Kamis, 12 Februari 2026

Profesor dari Timur: Kiprah Mgr. Maksimus Regus Merawat Ilmu, Iman, dan Kemanusiaan


 Profesor dari Timur: Kiprah Mgr. Maksimus Regus Merawat Ilmu, Iman, dan Kemanusiaan Mgr. Maksimus Regus resmi menjadi Profesor bidang Sosiologi Agama. (Foto: Istimewa)

RUTENG, SCHOLAE.CO – Kabar membanggakan datang dari Nusa Tenggara Timur. Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Dr. Maksimus Regus, S.Fil., M.Si., resmi menyandang jabatan akademik Profesor atau Guru Besar. Pengakuan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini menegaskan sosoknya sebagai pemimpin gereja yang tidak pernah meninggalkan dunia intelektual.

Status profesor tersebut ditetapkan melalui Surat Keputusan Nomor 1767/M/KPT.KP/2026 tentang Kenaikan Jabatan Akademik Dosen pada bidang Sosiologi Agama dan Multikulturalisme. Keputusan itu berlaku sejak 1 Januari 2026 dan menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjangnya sebagai akademisi.

Dari Ruang Kelas ke Panggung Kepemimpinan Gereja

Jauh sebelum dipercaya memimpin Keuskupan Labuan Bajo, Maksimus Regus lebih dulu dikenal sebagai dosen dan penggerak kampus di Universitas Katolik Indonesia Santo Paulus Ruteng. Ia pernah memegang amanah sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, lalu menjadi Rektor.

Di kampus itulah ia membangun tradisi riset, memperkuat dialog lintas disiplin, serta mendorong keberpihakan perguruan tinggi pada persoalan nyata masyarakat Flores. Isu keberagaman, kemanusiaan, dan keadilan sosial menjadi napas utama berbagai program yang ia gagas.

Menjadikan Agama sebagai Kekuatan Sosial

Sebagai Guru Besar, ia menekuni kajian sosiologi agama dan multikulturalisme. Baginya, agama tidak hanya urusan ritual, tetapi kekuatan sosial yang harus membela martabat manusia, merawat lingkungan, dan menjaga harmoni antarumat.
Pengakuan ini juga menjadi cermin kontribusi kampus Katolik di Ruteng dalam mengembangkan ilmu sosial keagamaan yang kontekstual dengan realitas masyarakat majemuk di Indonesia timur.

Rasa Syukur yang Membumi

Menanggapi capaian tersebut, Uskup Maksimus menyampaikan syukur dengan nada rendah hati. Ia menegaskan bahwa gelar profesor bukan kemenangan pribadi, melainkan buah dari kerja bersama banyak pihak.

Ia mengapresiasi dukungan LLDikti Wilayah XV, keluarga besar Keuskupan Labuan Bajo, para imam, umat, serta civitas akademika yang setia menemani perjalanan intelektualnya. Unika Santu Paulus Ruteng, menurutnya, adalah rumah akademik yang membentuk cara berpikir dan keberpihakannya.

Ilmu untuk Kehidupan

Bagi Uskup Maksimus, jabatan profesor justru memperluas makna pelayanan kegembalaan. Ilmu pengetahuan harus menyentuh kehidupan konkret, menghadirkan wajah Tuhan yang berpihak pada keberlanjutan, keadilan sosial, dan kelestarian ciptaan.

Ia berharap dunia kampus di kawasan timur Indonesia terus tumbuh sebagai ruang dialog yang terbuka, relevan dengan kebutuhan zaman, dan berani membela yang lemah.

Penetapan ini menjadi penanda penting bahwa iman dan ilmu tidak berjalan di jalur yang saling meniadakan. Keduanya dapat bertemu, saling menguatkan, dan bersama-sama membangun peradaban yang lebih manusiawi.

 

Editor : Farida Denura
Reporter : Beni Lehot

Berita Scholae Terbaru