bisa begitu saja menghentikan konsumsinya jika dalam perawatan. Dokter biasanya telah mempertimbangkan risiko efek samping dan manfaat yang bisa Anda dapatkan dari konsumsi obat tertentu.

 

Pada acara tersebut dilakukan dalam beberapa sesi. Sesi pertama dimulai dengan pemutaran video promosi UTA’45, pembukaan dan pengisian absensi ke-1, sambutan, pelaksanaan  pre-test, pemaparan Materi, sesi tanya jawab, pelaksanaan post-test, kuis, pengisian absensi ke-2, penutup dan sesi dokumentasi.

 Jadi Agen Perubahan

Para peserta menjadi semangat untuk menjadi agen perubahan dalam cara meningkatkan kepedulian masyarakat akan pentingya kesehatan khususnya terhadap Hipertensi. Selama ini mereka belum memahami bagaimana cara mengenali, mengatasi dan menyadari penyakit hipertensi. Oleh karena itu, mereka semangat dalam mengikuti kegiatan ini. Setelah acara tanya jawab dilakukan, maka kegiatan berikutnya adalah pengisian post-test untuk melihat seberapa jauh pengetahuan yang telah didapat oleh peserta selama webinar berlangsung. Setelah pengisian post test dilakukan sesi kuis dan pemberian doorprize kepada peserta yang dapat menjawab pertanyaan. Dan terakhir dilakukan sesi dokumentasi dan foto bersama.

 Adapun daftar nama dosen dan Mahasiswa Farmasi Universitas 17 Agutus 1945 Jakarta yangmengikuti dan mengadakan pengabdian kepada masyarakat secara offline:

NO

DOSEN PEMBIMBING

JABATAN

1

Rangki Astiani, S,Farm, M.Farm, Apt

Dosen Pembimbung (narasumber) ketua pelaksana

2

Drs. Wahidin, M.Si, Apt.

Narasumber, panitia pelaksana

 

No

Nama Tim Pelaksana

Jabatan

NPM

1

Syahrina Aulia

Mahasiswa

1843050002

2

Elvira Potoboda

Mahasiswa

1843050010

3

Nona Ainah

Mahasiswa

1843050014

4

Risma Adilah Alhajami

Mahasiswa

1843050021

5

Lia Waroka Manurung

Mahasiswa

1843050028

6

Diandra Garneta Putri

Mahasiswa

1843050049

7

Rifdah Syahla Zulfa

Mahasiswa

1843050054

8

Nadia Mahmudah

Mahasiswa

1843050055

9

Agnez Sohilait

Mahasiswa

1843050057

10

Anisa Dita Ikrana

Mahasiswa

1843050058

11

Ainun Siti Aisyah

Mahasiswa

1843050064

12

Ayu Novita Sari

Mahasiswa

1843050069

13.

Gena Nafta Araminda

Mahasiswa

1843050070

14

Nuril Islami

Mahasiswa

1843050090

 

 

Editor : Farida Denura
Penulis : Farida Denura

Berita Scholae Terbaru