Petani Muda di NTT Ini Biayai Sekolah Sendiri dari Bertani Sayur dan Ternak Ayam


  • Rabu, 23 Juli 2025 | 19:30
  • | Sosok
 Petani Muda di NTT Ini Biayai Sekolah Sendiri dari Bertani Sayur dan Ternak Ayam Lodiana, petani muda yang mampu biayai sekolah sendiri dari hasil pertanian, sedang memetik buah tomat di lahan pertaniaannya. ANTARA/Kornelis Kaha.

MEREKA tak hanya bertani, tapi juga membuktikan bahwa generasi muda bisa mandiri secara ekonomi bahkan sejak remaja.

Lodiana Lae: Petani Remaja yang Mandiri Biayai Sekolah Sendiri

Lodiana Lae (19), remaja asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar petani muda biasa. Sejak duduk di bangku SMP, ia sudah membiayai sendiri kebutuhan sekolahnya dari hasil bertani.

“Saya bangga, karena sejak muda sudah bisa cari uang sendiri buat sekolah,” ungkap Lodiana dengan mata berkaca-kaca.

Sejak 2019, Lodiana tergabung dalam Kelompok Tani Taeto. Dari hasil bertani sayuran seperti sawi, tomat, kol, brokoli, hingga cabai, ia mampu mendapatkan penghasilan sekitar Rp400 ribu per bulan. Uang tersebut digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah, membayar iuran, hingga menabung. Sebagian tabungannya bahkan ia gunakan untuk membeli ponsel sendiri, tanpa membebani orang tuanya.

Kini, Lodiana telah lulus SMA dan sedang menunggu hasil tes masuk universitas bisnis di Jakarta melalui jalur beasiswa.

Dari Ladang Sayur hingga Telur Ayam: Mahasiswa Ini Buktikan Bisa Kuliah Sendiri

Kisah serupa datang dari Resty, mahasiswa semester tujuh di Universitas Terbuka. Lewat Kelompok Tani Alam Jaya, ia mengelola empat bedeng tanaman sayur dan peternakan ayam petelur.

Dari satu kali panen sayur, Resty bisa meraup hingga Rp1 juta. Ditambah penghasilan dari penjualan telur ayam yang mencapai Rp7 juta per bulan, ia mampu membiayai kuliahnya sendiri dan membantu kebutuhan keluarga.

“Syukur sekali, bisa bantu orang tua dan kuliah sendiri,” ujar Resty dikutip Antara.

Andi: Petani Muda yang Sukses Bangun Rumah dan Biayai Istri Kuliah

Andi (25), salah satu anggota awal program Youth-Led Agri Food, kini menikmati hasil dari ketekunannya bertani dan beternak. Dari hasil penjualan telur ayam, ia mampu mengumpulkan Rp5–6 juta setiap bulan, meski harus menyisihkan sebagian besar untuk membeli pakan ayam.

Berkat usahanya, ia bisa membangun rumah layak dan membiayai kuliah istrinya. Kini, Andi juga memasok telur ke beberapa kios di Kota Soe, meskipun permintaan pasar lebih besar dari kapasitas produksinya saat ini.

Lahan Gersang Jadi Kebun Produktif: Peran Plan Indonesia dan Citi Foundation

Ketua Kelompok Tani Teota Yemime mengenang kondisi awal lahan pertanian mereka yang gersang dan sulit air. Namun sejak mendapat dukungan dari Plan International Indonesia dan Citi Foundation pada 2019—melalui bantuan pompa air dan selang—produktivitas mereka meningkat pesat. Jumlah bedeng yang awalnya hanya 30 kini sudah mencapai 100.

Kelompok Tani Taeto yang beranggotakan 10 orang—rata-rata masih muda, bahkan ada yang masih sekolah—mengelola hasil pertanian secara terbuka dan adil. Semua anggota mendapat pembagian hasil secara merata.

Program Youth-Led Agri Food Bantu Ratusan Anak Muda Bangkit dari Desa

Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, menjelaskan bahwa program Youth-Led Agri Food (YLAF) telah menjangkau ratusan pemuda di TTS dan juga di Kabupaten Manggarai, Flores. Program ini mendorong keterlibatan anak muda dalam sektor pertanian modern dan ramah lingkungan.

Albert Amtiran, selaku Project Manager YLAF, menyebutkan bahwa hingga Juni 2025, sebanyak 411 anak muda telah dilatih untuk mengembangkan pertanian organik dan peternakan skala kecil. Pelatihan ini meliputi pembuatan pupuk dan pestisida organik, teknik pengelolaan air, serta strategi pemasaran hasil pertanian.

Dukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Lewat Hasil Pertanian Lokal

Bupati TTS, Eduard Markus Lioe, menyambut positif panen raya hasil pertanian kaum muda di Kecamatan Amanuban Timur. Menurutnya, program ini sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat terkait Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak sekolah dan ibu hamil.

Ketersediaan sayur mayur di wilayah Soe selama ini masih minim. Maka dari itu, hasil panen dari kelompok tani muda bisa menjadi solusi lokal yang berkelanjutan.

“Dari sini kita belajar, pertanian bukan hanya milik generasi tua. Anak-anak muda juga bisa sukses di bidang ini,” tegas sang bupati.

Pertanian Modern Butuh Energi Muda

Apa yang dilakukan Lodiana, Resty, Andi, dan ratusan anak muda lainnya di NTT menunjukkan bahwa pertanian bukan profesi usang, tapi justru lahan subur bagi generasi muda yang kreatif dan mandiri. Dengan dukungan pelatihan, akses air, teknologi tepat guna, dan pembagian hasil yang adil, masa depan pertanian Indonesia terlihat jauh lebih cerah.

Editor : Farida Denura

Sosok Terbaru