Selasa, 06 Oktober 2026

Dari Bali ke 4 Negara Eropa, Kisah Andrew Mengejar Mimpi Kuliah di Eropa


  • author
  • Senin, 05 Oktober 2026 | 17:30 WIB
  • | Beasiswa
Dari Bali ke 4 Negara Eropa, Kisah Andrew Mengejar Mimpi Kuliah di Eropa Andrew Dwi Permana yang belajar di 4 negara Eropa lewat Erasmus Mundus, hingga melanjutkan studi doktoral di Swedia. (Foto: Dok. EHEF)

JAKARTA, SCHOLAE.CO - Bagi sebagian orang, kuliah di Eropa mungkin terdengar seperti mimpi yang terlalu jauh. Bagi Andrew Dwi Permana, mimpi itu justru menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan, meski jalannya tidak selalu mulus.

Ketertarikan Andrew untuk melanjutkan pendidikan ke Eropa sudah muncul sejak duduk di bangku SMA. Namun, keinginan itu semakin menemukan arah ketika pada 2015 ia berkesempatan mengunjungi European Higher Education Fair (EHEF) di Bali.

Saat itu Andrew masih menjadi mahasiswa S1 di Universitas Udayana. Pameran pendidikan tersebut memberinya kesempatan untuk mengenal lebih dekat berbagai pilihan perguruan tinggi, sistem pendidikan, program studi hingga peluang beasiswa di Eropa.

Pengalaman tersebut rupanya meninggalkan kesan yang kuat.

Andrew pun mulai membayangkan kemungkinan melanjutkan pendidikan ke Eropa setelah menyelesaikan kuliahnya di Indonesia. Setelah lulus pada 2018, ia mulai serius mencari informasi mengenai universitas dan peluang beasiswa, khususnya untuk melanjutkan studi S2 di Swedia.

Namun, perjalanan menuju mimpi itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Tiga Kali Mencoba, Tiga Kali Belum Berhasil

Andrew beberapa kali mencoba mendaftar program studi yang diincarnya. Tiga kali mendaftar, hasilnya belum sesuai harapan.

Alih-alih berhenti, pengalaman tersebut justru membuatnya belajar bahwa mengejar pendidikan di luar negeri membutuhkan kesabaran, persiapan dan kemauan untuk terus mencoba.

“Saya belajar bahwa nggak semuanya keberhasilan dalam satu shot. Ibarat kita melamar kerja, belum tentu sekali mengirim lalu mendapat panggilan,” ujar Andrew.

Menurutnya, kegagalan dalam satu kesempatan tidak harus membuat seseorang kehilangan arah.

Daripada terus-menerus memikirkan kegagalan, ia memilih memperbaiki persiapan dan kembali mencari peluang yang lebih sesuai.

“Daripada ngoyo, lebih baik fokus mempersiapkan diri. Jangan terlalu khawatir dengan pilihan studi walau ini memang harus dipikirkan serius dan sesuai minat,” lanjutnya.

Kesempatan itu akhirnya datang melalui Erasmus Mundus Joint Masters (EMJM).

Program ini memungkinkan mahasiswa mengikuti pendidikan master yang dirancang dan dijalankan oleh konsorsium perguruan tinggi di beberapa negara. Dalam skema Erasmus Mundus, mahasiswa dapat menjalani periode studi di sejumlah universitas dan negara berbeda sesuai program yang dipilih. Program tersebut juga menyediakan peluang beasiswa bagi kandidat yang memenuhi kriteria.

Bagi Andrew, inilah pintu yang akhirnya membawanya lebih dekat dengan mimpi yang selama bertahun-tahun ia kejar.

Satu Program, Berpindah Negara

Pada 2022, Andrew mulai mengikuti program Erasmus Mundus Medical Imaging and Applications (MAIA).

Yang membuat pengalaman ini semakin menarik, proses belajarnya tidak hanya berlangsung di satu kampus atau satu negara.

Dalam perjalanannya, Andrew menjalani masa studi di Prancis, Italia dan Spanyol. Setelah itu, ia menyelesaikan master thesis di Swedia, tepatnya di Karolinska Institutet.

Bayangkan, dalam satu perjalanan pendidikan, Andrew harus berpindah negara sekaligus beradaptasi dengan lingkungan akademik dan kehidupan sehari-hari yang berbeda.

Setiap semester pun memiliki fokus pembelajaran tersendiri. Mulai dari pengenalan dasar medical imaging dan artificial intelligence (AI), kemudian masuk ke bidang yang lebih spesifik, hingga tahap persiapan dan pengerjaan master's thesis.

Pengalaman tersebut juga mempertemukannya dengan mahasiswa dari berbagai belahan dunia.

Dalam satu kelas, terdapat 28 mahasiswa yang berasal dari 21 negara. Bahasa Inggris menjadi bahasa utama dalam proses perkuliahan.

