Harvard Kembali Jadi Kampus Impian Nomor 1, tapi Biaya Kuliah Bikin Galau Calon Mahasiswa


 Harvard Kembali Jadi Kampus Impian Nomor 1, tapi Biaya Kuliah Bikin Galau Calon Mahasiswa Harvard kembali jadi kampus impian nomor 1 dunia menurut survei terbaru. (Net)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Universitas Harvard kembali mengukuhkan posisinya sebagai kampus impian nomor satu bagi calon mahasiswa di seluruh dunia. Dalam survei terbaru yang dirilis oleh The Princeton Review, nama Harvard paling banyak disebut sebagai tujuan kuliah idaman, mengalahkan berbagai universitas top lainnya.

Padahal, dalam beberapa waktu terakhir, Harvard sempat berada di tengah sorotan akibat konflik dengan pemerintah federal Amerika Serikat. Namun menariknya, hal itu tidak terlalu berdampak pada reputasi kampus elite tersebut.

Sebaliknya, daya tarik Harvard justru tetap kuat. Ribuan calon mahasiswa masih berlomba-lomba untuk bisa diterima di universitas yang dikenal sebagai bagian dari Ivy League ini.

Reputasi Tetap Kuat Meski Diterpa Isu

Meski menghadapi tekanan, termasuk gugatan dari pemerintah terkait proses penerimaan mahasiswa, Harvard tetap mempertahankan citra prestisiusnya.

Menurut Robert Franek dari The Princeton Review, perhatian publik yang meningkat justru tidak merusak citra Harvard. “Eksposur yang tinggi terhadap Harvard tidak mengurangi kekuatan mereknya,” ujarnya.

Akibat tingginya minat, tingkat penerimaan mahasiswa baru semakin ketat. Untuk angkatan 2029, tingkat penerimaan Harvard bahkan turun di bawah 4 persen—jauh lebih rendah dibandingkan dua dekade lalu yang masih di atas 10 persen.

Biaya Kuliah Jadi Kekhawatiran Utama

Di balik popularitas tersebut, ada satu faktor besar yang membuat calon mahasiswa dan orang tua berpikir dua kali: biaya kuliah.

Survei yang sama menemukan bahwa “kejutan biaya” menjadi sumber stres terbesar dalam perencanaan pendidikan tinggi. Biaya kuliah di banyak universitas top kini mendekati angka fantastis, bahkan bisa mencapai hampir enam digit dolar per tahun jika digabung dengan biaya hidup, buku, dan kebutuhan lainnya.

Dikutip dari CNBC, biaya pendidikan tinggi telah melonjak hingga 914% sejak tahun 1983—angka yang jauh melampaui kenaikan biaya kebutuhan rumah tangga lainnya.

Kondisi ini membuat banyak keluarga harus menyusun strategi matang sebelum menentukan pilihan kampus.

Utang Mahasiswa Terus Membengkak

Karena mahalnya biaya pendidikan, sebagian besar mahasiswa akhirnya mengandalkan pinjaman. Dampaknya, utang pendidikan meningkat drastis hingga 343% dalam dua dekade terakhir.

Bahkan, mayoritas lulusan mengaku bahwa utang tersebut membuat mereka menunda berbagai rencana hidup, seperti membeli rumah atau memulai karier.

Bantuan Keuangan Jadi Penentu

Meski mahal, universitas seperti Harvard sebenarnya menawarkan bantuan keuangan besar bagi mahasiswa yang memenuhi syarat. Bahkan, untuk keluarga dengan pendapatan tertentu, biaya kuliah bisa sepenuhnya ditanggung.

Namun, berbeda dengan banyak kampus lain, Harvard tidak memberikan beasiswa berbasis prestasi. Fokus mereka adalah pada bantuan berbasis kebutuhan finansial.

Hal ini membuat calon mahasiswa harus benar-benar mempertimbangkan paket bantuan yang ditawarkan sebelum mengambil keputusan.

Kuliah Kini Jadi Keputusan Finansial

Tren terbaru menunjukkan bahwa calon mahasiswa dan orang tua kini semakin rasional dalam memilih kampus. Mereka tidak hanya melihat reputasi, tetapi juga mempertimbangkan nilai investasi (return on investment/ROI) dari pendidikan tersebut.

Faktor seperti jurusan, potensi penghasilan setelah lulus, hingga lamanya masa studi kini menjadi pertimbangan penting.
Bahkan, menurut para ahli, keputusan memilih kampus saat ini sudah bergeser dari sekadar mimpi menjadi strategi finansial jangka panjang.

“Dulu keputusan kuliah lebih emosional, sekarang lebih seperti keputusan investasi,” ujar Franek.

Editor : Farida Denura

Berita Scholae Terbaru