- Senin, 13 Juli 2026 | 23:30 WIB
Loading

Indonesia menjadi tuan rumah Asian Medical Students' Conference (AMSC) 2026, forum internasional yang mempertemukan mahasiswa kedokteran dari berbagai negara Asia untuk membahas tantangan kesehatan global. (Foto: Istimewa)
JAKARTA, SCHOLAE.CO – Indonesia menjadi tuan rumah Asian Medical Students' Conference (AMSC) 2026, forum internasional yang mempertemukan mahasiswa kedokteran dari berbagai negara Asia untuk membahas tantangan kesehatan global.
Salah satu agenda yang paling menarik adalah simulasi penanganan wabah malaria melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor. Kegiatan ini menjadi ajang bagi calon dokter untuk mengasah kemampuan menghadapi situasi darurat kesehatan yang semakin kompleks di kawasan tropis.
AMSC 2026 merupakan bagian dari kegiatan Asian Medical Students' Association (AMSA) yang bertujuan memperkuat kolaborasi, diskusi ilmiah, dan pengembangan kapasitas mahasiswa kedokteran dalam menghadapi isu kesehatan regional maupun global.
Tahun ini Indonesia menjadi penyelenggara dengan mengusung tema "TORCH: Tropical Outbreak Response and Collaborative Healthcare", yang menyoroti tantangan penyakit tropis, dampak perubahan iklim terhadap kesehatan, serta pemerataan akses layanan kesehatan.
Kegiatan berlangsung pada 13 Juli 2026 di ruang kuliah Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Peserta berasal dari Indonesia, Filipina, Taiwan, Korea Selatan, Australia, Malaysia, dan Jepang.
Dalam konferensi tersebut, Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Adjunct Professor Griffith University Australia, menjadi narasumber pada sesi "Roleplay: Be A Doctor" bertema "Tropical Disease Outbreak Control" dengan studi kasus penanganan malaria.
Simulasi dilakukan dalam format table top simulation, yaitu latihan respons darurat yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Para mahasiswa dibagi ke dalam beragam peran, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah, masyarakat hingga WHO, untuk bersama-sama menyusun strategi menghadapi wabah penyakit tropis.
Prof. Tjandra menjelaskan peran WHO dalam koordinasi kesehatan global, termasuk dukungan organisasi tersebut dalam penanganan wabah penyakit menular di berbagai negara.
Selain itu, ia juga membagikan pengalaman yang sedang dijalaninya dalam mendukung pengendalian malaria dan demam berdarah dengue di Saumlaki. Menurutnya, sebagian besar kasus malaria di wilayah tersebut dalam setahun terakhir merupakan kasus impor sehingga membutuhkan strategi pengendalian yang berbeda dibandingkan penularan lokal.
Melalui kegiatan seperti AMSC 2026, para mahasiswa kedokteran diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan klinis, tetapi juga memahami pentingnya kerja sama lintas profesi, lintas negara, dan lintas sektor dalam menghadapi ancaman kesehatan global.
Prof. Tjandra berharap para calon dokter mampu menjadi tenaga kesehatan yang siap menghadapi tantangan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks, sekaligus berkontribusi dalam upaya peningkatan kesehatan di tingkat regional maupun dunia.