Muatan Lokal Pendidikan Kita Asing di Negeri Sendiri


 Muatan Lokal Pendidikan Kita Asing di Negeri Sendiri Prudensius Maring, Guru Besar Antropologi, Universitas Budi Luhur. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Prudensius Maring

Guru Besar Antropologi, Universitas Budi Luhur

HARI Pendidikan Nasional kembali diperingati. Tetapi persoalan dasarnya belum selesai: pendidikan kita masih terasa asing di negeri sendiri.

Indonesia adalah negara kepulauan. Fakta ini kita hafal sejak sekolah dasar. Tetapi dalam praktik, ia jarang dipakai secara sungguh-sungguh sebagai pijakan dalam penyelenggaraan pendidikan. Kepulauan lebih sering berhenti sebagai label, bukan cara melihat kenyataan. Padahal di dalamnya hidup keragaman cara hidup, pengetahuan, nilai, dan strategi bertahan yang tidak mungkin diseragamkan.

Namun pendidikan kita justru bergerak ke arah sebaliknya. Ia dibangun dengan satu logika: kurikulum yang sama, standar yang sama, metode yang serupa, ukuran keberhasilan yang tunggal. Standarisasi memang memudahkan. Tetapi ia juga menyederhanakan dan mengabaikan konteks. Dalam banyak kasus, ia justru menyingkirkan hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Muatan lokal menjadi contoh yang mudah dilihat. Ia ada di kurikulum, tetapi tidak sungguh hidup di ruang belajar. Ia lebih sering hadir untuk memenuhi format evaluasi, bukan untuk membentuk cara berpikir. Pengetahuan yang tumbuh dalam keseharian masyarakat tidak diperlakukan sebagai sumber utama, melainkan sebagai tambahan. Bahkan kadang dianggap tidak cukup penting untuk dijadikan pijakan belajar.

Di titik ini, pendidikan pelan-pelan kehilangan arah. Ia tidak lagi menjadi ruang untuk memahami kehidupan, tetapi berubah menjadi mesin yang mengulang standar yang sama dari waktu ke waktu.

Dampaknya tidak jauh. Pada banyak wilayah kepulauan di Indonesia Timur, tekanan hidup makin terasa: perubahan iklim, keterbatasan infrastruktur, dan ekonomi yang tidak stabil. Banyak laki-laki usia produktif pergi merantau. Di kampung, perempuan memikul hampir seluruh peran: mengelola kebun, menjaga pangan keluarga, mengatur air, sekaligus merawat relasi sosial.

Di situlah pengetahuan hidup dan bekerja dalam keseharian masyarakat. Tentang musim, tanah, cuaca, pangan, dan cara bertahan bersama. Pengetahuan yang tidak selalu tertulis, tetapi nyata bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak datang dari ruang kelas, tetapi dari pengalaman yang terus diuji oleh keadaan.

Ironisnya, pendidikan formal sering berjalan di jalur lain. Ia mengajarkan banyak hal, tetapi tidak selalu yang dibutuhkan. Ada jarak yang pelan-pelan melebar: antara apa yang dipelajari di sekolah dan apa yang dihadapi dalam kehidupan nyata.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar kurangnya muatan lokal. Persoalannya lebih dalam: cara pandang pendidikan itu sendiri. Ia masih melihat pengetahuan sebagai sesuatu yang datang dari luar, bukan tumbuh dari kehidupan. Ia lebih percaya pada ukuran tunggal daripada pada keragaman pengalaman. Penyelenggara pendidikan sering lebih patuh pada pemenuhan standar dan format penilaian dari pusat daripada merespons kebutuhan riil masyarakat. Muatan lokal perlu diberi posisi yang setara, bukan terus berada di pinggir dari kurikulum yang seragam secara nasional.

Akibatnya sederhana: pendidikan gagal mengenali realitas yang seharusnya menjadi alasan keberadaannya.

Pendidikan berbasis kepulauan bukan tambahan, tetapi kebutuhan. Artinya, pendidikan harus berangkat dari konteks tempat ia hidup—geografis, sosial, budaya, dan ekologis. Pengetahuan tidak hanya lahir dari buku dan ruang kelas, tetapi juga dari pengalaman, dari praktik sehari-hari, dari cara masyarakat membaca dan merawat kehidupannya.

Tanpa perubahan ini, pendidikan akan terus menciptakan jarak. Jarak antara sekolah dan kehidupan. Jarak antara apa yang diajarkan dan apa yang dibutuhkan. Jarak yang lama-lama membuat pendidikan terasa tidak relevan bagi sebagian orang.

Pendekatan “merdeka belajar” perlu dimaknai lebih dalam, bukan sekadar istilah yang berganti mengikuti kebijakan. Ia perlu diterjemahkan sebagai keberanian memberi ruang bagi institusi pendidikan untuk mengembangkan kurikulum sesuai konteksnya, sekaligus memberi keleluasaan bagi peserta didik untuk belajar dari realitas yang mereka hadapi.

Hari Pendidikan Nasional tidak cukup dirayakan. Ia harus menjadi momen untuk menilai ulang arah pendidikan kita. Jika pendidikan terus menjauh dari kehidupan masyarakat, yang hilang bukan hanya relevansi, tetapi juga arah.

Pada akhirnya, pertanyaannya tetap sama: apakah pendidikan akan terus berjalan dengan satu ukuran, atau lebih tegas berpijak pada kenyataan yang beragam? (*)

Editor : Farida Denura

Perspektif Terbaru