Loading
Ilustrasi: Ginjal adalah organ ekskresi dalam vertebrata yang berbentuk mirip kacang. (Net)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Dosen dan Mahasiswa Farmasi Universitas 17 Agutus 1945 Jakarta mengadakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) secara webinar soal penyakit Ginjal Kronis dan Sifat Kimia Obat kepada 50 warga Sunter, Jakarta Utara dan kisaran usianya 25-60 tahun belum lama ini dan menghadirkan pembicara Apoteker Rangki Astiani dan Apt Wahidin.
Sasaran dalam kegiatan
pengabdian masyarakat ini adalah masyarakat umum dengan persentase peserta
laki-laki sebanyak 50% dan perempuan sebanyak 50%.
Apoteker Rangki
Astiani dalam paparannya mengatakan Ginjal merupakan organ yang berperan dalam proses penyaringan
darah. Ginjal memiliki kontribusi yang penting dalam pengeluaran produk hasil
metabolisme yang tidak dibutuhkan lagi selain fungsinya dalam mengatur
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh (Kelly, 2005).
Ginjal adalah organ
ekskresi dalam vertebrata yang berbentuk mirip kacang. Sebagai bagian dari
sistem urin, ginjal berfungsi menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan
membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin.
Kedua ginjal manusia mengandung kira-kira 2.400.000
nefron, dan tiap - tiap nefron dapat membentuk urine sendiri. Pada dasarnya
nefron terdiri dari suatu glomerulus dimana cairan difiltrasikan dan suatu
tubulus panjang tempat cairan yang difiltrasikan tersebut diubah menjadi urine
dalam perjalanan pelvis ginjal
Lebih lanjut Apoteker Rangki Astiani menambahkan untuk
itu kenali lebih jauh tentang jenis obat yang bersifat nefrotoksik dan cara
meminimalkan risikonya berikut ini.
“Ginjal memainkan peran penting dalam tubuh manusia.
Berbagai fungsi ginjal antara lain: Detoksifikasi, Pengaturan cairan
ekstraseluler, Homeostasis, Pengeluaran hasil metabolisme yang beracun bagi
tubuh, beberapa jenis obat bisa bersifat nefrotoksik. Artinya, obat tersebut
dapat memengaruhi kerja ginjal, entah itu penurunan fungsi atau, yang terberat,
kerusakan ginjal,”paparnya.
Obat-obat tersebut kata dia adalah:
1. Aminoglikosida
Aminoglikosida adalah obat golongan antibiotik untuk
mengobati infeksi bakteri tertentu. Kelompok ini termasuk obat nefrotoksik yang
berpotensi merusak fungsi ginjal.Aminoglikosida bisa menyebabkan kerusakan pada
tubulus ginjal sehingga tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Tubulus
ginjal sendiri berfungsi mengangkut cairan tubuh dan darah menuju ginjal.
2. NSAID
Ibuprofen termasuk salah satu obat NSAIDObat jenis
nonsteroid anti-inflammatory drugs (NSAID) adalah obat yang cukup familier
untuk mengatasi peradangan, demam, hingga nyeri. Meski begitu, konsumsi jangka
panjang tanpa pengawasan dokter juga dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal.
Dalam hal ini, NSAID seperti diklofenak, bisa menyebabkan penurunan tekanan
intraglomerulus yang berperan mempertahankan filtrasi glomerulus. Artinya, ini
akan memengaruhi fungsi ginjal dalam hal penyaringan.Akibatnya, glomerulus
tidak bisa bekerja dengan maksimal. Beberapa contoh obat golongan NSAID, antara
lain ibuprofen, naproxen, celecoxib, dan aspirin.
3. Antiretroviral
Antiretroviral adalah obat yang bisa digunakan untuk
mengatasi HIV. Obat ini juga tergolong obat nefrotoksik yang berisiko merusak
ginjal. Obat jenis antiretroviral berisiko merusak tubulus ginjal. Padahal,
tubulus ginjal berfungsi menghilangkan limbah dari tubuh, termasuk sisa
metabolisme dan obat-obatan.
4. Hydralazine
Hydralazine adalah obat yang digunakan untuk
menurunkan tekanan darah tinggi. Obat ini disebut juga vasodilator karena mampu
merelaksasi pembuluh darah. Dengan begitu, aliran darah lebih lancar. Obat
jenis ini juga termasuk obat-obatan nefrotoksik. Hydralazine bisa menyebabkan
peradangan pada glomerulus (saringan kecil di ginjal). Kondisi ini bisa
menyebabkan glomerulonefritis.
5. Allopurinol
Obat untuk asam urat juga dapat bersifat
nefrotoksikAllopurinol dikenal sebagai obat asam urat. Obat ini juga dapat
digunakan untuk mencegah penyakit asam urat atau gout. Allopurinol juga
termasuk golongan obat nefrotoksik. Obat jenis ini bisa menyebabkan peradangan
dan pembengkakan pada ginjal atau disebut dengan nefritis interstisial.
