Loading
Tanoto Foundation melalui Program PINTAR atau pengembangan inovasi untuk kualitas pembelajaran memulai program kolaborasi guru dan dosen dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran di kelas. (Foto: Dok. Tanoto Foundation)
JAKARTA,
SCHOLAE.CO - Tanoto Foundation melalui Program
PINTAR atau pengembangan inovasi untuk kualitas pembelajaran memulai program
kolaborasi guru dan dosen dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran di
kelas. Kolaborasi ini dilakukan dalam kegiatan penelitian tindakan kelas (PTK)
yang melibatkan 20 dosen dari 10 LPTK (lembaga pendidikan tenaga kependidikan)
dan 20 guru dari 20 sekolah dan madrasah mitra/lab LPTK tersebut.
Pada
tahap awal, mereka difasilitasi bertemu dalam lokakarya nasional PTK di Jakarta
(13-15/9/2019). Mereka bekerja sama dalam merumuskan masalah-masalah
pembelajaran untuk ditindaklanjuti dalam kolaborasi PTK.
Menurut
Stuart Weston, Direktur Program PINTAR, kegiatan ini bertujuan menyinergikan
peningkatan mutu sekolah dan madrasah dengan LPTK sebagai lembaga penghasil
guru. Para dosen difasilitasi turun ke sekolah dan madrasah bekerja sama dengan
para guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.
“Mereka
bisa bekerja sama dalam mengidentifikasi dan memecahkan bersama masalah pembelajaran.
Manfaat melakukan PTK ini, bagi guru sebagai upaya meningkatkan mutu
pembelajaran di kelas dan meningkatkan profesionalismenya. Sedangkan dosen
melakukan PTK, bisa untuk publikasi ilmiah dan membantu peningkatan mutu
pembelajaran di kelas sebagai pengalaman nyata untuk bahan perkuliahan. Kolaborasi
ini efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran baik di sekolah maupun
LPTK,” kata Stuart Weston di sela-sela acara.
Prof.
Dr. Hari Amirullah Rachman, Tim Penilai Angka Kredit Guru, Kemendikbud yang
menjadi salah satu fasilitator kegiatan ini menyebut, masih banyak guru yang
kesulitan melakukan PTK. Kebanyakan guru juga perlu diperkaya dengan
teori-teori pembelajaran untuk mendukung pemecahan masalah pembelajaran.
“Melalui
kolaborasi PTK ini, dosen dapat memperkuat guru dalam menerapkan teori
pembelajaran yang relevan untuk menyelesaikan masalah pembelajaran yang
dihadapi guru,” katanya.
Kegiatan
kolaborasi guru dan dosen ini, menurut Dr. Paristiyanti Nurwardani, Direktur
Pembelajaran Kemenristekdikti, sejalan dengan kebijakan Kemenristekdikti. “Kami
mengembangkan kemitraan LPTK dengan sekolah mitra atau sekolah lab melalui
program PDS (penugasan dosen di sekolah). Program PDS ini relevan dengan
kegiatan kolaborasi guru dan dosen dalam melaksanakan PTK untuk memecahkan
masalah-masalah pembelajaran di kelas,” tukasnya.
Perkuat Interaksi Sosial Siswa di Kelas Besar
Kolaborasi
guru dan dosen ini mulai memperlihatkan hasil. Christie Stephanie Piar, dosen
FKIP Universitas Mulawarman, dan Noriska Rahmadiani, guru kelas V SDN 005
Samarinda, Kalimantan Timur, yang berkolaborasi dalam PTK ini, telah
mengidentifikasi masalah pembelajaran yang terjadi di kelas.
Menurut Christie, setelah mengamati proses pembelajaran di kelas V, jumlah siswa di kelas Ibu Noriska sangat besar, yaitu ada 40 siswa. Mereka juga masuk siang karena rombel yang harus berbagi dengan kelas lainnya. Pembelajaran juga lebih banyak ceramah yang dilakukan oleh guru sehingga membuat mayoritas siswa cenderung pasif, mudah hilang konsentrasi, bahkan sering mengantuk.
“Kami
berencana meningkatkan interaksi sosial siswa kelas V dalam pembelajaran IPS.
Para siswa akan difasilitasi belajar di kelompok-kelompok kecil untuk belajar
secara kooperatif. Kami juga menerapkan unsur pembelajaran aktif MIKiR atau
mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi. Melalui penerapan MIKiR, kami
berupaya memfasilitasi siswa untuk belajar lebih aktif lagi melalui kegiatan
interaksi dengan teman-teman sekelompoknya,” kata Christie menceritakan rencana
PTK yang dia lakukan bersama guru dampingannya.
Sementara
Fibrika Rahmat Basuki, dosen Pendidikan Fisika FKIP Universitas Jambi, menyebut
kegiatan ini merupakan terobosan dalam meningkatkan kerja sama antara LPTK
dengan sekolah mitra.
”Kami
selaku dosen bisa mendapatkan pengalaman terjun langsung ke sekolah untuk
mengidentifikasi masalah-masalah pembelajaran dan menemukan pemecahannya
bersama guru. Pengalaman ini sangat bermanfaat bagi kami dalam memberikan
perkuliahan yang kontekstual bagi mahasiswa calon guru,” tukasnya.
Kegiatan
ini akan terus berlanjut selama enam bulan ke depan. Para dosen dan guru akan
berkolaborasi melaksanakan PTK untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di
kelas. Ada 20 dosen dari 10 LPTK (lembaga pendidikan tenaga kependidikan) dan
20 guru dari 20 sekolah dan madrasah mitra/lab LPTK yang terlibat dalam
kegiatan PTK ini.
10
LPTK mitra tersebut adalah Universitas Mulawarman dan IAIN Samarinda
(Kalimantan Timur), Universitas Sebelas Maret Surakarta dan UIN Walisongo (Jawa
Tengah), Universitas Jambi dan UIN Sultan Thaha Syarifudin Jambi (Jambi),
Universitas Riau dan UIN Sultan Syarif Kasim
(Riau), Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan UIN Sumatera Utara
Medan (Sumatera Utara).