Loading
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie dalam forum Ambassador’s Talk yang mempertemukan para duta besar, dan pimpinan perguruan tinggi dari berbagai negara sahabat di Jakarta, Senin (3/11/2025). ANTARA/HO-Kemdiktisaintek/pri.
JAKARTA, SCHOLAE.CO – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berencana menambah kuota beasiswa bagi mahasiswa internasional pada tahun 2026. Langkah ini diambil untuk memperkuat daya saing dan kolaborasi global pendidikan tinggi di Indonesia.
Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek, Mukhamad Najib, mengatakan pemerintah berkomitmen untuk terus memperluas kesempatan belajar bagi mahasiswa asing melalui program The Indonesian Aid (TIA).
“Tahun depan jumlah penerima Beasiswa TIA akan meningkat dari 175 menjadi 250 mahasiswa internasional. Kami juga mendorong universitas negeri maupun swasta di Indonesia untuk memperluas tawaran beasiswa bagi mahasiswa luar negeri,” ujar Najib dalam keterangan resmi, Selasa (4/11/2025).
Menurut Najib, peningkatan kuota ini sekaligus menjadi bentuk nyata dari upaya Indonesia memperkuat kerja sama pendidikan lintas negara.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menegaskan bahwa beasiswa internasional bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga diplomasi budaya.
“Beasiswa ini adalah jembatan pemahaman antarbangsa. Melalui pendidikan, kita bisa menumbuhkan saling pengertian, solidaritas, dan rasa percaya di antara masyarakat dunia,” tutur Stella.
Ia juga menambahkan bahwa Indonesia berkomitmen untuk terus membuka ruang belajar bagi siapa pun yang ingin mengenal negeri ini lebih dalam.
“Pendidikan adalah diplomasi terbaik kita. Lewat pertukaran ilmu dan budaya, kita membantu membangun masa depan dunia yang saling menghargai,” tambahnya dikutip Antara.
Dari sisi diplomasi luar negeri, Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno, menyebut kerja sama di bidang pendidikan tinggi merupakan bentuk nyata kontribusi Indonesia dalam membangun dunia yang inklusif.
“Diplomasi pendidikan adalah bagian dari komitmen kita memperkuat kerja sama selatan-selatan. Melalui pendidikan, kita menyiapkan jejaring masa depan yang saling menguatkan,” kata Havas.
Program beasiswa untuk mahasiswa internasional bukan hal baru bagi Indonesia. Sejak tahun 2003, pemerintah telah menjalankan Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (Indonesian Arts and Culture Scholarship – IACS) yang kini menjadi ikon diplomasi budaya Indonesia.
Program IACS memberi kesempatan bagi generasi muda berusia 18–30 tahun dari berbagai negara untuk belajar langsung seni, budaya, dan kehidupan masyarakat Indonesia selama dua bulan, setiap Juli–Agustus.
Sejak diluncurkan, program ini telah melibatkan lebih dari 1.000 peserta dari 85 negara di lima benua. Banyak di antara alumninya kini menjadi duta budaya dan jembatan kerja sama Indonesia dengan negara asal mereka.
Pemerintah pun berencana memperluas penerima beasiswa hingga ke kawasan Pasifik, Afrika, Asia Selatan, dan Eropa, guna memperkuat peran Indonesia dalam jejaring global pendidikan dan kebudayaan.