Konsumsi allopurinol tanpa pengawasan bisa membuat kondisi tersebut berkembang
menjadi penyakit ginjal.
6. Sulfonamida
Sulfonamida, disebut juga obat sulfa, adalah obat yang
mampu mengatasi infeksi bakteri. Konsumsi jenis obat ini juga bisa memicu
timbulnya nefrotoksisitas. Sulfonamida bisa menghasilkan kristal yang tidak
larut dalam urine dan mengendap di tubulus ginjal distal. Kondisi ini disebut
dengan nefropati kristal yang menyebabkan jaringan parut hingga penyumbatan di
ginjal.
7. Ticlopidine
Ticlopidine adalah obat yang mampu mencegah
penggumpalan darah. Jenis obat ini juga diketahui memiliki efek nefrotoksik
yang mampu memengaruhi fungsi ginjal.Ticlopidine bisa menyebabkan
mikroangiopati trombotik berupa kerusakan endotel vaskuler di ginjal. Kondisi
ini disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh yang dipicu oleh obat jenis
ini.
8. Statin
Statin dikenal sebagai
obat penurun kolesterol, sekaligus menurunkan risiko serangan jantung dan
stroke. Namun, penggunaan jangka panjang statin diketahui memiliki efek
samping, salah satunya gangguan ginjal.
Jenis obat ini bisa menyebabkan rhabdomyolysis. Artinya, obat-obatan
jenis statin dapat menyebabkan kerusakan otot rangka yang berdampak pada
pelepasan mioglobin. Mioglobin inilah yang bisa memicu kerusakan ginjal dan
penyumbatan tubulus. Meski beberapa jenis obat di atas dapat memengaruhi fungsi
ginjal, Anda tidak bisa begitu saja menghentikan konsumsinya jika dalam
perawatan. Dokter biasanya telah mempertimbangkan risiko efek samping dan
manfaat yang bisa Anda dapatkan dari konsumsi obat tertentu.
Pada acara tersebut dilakukan dalam beberapa sesi. Sesi pertama dimulai dengan pemutaran video promosi UTA’45, pembukaan dan pengisian absensi ke-1, sambutan, pelaksanaan pre-test, pemaparan Materi, sesi tanya jawab, pelaksanaan post-test, kuis, pengisian absensi ke-2, penutup dan sesi dokumentasi.
Jadi Agen Perubahan
Para peserta menjadi semangat untuk menjadi agen perubahan dalam cara meningkatkan kepedulian masyarakat akan pentingya kesehatan khususnya terhadap Hipertensi. Selama ini mereka belum memahami bagaimana cara mengenali, mengatasi dan menyadari penyakit hipertensi. Oleh karena itu, mereka semangat dalam mengikuti kegiatan ini. Setelah acara tanya jawab dilakukan, maka kegiatan berikutnya adalah pengisian post-test untuk melihat seberapa jauh pengetahuan yang telah didapat oleh peserta selama webinar berlangsung. Setelah pengisian post test dilakukan sesi kuis dan pemberian doorprize kepada peserta yang dapat menjawab pertanyaan. Dan terakhir dilakukan sesi dokumentasi dan foto bersama.
Adapun daftar nama dosen dan Mahasiswa Farmasi Universitas 17 Agutus 1945 Jakarta yangmengikuti dan mengadakan pengabdian kepada masyarakat secara offline:
|
NO |
DOSEN PEMBIMBING |
JABATAN |
|
1 |
Rangki Astiani, S,Farm, M.Farm,
Apt |
Dosen Pembimbung (narasumber) ketua pelaksana |
|
2 |
Drs. Wahidin, M.Si, Apt. |
Narasumber, panitia pelaksana |
|
No |
Nama Tim Pelaksana |
Jabatan |
NPM |
|
1 |
Syahrina Aulia |
Mahasiswa |
1843050002 |
|
2 |
Elvira Potoboda |
Mahasiswa |
1843050010 |
|
3 |
Nona Ainah |
Mahasiswa |
1843050014 |
|
4 |
Risma Adilah Alhajami |
Mahasiswa |
1843050021 |
|
5 |
Lia Waroka Manurung |
Mahasiswa |
1843050028 |
|
6 |
Diandra Garneta Putri |
Mahasiswa |
1843050049 |
|
7 |
Rifdah Syahla Zulfa |
Mahasiswa |
1843050054 |
|
8 |
Nadia Mahmudah |
Mahasiswa |
1843050055 |
|
9 |
Agnez Sohilait |
Mahasiswa |
1843050057 |
|
10 |
Anisa Dita
Ikrana |
Mahasiswa |
1843050058 |
|
11 |
Ainun Siti Aisyah |
Mahasiswa |
1843050064 |
|
12 |
Ayu Novita Sari |
Mahasiswa |
1843050069 |
|
13. |
Gena Nafta Araminda |
Mahasiswa |
1843050070 |
|
14 |
Nuril Islami |
Mahasiswa |
1843050090 |