- Selasa, 21 Juli 2026 | 12:30 WIB
Loading

Universitas Paramadina bekerja sama dengan Komisi X DPR RI menyelenggarakan seminar nasional bertajuk Transformasi Dunia Pendidikan di Era AI: Peluang, Tantangan, dan Inovasi Masa Depan di Auditorium Firmanzah, Kampus Cipayung, Jakarta Timur. (Foto: Humas Univ. Paramadina)
JAKARTA, SCHOLAE.CO – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Dunia pendidikan pun tidak bisa lagi bertahan dengan pola lama. Kampus, sekolah, pemerintah, hingga para pendidik dituntut bergerak cepat agar mampu menyiapkan generasi yang siap menghadapi perubahan tersebut.
Kesadaran itulah yang melatarbelakangi Universitas Paramadina bekerja sama dengan Komisi X DPR RI menyelenggarakan seminar nasional bertajuk "Transformasi Dunia Pendidikan di Era AI: Peluang, Tantangan, dan Inovasi Masa Depan" di Auditorium Firmanzah, Kampus Cipayung, Jakarta Timur.
Seminar diikuti sekitar 80 peserta yang terdiri atas guru, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga siswa SMA. Forum ini menjadi ruang diskusi bersama antara pembuat kebijakan, akademisi, dan praktisi pendidikan mengenai langkah konkret menghadapi disrupsi teknologi.
Universitas Paramadina memandang perkembangan AI bukan hanya sebagai tantangan, tetapi juga peluang untuk melahirkan lulusan yang unggul dalam teknologi sekaligus memiliki karakter kuat. Pendekatan tersebut sejalan dengan tiga pilar utama universitas, yakni Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemodernan.
AI Jangan Memperlebar Kesenjangan Pendidikan
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Dr. Hj. Kurniasih Mufidayati, M.Si., menegaskan bahwa negara harus hadir agar perkembangan AI tidak memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia.
Menurutnya, pemerataan akses terhadap teknologi digital harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi guru di seluruh Indonesia.
"Negara harus memastikan bahwa penetrasi teknologi AI di sektor pendidikan tidak menciptakan jurang pemisah baru di Indonesia. Fungsi pengawasan dan penganggaran DPR RI Komisi X akan terus kami optimalkan demi menjamin pemerataan fasilitas digital dan peningkatan kompetensi guru dari Sabang sampai Merauke."
Kurikulum Harus Berubah, Bukan Sekadar Menghafal
Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Paramadina, Dr. Harry T.Y. Achsan, menilai perguruan tinggi perlu segera memperbarui metode pembelajaran agar lulusannya tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi.
Senada dengan itu, dosen Teknik Informatika Universitas Paramadina, M. Darwis, M.Kom., menjelaskan bahwa AI memang mampu mengolah data dalam jumlah besar, tetapi tetap tidak memiliki nurani. Karena itu, pendidikan harus lebih menekankan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pengambilan keputusan yang beretika.
Menurut Darwis, peran guru dan dosen kini tidak lagi sekadar menyampaikan informasi yang dapat dicari melalui AI, melainkan membimbing peserta didik agar mampu memecahkan persoalan nyata dengan pendekatan yang bertanggung jawab.
AI Juga Mengubah Dunia Kerja
Dari perspektif ekonomi, Wakil Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF, Dr. Handi Rizsa, M.Ec., mengingatkan bahwa otomatisasi berbasis AI akan mengubah kebutuhan tenaga kerja secara signifikan.
Karena itu, perguruan tinggi didorong segera merekonstruksi kurikulum agar lebih adaptif terhadap kebutuhan industri masa depan. Menurutnya, tanpa perubahan tersebut, lulusan perguruan tinggi berpotensi menghadapi meningkatnya pengangguran intelektual.
Guru Menjadi Fasilitator Pembelajaran
Pandangan serupa disampaikan Kepala SMAN 7 Bekasi, Drs. Fajar Heryadi Trimawardi, M.Pd. Ia menilai siswa sekolah menengah merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif teknologi apabila tidak mendapat pendampingan yang tepat.
Di era AI, katanya, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa menggunakan teknologi secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.
Rumuskan Rekomendasi Kebijakan
Direktur Pemasaran dan Beasiswa Universitas Paramadina sekaligus Penanggung Jawab Acara, Dr. Peni Hanggarini, S.IP., M.A., mengatakan seminar nasional ini tidak berhenti pada diskusi semata.
Berbagai masukan dari akademisi, praktisi pendidikan, dan pemangku kepentingan akan dirangkum menjadi draf rekomendasi kebijakan strategis sebagai kontribusi dalam mendorong transformasi pendidikan Indonesia agar lebih siap menghadapi era Artificial Intelligence.