Loading
PENABUR STEAM Innovation Competition 2026. (Foto: Dok. BPK PENABUR)
JAKARTA, SCHOLAE.CO – BPK Penabur Jakarta terus memperkuat pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics (STEAM) sebagai langkah menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045. Upaya tersebut diwujudkan melalui PENABUR STEAM Innovation Competition 2026 yang melibatkan siswa tingkat SMP.
Kepala Seksi Pendidikan Menengah Bagian Kurikulum dan Evaluasi BPK Penabur Jakarta, Hendra Tan, mengatakan kompetisi ini dirancang sebagai ruang bagi siswa untuk menghadirkan solusi nyata atas persoalan global. Fokus utama tahun ini adalah isu ketahanan pangan, yang selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan Zero Hunger.
“Kegiatan ini menjadi ruang apresiasi, kolaborasi, sekaligus inspirasi bagi siswa untuk menampilkan solusi inovatif atas permasalahan nyata di masyarakat,” ujar Hendra dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (23/2/2026).
Ia menjelaskan, pendekatan STEAM telah diterapkan secara konsisten di 17 SMPK Penabur Jakarta. Strategi ini tidak hanya menekankan penguasaan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kreativitas, serta kemampuan problem solving siswa sejak dini sebagai bekal menuju Indonesia Emas 2045.
Mengusung tema “Driven Hunger Solutions: The Power to Change is Ours”, kompetisi ini diikuti 136 siswa dari 17 sekolah SMP. Para peserta ditantang melakukan riset, merancang prototipe, hingga mempresentasikan solusi inovatif terkait persoalan kelaparan dan pemenuhan gizi.
Rangkaian kegiatan berlangsung bertahap, mulai dari riset dan perancangan prototipe, pameran karya dalam bentuk booth, hingga presentasi enam tim terbaik di hadapan dewan juri. Tim juri berasal dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), akademisi, serta tim kurikulum.
Juara pertama diraih tim “Kaleg” dari SMP Tirtamarta BPK Penabur Cinere melalui proyek “Kaleg Emulsion”. Inovasi ini memanfaatkan minyak ikan dari ikan invasif yang diolah menjadi emulsi, lalu diperkaya limbah nabati seperti wortel dan minyak biji labu.
“Kami menggunakan minyak ikan dari ikan invasif, kemudian mengolahnya menjadi emulsi yang diperkaya limbah nabati kaya beta-karoten, vitamin E, dan vitamin K,” kata Tito, anggota tim Kaleg.
Rekan setimnya, Erik, menambahkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berbicara soal ketersediaan makanan, tetapi juga kualitas gizi.
“Hunger solutions bukan sekadar ada makanan, melainkan nutrisi yang benar-benar tercukupi,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari peneliti BRIN, Christina Winarti, yang menilai kualitas inovasi para siswa melampaui ekspektasi.
“Produk yang dipamerkan sudah sangat baik, bahkan ada beberapa yang belum kami teliti. Saya mengapresiasi cara siswa memanfaatkan limbah sehingga memiliki nilai tambah dan nilai ekonomis,” tuturnya.