Loading
Sejumlah murid belajar di ruang kelas terbuat dari bambu di SD Negeri Girijagabaya, di Kampung Sinarjaya, Muncang, Lebak, Banten, Rabu (27/11). (Antara/Asep Fathulrahman)
DI UJUNG Jawa Timur dan lereng perbukitan Jawa Barat, dua guru dengan cara berbeda mengeja arti pendidikan. Satu membangun ruang baca dari dinding bambu. Satu lagi merintis sekolah gratis dari hasil berjualan sapu ijuk. Keduanya punya satu kesamaan: tak mau anak-anak desa mereka tumbuh tanpa harapan.
Bu Tatik dan “Sekolah dari Balai Dusun”
Pagi itu, di Dusun Lempong Pucung, Pasuruan, Bu Tatik—nama lengkapnya Siti Khotimah—menyapu ruang kelas berlantaikan tanah. Dindingnya hanya gedek (anyaman bambu), sebagian sudah bolong. Namun setiap pagi ia datang lebih dulu, memastikan papan tulis bersih dan buku-buku masih layak pakai.
Sejak tahun 2010, “Sekolahnya Bu Tatik” menjadi ruang alternatif belajar bagi anak-anak yang putus sekolah atau belum mengenal huruf. Ia memulai dari balai dusun yang tak terpakai, hanya bermodalkan niat dan sedikit pengalaman mengajar mengaji.
Iuran? Rp6.000 per bulan. Tapi tak semua mampu membayar. Maka Bu Tatik menjemput bola. Ia datangi rumah-rumah, rayu anak-anak yang malu karena tak punya seragam, dan yakinkan orang tua mereka bahwa pendidikan tak perlu mahal.
“Saya lebih takut mereka besar tanpa ilmu, daripada rugi uang,” ujarnya lembut.
Kini, puluhan anak telah belajar di ruang kecil itu. Beberapa bahkan telah lulus SMA. Meski fasilitas terbatas, cinta Bu Tatik tak pernah kekurangan.
Ahmad Jamaludin dan Sekolah dari Sapu Ijuk
Ratusan kilometer dari sana, di Desa Jayagiri, Cianjur, Ahmad Jamaludin menjalani kisah serupa namun berbeda. Ia adalah guru honorer yang mengundurkan diri demi mendirikan sekolah berbasis komunitas bernama SMP IT Pancuh Tilu dan PAUD Karang Muda.
Dana operasionalnya? Dari berjualan sapu ijuk buatan tangan sendiri. Ia dan warga sekitar merajut sapu dari serabut aren dan menjualnya dari desa ke desa. Keuntungan disisihkan untuk membiayai gedung, membeli papan tulis, bahkan menyiapkan asrama dan kantin sehat bagi siswa-siswinya.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya sekolah, tapi juga tinggal di lingkungan yang aman dan layak,” katanya.
Ahmad percaya bahwa akses pendidikan tidak boleh dibatasi oleh letak geografis atau status ekonomi. Kini, sekolahnya sudah menampung puluhan murid, banyak di antaranya tinggal dan belajar secara gratis.
Dua Nama, Satu Tujuan
Bu Tatik dan Ahmad Jamaludin tak pernah bertemu. Tapi mereka berbagi semangat yang sama: pendidikan sebagai hak dasar, bukan barang mewah.
Keduanya memulai dari nol. Tanpa dukungan pemerintah. Tanpa sponsor. Hanya dari keyakinan bahwa satu guru bisa mengubah masa depan satu desa.
Di tengah sistem pendidikan yang kadang terlalu formal dan tersentralisasi, sosok seperti mereka hadir sebagai pengingat bahwa perubahan besar sering dimulai dari niat kecil—yang dikerjakan terus-menerus, dengan hati.
(Diolah dari sumber: Cerita Bu Tatik – Tzu Chi Indonesia dan Guru Sapu Ijuk, Ahmad Jamaludin – inovasi.or.id)