Selasa, 27 Januari 2026

Prof Ir. Ika Bali, M.Eng, Ph.D , Yang Muda yang Berkarya


  • Penulis Farida Denura
  • Rabu, 29 Februari 2012 | 00:00
  • | Sosok
 Prof Ir. Ika Bali, M.Eng, Ph.D , Yang Muda yang Berkarya Prof Ir. Ika Bali, M.Eng, Ph.D saat diambil dikukuhkan sebagai Guru Besar (Foto: Dok. Humas UKI)

Secara umum, Ika Bali  tergolong sosok yang meraih gelar guru besar dengan usia relatif muda, meski menempuh jalan panjang nan berliku. Proses pengajuan Prof Ir. Ika Bali, M.Eng, Ph.D itu memakan waktu yang cukup panjang. Lebih dari tiga tahun sejak diajukannya berkas usulan Guru Besar dari Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia (UKI), pada 4 Agustus 2008.

Bagi Ika Bali,  karena pertolongan Tuhanlah maka dikukuhkannya sebagai Guru Besar Tetap bidang ilmu Rekayasa Struktur pada Fakultas Teknik UKI  pada Kamis, 15 Desember 2011 lalu, di kampus UKI Cawang.
    
Dalam pidato pengukuhannya berJUDUL “Softened Strut-and-Tie Method sebagai Cara Alternatif Prediksi Kekuatan Dinding Geser Beton Bertulang pada Bangunan Tingkat Rendah” Ika Bali mengatakan, Indonesia  dikenal sebagai negara yang memiliki daerah rawan gempa yang sangat luas. Untuk itu dalam perencanaan bangunan perlu diperhitungkan kemampuan struktur dalam menahan beban gempa, mengingat banyaknya kerusakan bangunan pasca gempa.
    
Salah satu penyebab utama keruntuhan bangunan adalah akibat kurang kuatnya kolom dan detailing kolom yang tidak daktail. Dinding geser/shear wall sebagai salah satu elemen struktur penahan gempa sudah banyak dipelajari perilaku dan kekuatannya. Salah satu metode prediksi kekuatan dinding geser yang sangat dikenal adalah cara ACI (American Concrete Institute) yang juga diadopsi oleh peraturan beton bertulang Indonesia.
    
Cara lain untuk memprediksi kekuatan dinding geser adalah metode Softened strut-and-tie. Kata “softened” kata dia, mengacu kepada pentingnya fenomena perlemahan yang berarti bahwa beton bertulang yang retak akibat tekanan menunjukkan kekuatan dan kekakuan yang lebih rendah daripada beton yang tertekan secara uniaxial.
    
Metode ini sudah mengalami uji verifikasi secara eksperimental dan hasilnya telah terbukti bahwa Softened strut-and-tie jauh lebih akurat dan lebih konsisten dibandingkan cara ACI. Sehingga metode Softened strut-and-tie/SST dapat dijadikan cara alternatif.
      
Guru Besar Termuda

Dengan dikukuhkannya Prof. Ika Bali maka kini Fakultas Teknik UKI telah memiliki enam Guru Besar. Di lingkungan UKI, pria ini menjadi Guru Besar termuda. Dilahirkan di kota kecil bernama Muara-Enim, Sumatera Selatan pada PUBLISH_DATE 3 Oktober 1966. Anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Wantjik Halim dan Yuliana. Pendidikan SD sampai kelas 1 SMP ditempuhnya di Muara-Enim, kelas 2 SMP sampai SMA ditempuhnya di kota Lahat. Selesai SMA pada tahun 1984, melanjutkan pendidikan S1 pada Jurusan Teknik Sipil Universitas Kristen Indonesia (UKI), dan dilanjutkannya dengan pendidikan S2 bidang Structural Engineering atau Rekayasa Struktur di Asian Institute of Technology (AIT), Thailand dengan beasiswa dari ÖSW (Okumenisches Studienwerk e.V.) Germany.

Pendidikan S3 dengan bidang yang sama yaitu Structural Engineering/Rekayasa Struktur ditempuhnya di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), di kota Taipei, Taiwan, dengan beasiswa dari ÖSW (Okumenisches Studienwerk e.V.) Germany yang kemudian berubah nama menjadi EED (Church Development ServiceAn Association of the Protestant Churches in Germany). Dalam penelitian doktornya beliau mendapat dukungan dana dari National Center for Research on Earthquake Engineering (NCREE) Taiwan dan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), Taiwan.

Pendidikan singkat skala internasional yang pernah diikuti oleh Prof Ika Bali adalah Course on Seismic and Cyclone Hazards Mitigation, di AIT (Asian Institute of Technology) Thailand, pada tahun 1995, dengan beasiswa dari Japan International Cooperation Agency (JICA) and DHA-Geneva. Tahun 2002 di University of Kassel, Germany, Institute for Socio-Cultural Studies (ISOS), dalam program University Staff Development, dengan beasiswa DAAD (German Academic Exchange Service). Selain itu beliau pernah mengikuti International Training Program for Seismic Design of Structures 2005, dengan beasiswa dari National Center for Research on Earthquake Engineering/NCREE, Taipei, Taiwan.


