Kampus Inggris Serbu India, Bisakah Menang di Pasar Pendidikan Raksasa?


  • Selasa, 24 Maret 2026 | 16:30
  • | Fokus
 Kampus Inggris Serbu India, Bisakah Menang di Pasar Pendidikan Raksasa? Universitas Southampton sudah lebih dulu membuka kampus di Delhi. (Net)

Universitas Inggris mulai ekspansi besar ke India dengan membuka kampus baru. Apakah strategi ini mampu menjawab kebutuhan pendidikan atau justru menghadapi tantangan besar di lapangan?

DI TENGAH hiruk pikuk Mumbai yang tak pernah tidur, ada satu sudut yang terasa berbeda—tenang, teduh, dan penuh harapan. Di tepi Danau Powai, kampus baru Universitas York hampir rampung. Bukan sekadar bangunan megah, tetapi simbol dari pergeseran besar dalam dunia pendidikan global.

Mulai tahun ajaran 2026–2027, kampus ini akan resmi menerima mahasiswa. Target awalnya sekitar 270 orang, namun dalam beberapa tahun ke depan jumlah itu diproyeksikan melonjak hingga 3.000–4.000 mahasiswa per tahun.

Fenomena ini bukan langkah tunggal. Setidaknya sembilan universitas Inggris kini “berbondong-bondong” masuk ke India—mulai dari Aberdeen, Bristol, Liverpool, Queen’s Belfast, hingga Coventry. Bahkan Universitas Southampton sudah lebih dulu membuka kampus di Delhi.

Kenapa India Jadi Incaran?

Jawabannya sederhana: pasar yang sangat besar.

India memiliki sekitar 40 juta mahasiswa, dan angka ini diperkirakan membutuhkan tambahan hingga 70 juta kursi pendidikan tinggi pada 2035. Artinya, ada celah besar—sekitar 25 hingga 30 juta kursi—yang belum terpenuhi.

Lebih menarik lagi, setiap tahun ada sekitar 11 juta siswa lulus sekolah menengah. Namun, hanya sebagian kecil yang bisa masuk ke institusi elite di dalam negeri.

Di sinilah peluang muncul.

Bagi universitas Inggris yang sedang menghadapi tekanan finansial di dalam negeri, India adalah pasar potensial. Sementara bagi mahasiswa India, kehadiran kampus internasional di dalam negeri bisa menjadi alternatif dari studi luar negeri yang mahal.

Harga Lebih Murah, tapi Tetap Premium

Salah satu strategi yang digunakan adalah menekan biaya.

Biaya kuliah di kampus York di Mumbai dipatok sekitar 50% lebih murah dibandingkan di Inggris. Meski masih tergolong mahal untuk standar India, universitas Inggris menawarkan sesuatu yang dianggap “bernilai lebih”: kualitas global, kurikulum berbasis industri, dan peluang karier.

Bahkan, beberapa program memungkinkan mahasiswa belajar secara hybrid—sebagian di India, sebagian di Inggris.
Namun, pertanyaannya: apakah ini cukup?

Daya Tarik Kuliah ke Luar Negeri Masih Kuat

Selama puluhan tahun, mahasiswa India memilih kuliah di luar negeri bukan hanya untuk gelar, tetapi juga untuk pengalaman kerja internasional.

Banyak keluarga rela mengambil pinjaman besar demi mimpi tersebut.

Bagi sebagian mahasiswa, kuliah di kampus internasional yang berada di India mungkin terasa “kurang lengkap” tanpa pengalaman tinggal dan bekerja di luar negeri.

Namun, kebijakan imigrasi yang semakin ketat di berbagai negara bisa menjadi faktor pendorong perubahan. Kampus asing di India bisa menjadi alternatif yang lebih aman secara finansial dan administratif.

Tantangan Nyata di Lapangan

Meski terlihat menjanjikan, ekspansi ini tidak tanpa hambatan.

Pertama, menjaga standar akademik Inggris dengan biaya yang lebih rendah bukan perkara mudah. Universitas harus sangat selektif dalam membuka program studi—terutama yang memiliki peluang kerja tinggi.

Kedua, regulasi di India cukup kompleks. Universitas asing harus beradaptasi dengan sistem birokrasi yang berbeda dan seringkali berlapis.

Ketiga, persoalan infrastruktur.

India membutuhkan sekitar 30.000 hektar lahan kampus baru dan miliaran kaki persegi fasilitas akademik untuk memenuhi lonjakan permintaan. Estimasi investasi bahkan mencapai $100 miliar—angka yang tidak kecil.

Akibatnya, banyak universitas kemungkinan akan memulai dengan model “minim aset”—menyewa gedung atau bekerja sama dengan institusi lokal sebelum membangun kampus sendiri.

Apakah Ini Akan Berhasil?

Jawabannya belum pasti.

Dalam jangka pendek, jumlah mahasiswa mungkin masih terbatas. Pertumbuhan baru akan terlihat dalam lima hingga tujuh tahun, ketika lulusan pertama mulai masuk ke dunia kerja dan diakui oleh industri.

Yang jelas, keputusan mahasiswa India kini semakin pragmatis: mereka tidak hanya mencari gelar, tetapi juga hasil nyata—pekerjaan, penghasilan, dan mobilitas global sebagaimana dilaporkan dan dikutip dari BBC.

Taruhan Besar dengan Hasil yang Masih Abu-abu

Menariknya, kontribusi kampus internasional terhadap pendapatan universitas Inggris masih relatif kecil.

Dari total $43 miliar pendapatan ekspor pendidikan Inggris, kampus luar negeri hanya menyumbang sekitar $1,34 miliar. Ekspansi ke India bahkan diperkirakan hanya menambah sekitar $67 juta—angka yang jauh lebih kecil dibandingkan miliaran dolar yang dibawa mahasiswa India ke Inggris setiap tahunnya.

Artinya, ini bukan sekadar ekspansi bisnis, tetapi juga eksperimen besar.

Apakah kampus Inggris di India akan menjadi masa depan pendidikan global?

Atau justru menjadi strategi yang terlalu ambisius?
Waktu yang akan menjawab.

Editor : Farida Denura

Fokus Terbaru