Loading
Prudensius Maring Guru Besar Antropologi Universitas Budi Luhur. (Foto Dok. Pribadi)
Oleh: Prudensius Maring
Guru Besar Antropologi, Universitas Budi Luhur
PERBINCANGAN mengenai pemisahan jalur karier dosen menjadi pengajar, peneliti, dan pelaksana pengabdian kepada masyarakat belakangan menarik perhatian setelah ada perguruan tinggi yang mulai menerapkan skema tersebut. Gagasan ini muncul di tengah meningkatnya kompleksitas pekerjaan dosen yang tidak lagi sebatas mengajar, tetapi juga dituntut menghasilkan publikasi ilmiah, membimbing mahasiswa, menjalankan pengabdian kepada masyarakat, serta menyelesaikan berbagai tugas administratif. Kondisi tersebut kemudian melahirkan pandangan bahwa spesialisasi jalur karier dapat menjadi jalan untuk meningkatkan fokus kerja dan produktivitas dosen.
Namun di balik usulan tersebut, pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah persoalan yang sedang dihadapi benar-benar bersumber dari desain Tri Dharma, atau justru berkaitan dengan cara mengelola hubungan antarketiga unsurnya. Pertanyaan ini penting karena Tri Dharma sejak awal dirancang sebagai kerangka konseptual yang menempatkan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu siklus pengetahuan yang saling menghidupi.
Tidak semua persoalan manajerial selalu menuntut pemisahan fungsi. Kesulitan mengelola sesuatu sering mendorong munculnya kecenderungan untuk memecah bagian-bagian yang ada agar lebih mudah diatur. Padahal sesuatu yang sulit dijalankan tidak dengan sendirinya harus dipisahkan. Dalam konteks Tri Dharma, persoalannya mungkin bukan terletak pada pembagian peran, melainkan pada cara memahami kembali makna filosofis yang melatarbelakanginya.
Dalam kerangka tersebut, Tri Dharma dibangun bukan sebagai kumpulan tugas yang berdiri sendiri, tetapi sebagai satu kesatuan praktik akademik yang membentuk siklus pengetahuan yang terus bergerak dan saling memperkaya.
Seorang peneliti pada suatu saat akan membutuhkan ruang pengajaran. Pengetahuan yang dihasilkan melalui penelitian tidak berhenti sebagai laporan atau publikasi ilmiah, tetapi perlu diuji, dipertajam, dan didialogkan melalui proses pembelajaran. Ruang kelas menjadi tempat gagasan bertemu dengan pertanyaan, pengalaman, dan kritik yang muncul dari mahasiswa.
Sebaliknya, seorang pengajar tidak dapat sepenuhnya bertumpu pada pengetahuan yang sama dari waktu ke waktu. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan dinamika masyarakat menghadirkan berbagai persoalan baru yang menuntut pembaruan pengetahuan. Di titik itulah penelitian menjadi penting agar proses pembelajaran tidak berhenti pada pengulangan pengetahuan yang telah mapan.
Hal yang sama berlaku dalam pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian bukan sekadar tahap akhir untuk menyampaikan hasil penelitian kepada publik. Kehadiran akademisi di tengah masyarakat justru membuka ruang pembelajaran yang berbeda.
Pengalaman masyarakat sering kali memperlihatkan kenyataan yang tidak seluruhnya terbaca dari ruang kelas maupun hasil penelitian sebelumnya. Dari situ muncul peluang untuk memperkaya, mengoreksi, bahkan mempertanyakan kembali asumsi akademik yang telah dibangun.Hubungan yang saling memperkaya inilah yang membuat Tri Dharma bekerja seperti dalam satu tarikan napas. Penelitian memperkaya pengajaran, pengajaran melahirkan pertanyaan baru bagi penelitian, dan pengabdian menghadapkan seluruh proses tersebut pada realitas kehidupan masyarakat. Siklus tersebut terus bergerak dan membentuk hubungan yang dinamis dalam praktik akademik.
Karena itu, tantangan yang dihadapi perguruan tinggi bukan memisahkan Tri Dharma ke dalam jalur-jalur yang berdiri sendiri. Sesungguhnya mekanisme pengaturan proporsionalitas pelaksanaan Tri Dharma telah lama hadir melalui mekanisme evaluasi kinerja dan berbagai sistem pengembangan karier akademik, termasuk pengaturan beban Tri Dharma bagi dosen dengan tugas struktural. Jadi persoalannya bukan ketiadaan aturan, melainkan bagaimana mengelola ritme kerja dosen dalam rutinitas akademik sehari-hari.
Tantangan yang sering muncul bukan karena dosen tidak memiliki kapasitas atau komitmen, tetapi karena perjalanan akademik sering berjalan tanpa perencanaan yang terarah. Rutinitas administratif, target kinerja, pengajaran, penelitian, dan berbagai tuntutan lainnya kerap hadir secara bersamaan sehingga mudah dipersepsikan sebagai beban yang datang silih berganti. Karena itu evaluasi kinerja seharusnya tidak hanya dipraktikkan sebagai instrumen administratif, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk menata ritme kerja, menetapkan skala prioritas, dan membangun peta perjalanan karier akademik.
Tidak semua dosen harus menjalankan porsi yang sama pada waktu yang sama. Pada fase tertentu penelitian perlu diperkuat, ada fase pengajaran yang membutuhkan perhatian lebih besar, termasuk porsi pengabdian kepada masyarakat. Proporsinya dapat berubah mengikuti kebutuhan dan tahap perkembangan karier akademik, tetapi hubungan antarelemen tersebut tidak perlu diputus.
Jadi yang dibutuhkan bukan pemisahan jalur karier, melainkan penguatan integrasi melalui pengelolaan yang lebih adaptif.
Persoalan utama yang dihadapi perguruan tinggi bukan terletak pada beratnya Tri Dharma, melainkan pada kemampuan menata pelaksanaannya secara proporsional. Sebab tantangan akademik tidak selalu menuntut pemisahan fungsi, melainkan kemampuan menata ritme kerja agar pengajaran, penelitian, dan pengabdian tetap bergerak dalam satu tarikan napas yang saling menguatkan.