Loading
Prasetiya Mulya dan ITB Jalin Kerja Sama Strategis. (Antaranews)
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Universitas Prasetiya Mulya dan Institut Teknologi Bandung (ITB) resmi menjalin kerja sama strategis dalam bidang pendidikan tinggi, riset, dan pengembangan teknologi, khususnya di sektor STEM (science, technology, engineering, mathematics).
Kesepakatan ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) oleh Rektor Universitas Prasetiya Mulya Dr. Hassan Wirajuda dan Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara di Gedung Rektorat ITB, Kamis (29/5), disaksikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto.
“Kerja sama ini menjadi dasar kokoh untuk mendorong sinergi antarlembaga, tidak hanya dalam riset dan pengabdian masyarakat, tapi juga pengembangan program joint degree, dual degree, hingga program multidisiplin internasional,” ujar Hassan.
Hassan Wirajuda mengungkapkan kerja sama antara Prasetiya Mulya dan ITB ini untuk mendorong sinergi dengan semangat Human Technology Companionship yang lebih erat, dan MoU yang ditandatangani memberikan landasan hukum yang kokoh bagi pelaksanaan kerja sama antara kedua institusi.
"Kerja sama ini mencakup tidak hanya kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga yang tak kalah penting, yaitu kemitraan strategis dalam bentuk program joint degree dan atau dual degree baik untuk program sarjana maupun magister serta program internasional dan multidisciplinary graduate program," kata Hassan dikutip Antara.
Mantan Menteri Luar Negeri itu mengungkapkan penelitian dan pengembangan pengabdian kepada masyarakat antara perguruan tinggi khususnya di bidang teknologi di era transformasi digital saat ini merupakan satu keniscayaan bagi pemajuan teknologi digital di Indonesia.
Oleh karena itu, Hassan agak menyayangkan pembangunan transformasi digital tidak disebut secara eksplisit sebagai salah satu dari tujuh fokus area pembangunan Indonesia jangka panjang 2025-2045 seperti diatur dalam Undang-Undang nomor 59 tahun 2024. Melainkan hanya disebut dalam pembangunan ekonomi berbasis potensi domestik dan sub-pembangunan ekonomi digital dan hijau.
"Menyadari kekurangan kita dan memahami kemajuan teknologi informasi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sangat cepat. Pemerintah perlu mempertimbangkan pembangunan transformasi digital sebagai satu sektor tersendiri. Ketertinggalan Indonesia dalam industri semikonduktor misalnya, sangat mencolok di ASEAN, kita menempati posisi kelima di bawah Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura," ujarnya.
Sementara Prof Tatacipta Dirgantara mengungkapkan kolaborasi ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah konkret untuk membangun sinergi yang saling mengisi antar institusi.
"ITB senantiasa berupaya mengembangkan program yang baru, multidisiplin, dan relevan dengan zaman. Kerja sama ini diharapkan menjadi bentuk gotong royong yang saling menguatkan perjalanan akademik kedua institusi," ujarnya.
Kerja sama ini, kata Tata, dengan kolaborasi pendidikan tingkat sarjana, magister, serta doktoral, juga untuk penguatan bidang-bidang multidisiplin berbasis teknologi guna mengejar ketertinggalan Indonesia.
Sementara itu Mendiktisaintek Brian Yuliarto turut mengapresiasi inisiatif ini yang disebutnya sebagai terobosan penting dalam mencetak SDM unggul. Mengingat untuk bisa menjadi negara produktif, pendidikan adalah kunci perubahan sosial dan universitas memiliki peran vital dalam membangun bangsa melalui riset dan inovasi.
"Generasi muda dan perguruan tinggi harus menjadi lokomotif perubahan. Semoga kolaborasi ini memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi kemajuan bangsa,” ucapnya.
Secara detail, MoU ini mencakup integrasi program sarjana dan pascasarjana, serta pengembangan bersama dalam bidang seperti AI & Robotics, Semiconductor, Big Data, Product Design, Innovative Food Technologies, Business Design & Analytics, Entrepreneurship, Renewable Energy, dan bidang rekayasa lainnya. Program-program kolaboratif seperti International Undergraduate Program (IUP) dan Fast-Track S1-S2 juga direncanakan akan dimulai pada tahun akademik 2026.
Kolaborasi ini melanjutkan kerja sama sebelumnya antara ITB dan Universitas Prasetiya Mulya dalam Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) yang melibatkan 13 universitas, yang bertujuan mengembangkan SDM dan teknologi semikonduktor di Indonesia.