Loading
Domianus Ture Londa, peneliti kelautan asal Rote NTT yang menembus pendidikan hingga Norwegia. kabar-malaka.com)
NAMA Domianus Ture Londa mungkin tidak langsung dikenal luas. Namun kisah hidupnya adalah cermin dari satu hal penting dalam dunia pendidikan: bahwa latar belakang bukanlah batas akhir, melainkan titik awal.
Domianus lahir dan besar di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Nama panjangnya dulu sering membuatnya malu di bangku sekolah—sulit dieja, terdengar asing, dan kerap mengundang tawa. Kini, justru nama itulah yang menjadi penanda perjalanan jauh: dari kampung kecil di selatan Indonesia hingga pusat riset kelautan di Eropa Utara.
Selepas lulus dari Jurusan Perikanan Universitas Nusa Cendana, Kupang, Domianus memulai karier sebagai staf lapangan di sebuah yayasan konservasi laut kecil di Rote. Gaji pertamanya hanya Rp2,9 juta per bulan. Ia berkeliling desa pesisir dengan motor tua, melewati jalan rusak, bahkan sering menginap di pos kamling ketika hujan membuat perjalanan tak mungkin dilanjutkan.
Di lapangan, ia melihat dua kenyataan yang bertabrakan: laut Indonesia sangat kaya, tetapi nelayan hidup dalam keterbatasan. Dari situlah muncul keinginan untuk belajar lebih jauh—bukan demi gelar, tetapi agar bisa memahami dan mengelola sumber daya laut secara lebih adil.
Mimpi kuliah ke luar negeri terdengar mustahil. Bahasa Inggris ia pelajari dari ponsel sederhana. Internet ia dapatkan dengan naik ke bukit dekat kontrakan demi sinyal. Di tempat itulah ia mulai mengisi formulir beasiswa, bahkan ke negara yang hanya ia kenal dari atlas sekolah: Norwegia.
Tahun 2017, surat penerimaan dari Universitas Tromsø datang. Tangis pun pecah. Dengan tabungan sekitar Rp4 juta dan beasiswa yang pas-pasan, Domianus terbang ke Eropa Utara—ke wilayah dengan biaya hidup tertinggi di Norwegia.
Hari-hari awal di Tromsø bukanlah kisah romantis. Ia bekerja paruh waktu sebagai asisten laboratorium dan pencuci piring di restoran Italia. Jika dirupiahkan, penghasilannya mencapai Rp25–30 juta per bulan, namun biaya hidup membuat semuanya terasa sempit. Ia tinggal di kamar kos berukuran 2x3 meter dan bertahan dengan mi instan impor dari toko Asia.
Namun satu hal selalu ia ingat: orang tuanya di kampung bahkan belum pernah mencicipi kemewahan sekecil itu. Pikiran itu membuatnya bertahan.
Perjuangan itu berbuah. Setelah lulus S2, Domianus diterima bekerja di perusahaan riset kelautan di Bergen. Gaji pertamanya sebagai junior researcher, jika dikonversi ke rupiah, mencapai sekitar Rp850 juta per tahun. Telepon pertamanya ia arahkan ke sang ibu di Rote.
“Mama, bulan depan saya kirim uang buat ganti atap rumah yang bocor.”
Tangis pun kembali pecah—di dua benua yang berbeda.
Kini, setelah beberapa tahun bekerja dan naik jabatan, penghasilannya setara sekitar Rp2,1 miliar per tahun. Namun bagi Domianus, angka bukanlah inti cerita.
Yang paling berarti adalah apa yang bisa ia lakukan setelah sampai.
Setiap bulan, ia menyisihkan sekitar 10 persen penghasilannya untuk mendampingi anak-anak dari Rote dan wilayah sekitarnya yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri, tetapi terhambat biaya, akses, dan kepercayaan diri. Pendampingan yang ia berikan tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga mental dan akademik.
Ia membantu menyediakan akses internet, membimbing pencarian beasiswa, mendampingi proses aplikasi, hingga menemani diskusi daring meski sinyal sering terputus. Dan yang paling penting, ia memberi contoh nyata.
Kini ada tujuh anak yang ia bimbing. Satu telah lulus S2 di Belanda. Satu sedang menempuh S2 di Jepang.
Seorang anak petani rumput laut dari Alor kini belajar bioteknologi kelautan di Skotlandia.
Pesan yang sering ia terima sederhana, tetapi dalam maknanya:
“Bang Dom, saya bisa sampai di sini karena lihat perjuangan abang dulu.”
Bagi Domianus, kalimat itu tak bisa dinilai dengan rupiah ataupun krona Norwegia.
Ia selalu mengingat pesan almarhum ayahnya:
“Dom, kalau ko pi jauh, jang lupa di mana ko pu akar. Akar yang kuat itu yang bikin pohon bisa tetap berdiri.”
Hari ini, Domianus tinggal di Bergen yang dingin. Namun hatinya tetap hangat. Dari Rote hingga Tromsø. Dari pesisir Alor hingga Skotlandia.
Ia percaya, anak-anak Indonesia Timur akan terus bermunculan di panggung dunia. Dan ia memilih satu peran sederhana namun penting: menjadi jembatan kecil yang membantu mereka menyeberang. (Diolah dari kabar-malaka.com)