Selasa, 27 Januari 2026

Tragedi Timothy di Kampus Udayana: Alarm Serius soal Budaya Perundungan di Dunia Akademik


  • Minggu, 19 Oktober 2025 | 23:00
  • | Fokus
 Tragedi Timothy di Kampus Udayana: Alarm Serius soal Budaya Perundungan di Dunia Akademik Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan keterangan seusai menghadiri rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di kediaman pribadinya kawasan Kertanegara ANTARA/Andi Firdaus

Kasus meninggalnya Timothy Anugrah Saputra, mahasiswa Universitas Udayana, membuka luka lama tentang perundungan di dunia kampus. Kementerian Pendidikan Tinggi hingga RSUP Ngoerah turun tangan. Kampus wajib jadi ruang aman, bukan arena tekanan sosial.

KABAR meninggalnya Timothy Anugrah Saputra (22), mahasiswa semester VII Program Studi Sosiologi Universitas Udayana (Unud), Bali, mengejutkan publik.

Ia ditemukan meninggal dunia pada Rabu (15/10), diduga akibat tekanan berat yang bersumber dari perundungan rekan-rekannya sendiri.
Tragedi ini bukan hanya mengundang duka, tapi juga kemarahan publik, terutama setelah tangkapan layar percakapan grup WhatsApp berisi ejekan terhadap korban tersebar luas di media sosial.

Yang lebih menyakitkan, sejumlah mahasiswa lain justru melecehkan kematian Timothy secara daring. Aksi tanpa empati itu memantik gelombang protes dan pertanyaan besar:

Seberapa aman sebenarnya dunia kampus bagi para mahasiswa hari ini?

Respons Cepat Mendiktisaintek dan Rektor Unud

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyampaikan rasa duka dan keprihatinan mendalam atas kasus tersebut.

Seusai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Jakarta (19/10), Brian menegaskan bahwa kampus harus menjadi ruang aman bagi seluruh mahasiswa.

“Kami tentu sangat kaget dan sangat prihatin dengan musibah yang menimpa saudara Timothy. Kami sudah berkoordinasi dengan Rektor Universitas Udayana dan meminta penjelasan langsung,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Permendikbud Nomor 53 Tahun 2024 telah menjadi dasar hukum pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.

“Kita sudah punya aturan. Sekarang tinggal komitmen kampus untuk memastikan ruang akademik tetap kondusif dan aman,” tambahnya dikutip Antara.

Unud Bentuk Tim Investigasi Khusus

Menindaklanjuti kejadian ini, pihak Rektorat Universitas Udayana membentuk tim investigasi khusus untuk menelusuri penyebab meninggalnya Timothy.

Tim ini bertugas menggali fakta dari semua pihak, termasuk mahasiswa dan saksi di lapangan. Selain itu, kampus juga menyediakan pendampingan psikologis dan hukum bagi keluarga korban.

Langkah ini diapresiasi oleh Mendiktisaintek yang memastikan pemantauan ketat agar proses investigasi berjalan transparan dan adil. Brian berharap tragedi ini menjadi refleksi bersama bagi seluruh civitas akademika.

“Banyak mahasiswa mungkin mengalami tekanan sosial tanpa terlihat. Kampus perlu membangun atmosfer yang saling peduli dan tidak menormalisasi ejekan sebagai candaan,” tegasnya.

RSUP Ngoerah Ambil Langkah Tegas

Kasus ini juga menyeret sejumlah dokter peserta didik (koas) di RSUP Prof. IGNG Ngoerah Denpasar, yang diduga ikut mengomentari kematian Timothy secara tidak pantas di media sosial.

Pelaksana Tugas Direktur Utama RSUP Ngoerah, dr. I Wayan Sudana, memastikan pihaknya mengembalikan para peserta didik itu ke Universitas Udayana untuk dilakukan pendalaman dan investigasi lebih lanjut.

“Mereka telah mencoreng nama baik institusi dengan komentar yang tidak pantas. Kami ambil langkah tegas untuk menjaga integritas RSUP Ngoerah,” ujar Sudana.

Sudana menegaskan bahwa para peserta didik tersebut bukan karyawan RSUP Ngoerah, melainkan mahasiswa koas yang sedang belajar di rumah sakit tersebut.

Ia juga menegaskan komitmen RSUP Ngoerah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, beretika, dan saling menghargai.

Suara Publik dan Tanggung Jawab Moral Kampus

Tragedi Timothy menyoroti satu kenyataan pahit: budaya perundungan masih hidup di lingkungan kampus.

Publik menuntut agar kasus ini tidak berhenti di permintaan maaf atau pencarian kambing hitam, tetapi menjadi titik balik bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

Dewan Fakultas FISIP Unud telah mengadakan rapat bersama Himpunan Mahasiswa, DPM, serta mahasiswa yang terlibat dalam percakapan daring terkait kasus ini.

Pihak kampus menyebut bahwa komentar-komentar di media sosial muncul setelah korban meninggal dunia, namun tetap menilai tindakan tersebut sebagai ujaran nir empati yang perlu ditindaklanjuti.

Kampus juga membentuk Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) untuk menemukan fakta yang terang dan memastikan kejadian serupa tak terulang.

Kematian yang Memanggil Perubahan

Timothy sempat dilarikan ke RSUP Prof. Ngoerah dalam keadaan kritis sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Hingga kini, pihak kepolisian masih menyelidiki penyebab pasti kematiannya — apakah murni jatuh atau ada unsur lain.

Namun yang jelas, kematian Timothy adalah peringatan keras bagi dunia kampus: bahwa tekanan sosial, ejekan, dan perundungan, sekecil apa pun bentuknya, bisa berujung fatal.

Refleksi: Kampus Harus Jadi Ruang Aman

Kampus seharusnya menjadi tempat tumbuhnya ilmu dan empati, bukan arena tekanan sosial yang mematikan karakter.

Kematian Timothy bukan sekadar berita duka — ini adalah cermin bahwa sistem pendidikan tinggi harus berubah.

Budaya saling menghargai, mendukung, dan menjaga sesama mahasiswa perlu menjadi roh baru dalam kehidupan akademik Indonesia.

Editor : Farida Denura

Fokus Terbaru