Selasa, 27 Januari 2026

Aksi Mahasiswa Jadi Kompas Bangsa, dari UI hingga Daerah Serentak Suarakan Aspirasi


  • Selasa, 02 September 2025 | 20:30
  • | Fokus
 Aksi Mahasiswa Jadi Kompas Bangsa, dari UI hingga Daerah Serentak Suarakan Aspirasi Mahasiswa mendengarkan orasi saat aksi damai Aliansi Jogja Memanggil di Bundaran UGM, Sleman, D.I Yogyakarta, Senin (1/9/2025). (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/nym)

Mendiktisaintek menegaskan aksi mahasiswa sebagai kompas moral bangsa. Dari UI, BEM SI, hingga daerah, mahasiswa serentak menuntut keadilan, menolak kebijakan tak adil, dan mendesak ruang dialog sehat antara kampus dan pemerintah.

GELOMBANG aksi mahasiswa yang merebak sejak 25 Agustus 2025 kian menguat di berbagai kota Indonesia. Dari Jakarta hingga daerah-daerah, mahasiswa turun ke jalan menyuarakan keresahan publik, menolak kebijakan yang dianggap tidak adil, sekaligus menegaskan posisi mereka sebagai kompas moral bangsa.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menilai gerakan ini tidak bisa direduksi sekadar protes jalanan.

“Gerakan aksi mahasiswa adalah bagian dari gerakan moral dan kompas bagi bangsa serta penyelenggara negara. Suara mahasiswa adalah pengingat agar pemerintah peka, empatik, dan mau mengoreksi kebijakan yang belum berpihak pada kesejahteraan rakyat,” ujar Brian di Jakarta, Selasa (2/9/2025).

Jakarta: UI dan BEM SI di Garda Depan

Di Ibu Kota, BEM Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) menjadi sorotan.

Ketua BEM UI, Atan Zayyid Sulthan, mengumumkan aksi ke Polda Metro Jaya:

“Kumpul jam 12.30 WIB di Lapangan FISIP UI Depok, jalan ke Polda jam 13.30 WIB,” serunya.

Fokus utama mereka: menuntut pertanggungjawaban atas tindakan represif aparat.

BEM SI, dipimpin Muzammil Ihsan, juga menggerakkan massa dari kawasan FX Sudirman menuju Polda Metro.

“Setelah salat Jumat, titik kumpul di FX Sudirman. Kami long march ke Polda Metro Jaya,” jelasnya.

Meski begitu, tidak semua mahasiswa UI turun aksi. Sebagian memilih fokus pada ruang diskusi internal, namun tetap mendukung spirit perlawanan terhadap ketidakadilan.

Daerah- Daerah Turut Bergerak

Fenomena ini bukan monopoli Jakarta. Di berbagai daerah, mahasiswa mengusung isu spesifik yang merefleksikan kondisi lokal:

Yogyakarta – PMII DIY menggelar aksi di pertigaan UIN Sunan Kalijaga, menolak diam atas ketidakadilan.

Ciamis – Mahasiswa menuntut pencabutan tunjangan DPR RI, pengelolaan APBN yang berpihak rakyat, serta pengesahan RUU Perampasan Aset.

Garut - Aksi ratusan mahasiswa dari berbagai elemen berlangsung damai menyampaikan aspirasi terkait isu nasional dan daerah yang digelar di Simpang Lima, kantor DPRD Garut, dan berakhir di kantor Pemerintah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (2/9/2025)

Bengkulu – Massa menolak kenaikan pajak, mengkritik represifitas aparat, dan menyuarakan pengesahan RUU Perampasan Aset.

Pati (Jawa Tengah) – Aksi menolak kenaikan PBB-P2 hingga 250% berkembang menjadi protes politik, berujung pembatalan kebijakan dan hak angket terhadap Bupati.

Data Reuters menyebutkan, hingga awal September aksi telah merebak di 32 dari 38 provinsi, menandakan eskalasi gerakan mahasiswa yang masif dan terorganisir.

Insiden yang Memicu Kemarahan

Gelombang protes makin membesar setelah insiden tragis menimpa Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang meninggal akibat tertabrak mobil polisi. Kasus ini memicu kemarahan publik, memperlebar simpati, dan menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan struktural.

Respon Pemerintah dan Kritik Publik

Presiden Prabowo Subianto menanggapi dengan mencabut tunjangan perumahan DPR yang dianggap mencolok dan menangguhkan kunjungan luar negeri para anggota dewan. Namun, respons keras aparat dengan gas air mata, peluru karet, hingga water cannon menuai kritik tajam dari Human Rights Watch dan PBB.

Ajakan Mendiktisaintek: Dialog, Bukan Kekerasan

Di tengah situasi panas, Brian Yuliarto mengajak seluruh pimpinan kampus membuka ruang dialog.

“Kampus harus menjadi contoh demokrasi sehat dan bermartabat. Aspirasi mahasiswa perlu didengar langsung, dengan dialog terbuka dan langkah persuasif,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga marwah gerakan mahasiswa agar tidak ditunggangi provokasi destruktif yang merusak solidaritas sosial.

Mahasiswa sebagai Kompas Moral

Gerakan mahasiswa tahun 2025 membuktikan bahwa suara muda tetap vital dalam mengawal demokrasi Indonesia. Dari Jakarta hingga pelosok daerah, mahasiswa menunjukkan bahwa aspirasi mereka bukan sekadar teriakan di jalanan, melainkan cermin dari nurani rakyat.

 

Editor : Farida Denura

Fokus Terbaru