Sesilia Gisela Claudia: Dari Rasa Ragu ke Panggung Budaya, Perjalanan Berani Seorang Putri Kultural UGM 2025


  • Selasa, 24 Maret 2026 | 21:30
  • | Sosok
 Sesilia Gisela Claudia: Dari Rasa Ragu ke Panggung Budaya, Perjalanan Berani Seorang Putri Kultural UGM 2025 Sesilia Gisela Claudia Putri Kultural UGM 2025. (Foto: Dok Pribadi)

Kisah inspiratif Sesilia Gisela Claudia, Putri Kultural Festival UGM 2025 asal NTT. Dari rasa ragu, ia tumbuh menjadi sosok berani yang membawa budaya lebih dekat dengan generasi muda.

ADA satu fase dalam hidup ketika seseorang harus memilih: tetap di zona nyaman, atau melangkah ke sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Bagi Sesilia Gisela Claudia, pilihan itu datang tanpa rencana yang benar-benar matang. Mahasiswi yang lahir di Maumere, Nusa Tenggara Timur, ini tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nilai budaya—sesuatu yang kelak membentuk cara pandangnya terhadap identitas.

Namun, jalan menuju panggung Putri Kultural Festival 2025 UGM justru dimulai dari keraguan.

“Coba atau menyesal?

Ia memilih mencoba.

Berani, Bertumbuh, dan Terus Mengeksplorasi

Sesilia menggambarkan dirinya dalam tiga kata: berani, bertumbuh, dan eksploratif.

Sebagai anak geologi, ia terbiasa melihat dunia sebagai ruang eksplorasi. Rasa ingin tahu itu sudah tumbuh sejak kecil—masa yang ia kenang sebagai sederhana, tetapi penuh pembelajaran.

Ia tidak pernah dipaksa menjadi sesuatu oleh keluarganya. Namun justru dari kebebasan itu, muncul dorongan kuat dari dalam dirinya untuk membuktikan bahwa ia mampu.

IMG_202603242141186928

Budaya yang Hidup Sejak Rumah

Tumbuh di NTT, Sesilia tidak hanya mengenal budaya—ia menjalaninya.

Sejak kecil, orang tuanya memperkenalkan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Dari situlah ia belajar tentang kesederhanaan, akar identitas, dan bagaimana budaya benar-benar “hidup”.

“Budaya itu bukan cuma sesuatu yang ditampilkan, tapi sesuatu yang hidup dalam diri kita,” ujarnya.

Dari rasa penasaran, tumbuh rasa memiliki.

Dari rasa memiliki, lahir kebanggaan.

Pertarungan Terbesar: Melawan Diri Sendiri

Di balik pencapaian, ada proses yang tidak selalu terlihat.

Bagi Sesilia, tantangan terbesar bukan datang dari luar—melainkan dari dalam dirinya sendiri: rasa takut, overthinking, dan ekspektasi.

Ada momen ketika ia merasa tidak cukup. Tidak sebaik yang lain.

Namun, di titik itu ia menemukan satu kesadaran penting:

Ia tidak harus menjadi orang lain.

Ia hanya perlu menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

IMG_2026032421453973818

Merah dan Giska sebagai perwakilan Putra dan Putri Culfest 2025 dari Provinsi NTT. Giska berhasil meraih gelar Putri Culfes 2025. (Foto: Dok. Pribadi) 

Proses Sunyi yang Membentuk Diri

Perjalanan ini tidak hanya tentang tampil di depan.

Ada latihan mental. Ada pengelolaan emosi. Ada proses belajar percaya diri—bahkan saat tidak ada yang melihat.

Untuk menjaga keseimbangan, Sesilia punya caranya sendiri:

  • mendengarkan musik
  • menonton film
  • membaca
  • atau sekadar memberi waktu untuk diri sendiri

Baginya, musik bukan sekadar hiburan. Musik adalah bagian dari dirinya.

Eksplorasi: Cara Sesilia Bertumbuh

Jika ada satu hal yang paling mencerminkan dirinya, itu adalah eksplorasi.

Ia senang mencoba hal baru, menjelajahi tempat baru, dan membuka diri terhadap pengalaman baru.

Kebiasaan ini pula yang membantunya dalam perjalanan sebagai Putri Kultural—membuatnya lebih berani, lebih terbuka, dan lebih siap menghadapi tantangan.

Budaya, Generasi Muda, dan Era Digital

Sesilia melihat satu tantangan besar: generasi muda mulai merasa jauh dari budaya.

Padahal, menurutnya, masalahnya bukan pada budayanya—melainkan cara kita mendekatinya.

“Budaya itu sebenarnya keren. Tinggal bagaimana kita mengemasnya supaya lebih dekat dengan anak muda,” ujarnya.

Ia percaya, di era digital, budaya justru punya peluang besar untuk hidup kembali—melalui konten kreatif, media sosial, dan pendekatan yang lebih relevan.

Membawa Budaya Lebih Dekat

Sebagai Putri Kultural Festival UGM 2025, Sesilia ingin menghadirkan budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menggagas program seperti:

  • Harmoni Nusantara (festival budaya interaktif)
  • Pasar Rasa (eksplorasi kuliner tradisional)
  • Berbeda Bersama (penggunaan pakaian daerah dalam keseharian)
  • Baginya, budaya tidak harus terasa formal.
  • Yang penting, terasa dekat.

Keluarga: Akar yang Menguatkan

Di balik perjalanan ini, ada peran besar keluarga.

Mama-nya adalah sosok yang selalu percaya padanya—bahkan ketika ia sendiri belum sepenuhnya yakin.

Sementara oma dan opa, yang berlatar belakang sebagai guru, membentuknya dengan disiplin dan tanggung jawab.

Dari keluarga, ia belajar satu hal penting: Tetap rendah hati, sejauh apa pun melangkah.

“Saya Tidak Berhenti Mencoba”

Jika harus merangkum perjalanannya dalam satu kalimat:

“Saya tidak sampai di sini karena saya sempurna, tapi karena saya tidak berhenti mencoba.”

Kemenangan ini bukan sekadar gelar. Melainkan bukti bahwa keberanian untuk melangkah—meski ragu—tidak pernah sia-sia.

Menjadi Diri Sendiri adalah Kekuatan

Sesilia ingin dikenang bukan hanya sebagai seseorang yang tampil.

Tetapi sebagai seseorang yang membawa dampak.

Yang membuat budaya tetap hidup.

Yang membuat generasi muda kembali merasa memiliki.

Dan di akhir, ia meninggalkan satu pesan sederhana:

Jangan takut mencoba.

Jangan takut keluar dari zona nyaman.

Karena sering kali, kita menemukan diri kita— justru saat kita berani melangkah.

PROFIL SINGKAT | Sesilia Gisela Claudia

Nama lengkap: Sesilia Gisela Claudia

Tempat, tanggal lahir: Maumere, 22 November 2006

Asal: Nusa Tenggara Timur (NTT)

Karakter diri: Berani, bertumbuh, eksploratif

Hobi: Eksplorasi tempat baru, musik, membaca

Minat: Geologi (panas bumi), komunikasi (MC & menulis)

Ingin dikenal sebagai:
Pribadi yang berani berproses dan mampu membawa makna dalam setiap hal yang dilakukan, terutama dalam memperkenalkan budaya.

 

Editor : Farida Denura

Sosok Terbaru