Bagi Andrew, lingkungan seperti ini memberikan pengalaman yang tidak mungkin diperoleh hanya dari ruang kelas di satu negara.

Ia tidak hanya belajar tentang teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya berbeda.

Belajar Beradaptasi, Bukan Sekadar Mengejar Gelar

Berpindah dari satu negara ke negara lain ternyata membawa tantangan tersendiri.

Andrew harus beradaptasi bukan hanya dengan sistem pendidikan, tetapi juga dengan kebiasaan sosial yang berbeda.

Salah satu pengalaman sederhana justru menjadi pelajaran yang cukup berkesan.

Ketika berada di Prancis, Andrew sempat tersenyum kepada seseorang yang lebih tua ketika berada di kereta. Baginya, tersenyum kepada orang yang lebih tua merupakan bentuk keramahan yang sangat umum di Indonesia.

Namun, respons yang diterimanya berbeda dari yang ia bayangkan.

Dari pengalaman sederhana itu, Andrew menyadari bahwa sesuatu yang dianggap ramah di Indonesia belum tentu dimaknai dengan cara yang sama di negara lain.

“Harus mikir lagi kalau kita bukan di Indonesia, jadi harus beradaptasi,” katanya.

Pengalaman tersebut akhirnya membuat perjalanan kuliahnya memiliki makna yang lebih luas.

Bagi Andrew, pendidikan internasional bukan hanya soal memperoleh gelar dari perguruan tinggi luar negeri. Ada proses belajar memahami perbedaan, membangun relasi, berkomunikasi lintas budaya dan belajar mandiri dalam lingkungan yang sama sekali berbeda.

“Lewat pengalaman kuliah ini, bukan hanya gelar yang didapatkan, tapi juga belajar hidup di lingkungan yang berbeda, bertemu orang dari berbagai negara, dan melihat langsung seperti apa pendidikan lintas negara,” ujarnya.

Kini, perjalanan akademiknya pun berlanjut.

Andrew sedang menempuh studi doktoral di Department of Biomedical Engineering and Health Systems, KTH Royal Institute of Technology di Swedia.

Perjalanannya menunjukkan bahwa kesempatan studi ke luar negeri tidak selalu datang dalam satu kali percobaan.

Kadang, seseorang harus mendaftar berkali-kali, menerima penolakan, mengevaluasi diri, kemudian mencoba kembali dengan strategi yang lebih baik.

Dari EHEF, Mimpi Bisa Mendapat Arah

Menariknya, perjalanan Andrew menuju Eropa bermula dari sebuah pameran pendidikan.

Pengalaman itulah yang membuatnya mengetahui bahwa pilihan studi di Eropa ternyata sangat luas dan informasi mengenai universitas maupun beasiswa bisa diperoleh secara langsung.

Bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia yang saat ini memiliki mimpi serupa, kesempatan untuk mendapatkan informasi secara langsung kembali terbuka melalui European Higher Education Fair (EHEF) Indonesia 2026.

EHEF Indonesia 2026 akan hadir di Yogyakarta pada 4 November 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), Universitas Gadjah Mada. Selanjutnya, EHEF berlangsung di Jakarta pada 7–8 November 2026 di Catur Dharma Hall, Menara Astra.

Acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Peserta dapat bertemu langsung dengan perwakilan perguruan tinggi Eropa, mencari informasi program studi, mengetahui persyaratan pendaftaran, hingga mengeksplorasi peluang pendanaan dan beasiswa.

Untuk EHEF 2026, laman resminya mencantumkan 60 institusi yang hadir di Yogyakarta dan 80 institusi di Jakarta. Secara keseluruhan, lebih dari 90 institusi dari berbagai negara Eropa disebut berpartisipasi dalam rangkaian EHEF Indonesia 2026.

Bagi calon mahasiswa, kesempatan seperti ini bisa menjadi langkah awal untuk menjawab pertanyaan yang sering muncul sebelum kuliah ke luar negeri: harus mulai dari mana, universitas mana yang sesuai, program studi apa yang tersedia, berapa biaya yang dibutuhkan, dan beasiswa apa yang bisa dikejar.

Andrew sudah membuktikannya.

Sebuah mimpi yang dimulai sejak SMA, sebuah kunjungan ke pameran pendidikan, beberapa kali kegagalan, hingga akhirnya membawanya belajar di berbagai negara Eropa.

Pesannya sederhana: jangan takut mencoba hanya karena peluang terlihat kecil.

Sebab, seperti perjalanan Andrew, mimpi kuliah di Eropa mungkin memang tidak langsung terwujud dalam satu langkah. Tetapi dengan informasi yang tepat, persiapan yang matang dan kemauan untuk terus mencoba, pintu itu selalu mungkin terbuka.

Tertarik mengikuti jejak Andrew? Informasi dan pendaftaran EHEF Indonesia 2026 dapat diakses melalui virtual.ehef.id.

Editor : Farida Denura

Beasiswa Terbaru