Loading
Asnat Nenabu, guru PAUD di Desa Fotila, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang telah mengabdi selama 36 tahun. ANTARA/HO-Tim Media Prabowo Subianto.
JAKARTA, SCHOLAE.CO - Di sudut Desa Fotila, Nusa Tenggara Timur, nama Asnat Nenabu dikenal sebagai sosok yang tidak kenal lelah ketika berbicara soal pendidikan anak-anak. Selama 36 tahun, perempuan yang sehari-hari mengajar di PAUD itu tetap berdiri di depan kelas meski hanya digaji Rp200 ribu per bulan—upah yang jauh dari layak, namun besar dari ketulusan.
Semangatnya tak pernah surut. Bukan karena standar hidup yang terpenuhi, tetapi karena ia percaya pendidikan adalah jalan terang bagi generasi berikutnya.
“Kalau kaki saya tak lagi bisa berjalan baru saya berhenti. Kalau mata saya sudah tak bisa melihat baru saya undur,” begitu pengakuannya yang terekam dalam video yang kemudian sampai kepada Presiden Prabowo Subianto.
Dari sanalah kisah Asnat menjadi sorotan nasional. Kini, jerih payah puluhan tahunnya terbayar. Ia resmi menyandang status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu pada akhir 2025 — sebuah pencapaian yang ia raih bukan karena meminta, melainkan karena ia tak pernah berhenti mengabdi.
Jejak Panjang yang Tidak Banyak Orang Tahu
Perjalanan Asnat dimulai ketika ia lulus SMA dan mengajar di SMP Kristen Puli, Kabupaten TTS. Beberapa tahun kemudian ia pindah ke SD Inpres Fotilo, lalu akhirnya bertahan di PAUD karena tidak memiliki gelar S-1. Bagi Asnat, selembar ijazah bukan penghalang untuk menanam nilai etika, keberanian, dan kejujuran pada anak-anak.
Gaji guru honorer yang kecil baru naik menjadi Rp500 ribu per bulan pada 2025, itupun belum membuat hidupnya sepenuhnya stabil. Maka setelah mengajar, ia turun ke ladang — menanam asam saat musim, atau jagung, ubi, dan pisang ketika tanah mulai kering.
“Untuk makan, kami bisa cari,” ucapnya sederhana dikutip Antara.
Lebih dari Seorang Guru
Dedikasi Asnat tidak berhenti di ruang kelas. Ia juga memegang peran penting sebagai Ketua Posyandu di desanya, mendampingi ibu hamil sejak masa kandungan hingga anak-anak mereka tumbuh besar dan siap bersekolah.
Ia menyebutkan bahwa pendidikan karakter bukan dimulai dari bangku sekolah, melainkan sejak seorang anak belum lahir ke dunia.
“Saya rangkul mereka dari dalam kandungan sampai bertahun-tahun tumbuh. Pendidikan itu harus dari dasar.”
Pesan untuk Semua Guru Indonesia
Meski hidup dalam keterbatasan, Asnat tetap yakin pendidikan adalah pekerjaan mulia yang membentuk masa depan bangsa. Ia mengajak para guru lain untuk tetap menyalakan api pengabdian yang sama.
“Tugas kita membawa anak-anak dari gelap menuju terang. Dari tidak tahu menjadi tahu,” pesannya.
Asnat Nenabu adalah wajah dari ribuan guru yang bekerja dalam diam. Kini, dengan status PPPK yang berhasil ia raih, kisahnya menjadi bukti bahwa pengabdian tidak pernah sia-sia.