Prof Ika Bali menjadi tenaga pengajar di Jurusan Teknik Sipil UKI sejak tahun 1991. Ini berarti beliau sudah 20 tahun lebih mengabdi di UKI. Terhitung 1 September 2011 yang lalu beliau diangkat sebagai Guru Besar berdasarkan SK Kemendiknas Republik Indonesia, menjadikan beliau sebagai salah satu Guru Besar yang muda di UKI dengan usia belum genap 45 tahun pada saat pengangkatan beliau sebagai Guru Besar. Sejak tahun 2009, Prof. Ika Bali menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknik Sipil di Fakultas Teknik UKI.

Di bidang penelitian, Prof. Ika Bali banyak meneliti perilaku elemen beton bertulang khususnya dinding geser akibat beban lateral yang disebabkan oleh beban gempa. Salah satu publikasi ilmiahnya dalam buku internasional berJUDUL: “Low-Rise RC Shear Walls: An Analytical Study of Lateral Load-Deflection Curves and Its Application,” diterbitkan oleh VDM Verlag Dr. Müller, Germany, pada tahun 2008.

Prestasi beliau yang lain adalah menerima penghargaan sebagai First University Outstanding Youth Award dan sekaligus First Construction Engineering Department Outstanding Youth Award dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), Taiwan pada tahun 2007. Selain itu mendapat penghargaan: Outstanding Contribution as a Member of Taiwan Reconnaissance Team for 2006 Yogyakarta (Indonesia) Earthquake.

Ketekunannya menghantar suami dari Lucyana Pasaribu, SS dan juga ayah dari Xarisa Azalia dan Kezia Nathania, melewati jenjang karier akademik yang sangat cemerlang mulai dari Lektor Muda pada 1 Maret 1999, Lektor pada 1 Januari 2001, Lektor Kepala, 1 Maret 2002 hingga Guru Besar pada 1 September 2011 melalui SK Mendiknas RI No. 72317/A4.3/KP/2011. Sehari-hari Prof Ika Bali juga menjabat sebagai Kepala Program Studi (Kaprodi) Teknik Sipil FT UKI. Proficiat Prof. Ika Bali! (Info/Farida Denura)

Menjadi Berkat Bagi Mahasiswa
Profesi mengajar rupanya sangat dinikmati Prof Ika Bali. Betapa tidak, sejak masih duduk di bangku kuliah, anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Wantjik Halim dan Yuliana ini telah menjadi asisten dosen.
    
Kata pria yang kini berusia 45 tahun ini, pilihan profesi ini berawal ketika menjadi mahasiswa dirinya aktif dalam pelayanan Persekutuan Mahasiswa UKI dimana visi dari pelayanan itu adalah bagaimana menjadi garam dan terang bagi sesama. Hal inilah mendorong dirinya menjadi dosen, meski pada awalnya kedua orang tuanya agak keberatan dengan pilihan anaknya yang dianggap tidak memiliki masa depan yang lebih baik.
    
Prof Ika Bali mengakui, walaupun kedua orangtuanya tidak tamat SD akan tetapi sangat mendukung dirinya dalam menempuh pendidikan hingga menyelesaikan studi doktoral dan juga ke jenjang Guru Besar saat ini. Cerita Prof Ika Bali, ayahnya mulai bekerja sebagai tenaga kasar dan kurang mengenyam pendidikan, namun terus mendukung dirinya untuk terus maju dalam pendidikan.
    
“Di dalam Tuhan, tidak ada yang mustahil. Semua karena anugerah Tuhan,” ucapnya menegaskan.
    
Ketika masih kuliah Prof Ika Bali tergerak hatinya untuk membantu sesama mahasiswa yang belum paham dengan mata kuliah yang diberikan. Dengan tekun dan sabar dirinya mengajar mereka hingga mereka mengerti. Apa yang diajarkan dia menurut teman-teman mengaku puas ketika mengajar sesama teman mahasiswa sangat mudah dimengerti.
    
“Mengajar itu saya nikmati karena ada suka cita tersendiri dengan berbagi ilmu kepada mahasiswa sehingga menjadi berkat bagi mereka,”kata Prof Ika Bali.
    
Meski sibuk dengan kegiatan mengajar, pria ini mengaku sangat senang berkumpul dengan anak-anak. Keluarga menurutnya merupakan hiburan yang melampaui hobinya. Sehingga Sabtu-Minggu adalah waktu yang sangat khusus  bagi keluarganya.


Sumber: Harian sore Sinar Harapan

 

 

Penulis : Farida Denura

Sosok Terbaru