Selasa, 27 Januari 2026

Ambisi Melahirkan Kader Berjiwa Nasionalis Sejati


  • Penulis Farida Denura
  • Rabu, 21 Maret 2012 | 00:00
  • | Sosok
 Ambisi Melahirkan Kader Berjiwa Nasionalis Sejati

Pancasila dan merah putih merupakan harga mati bagi perguruan tinggi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta. Kampus ini tengah bertranformasi dan kembali menegaskan dirinya sebagai kampus nasionalis bagi kaum marginal. Seperti apakah gema Pancasila di kampus itu? Berikut rangkuman perbincangan dengan Ketua Yayasan UTA '45, Rudyono Darsono belum lama berselang.

Salah satu dari empat pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yaitu Pancasila kian nyaring terdengar dan bergema di seantero kampus Universitas 17 Agustus 1945 (UTA '45). Bahkan gaungnya sudah bergema di hampir seantero wilayah Jakarta Utara, karena memang telah disosialisasikan di seluruh kecamatan di wilyah tersebut. Ini merupakan yang pertama di DKI Jakarta dan juga pertama di Indonesia dimana kampus bekerjasama dengan penguasa setempat dalam mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila.
   
Ketua Yayasan UTA '45, Rudyono Darsono mengatakan, Pancasila sebagai dasar, pandangan hidup bangsa dan sumber hukum negara harus tetap terjaga dan menjadi nyata. Terlihat, adanya krisis nilai-nilai Pancasila pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Kehidupan, kata Rudyono, berjalan tanpa memiliki makna dan karakter bangsa, terlebih masuknya arus globalisasi, kehidupan cenderung menjadi bebas, individualistik, dan materialistik.
   
Fenomena kekerasan (terorisme) dan benturan pandangan dan keyakinan hidup berbangsa dan bernegara (masalah ideologi) masih terjadi di tengah masyarakat. Oleh karenanya gerakan kembali ke Pancasila menjadi sikap dan tindakan yang sangat tepat dan benar, untuk menjaga keutuhan, kedamaian, membangun karakter bangsa serta memajukan NKRI, di samping meluruskan sebuah sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan Pancasila.
   
Sebagai perwujudan kepedulian dan komitmen terhadap situasi nasional dan keadaan kehidupan berbangsa dan bernegara, maka UTA '45 Jakarta mencanangkan dan siap menjadi pelaksana, serta menjembatani untuk kembali ke Pancasila. Bukan omong kosong saja, UTA '45 pun dalam bentuk Deklarasi Nasional  untuk kembali ke Pancasila.

Jauh sebelum Deklarasi Nasional, UTA '45 bersama Walikota Jakarta Utara menggagas kerjasama revitalisasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena menurut Rudyono, Pancasila harus dihayati, diamalkan dan dimulai dari kehidupan kampus dimana para mahasiswa merupakan kader-kader pemimpin bangsa di masa mendatang.
   
Pancasila menurut Rudyono justru harus dipahami, dimengerti dan diamalkan oleh para pemimpin bangsa ini. Rakyat, hanya mengikuti apa yang sudah diatur oleh pemimpinnya. Sehingga, kampus sebagai laboratorium pemimpin bangsa harus sedini mungkin mengenalkan dan mengamalkan Pancasila.
   
Melalui nilai-nilai Pancacila, ditekankan tidak adanya satu golongan merasa lebih superior, lebih baik, lebih kuat, dan lebih mampu dari yang lain. Semua golongan adalah sama. Lebih lanjut Rudyono mengatakan, salah satu sila terpenting dari Pancasila yang seyogyanya dijalankan dalah sila kelima dari Pancasila yaitu kesejahteraan. Karena kesejahteraan adalah yang utama dan kehidupan berbangsa dan bernegara dan terbukti mampu memperbaiki sedikit demi sedikit untuk membuat UTA '45 kembali bangkit ditandai dengam mencanangkan sebagai tahun awal pengkaderan generasi muda di usianya yang ke-59 tahun, tepatnya 14 Juli 2011 lalu. UTA '45 sebagai kawah candradimukanya para kader-kader bangsa ke depan dan diharapkan pengkaderan yang sedang berlangsung ini selesai dalam waktu singkat, 1-2 tahun.
   
Nilai-nilai Pancasila itu kini sedang disemaikan di kampus UTA '45 yang diimplementasikan di dalam mata kuliah. Tahun ini, secara akademik Pancasila sebagai mata kuliah khusus dimasukan ke dalam kurikulum akademik Pancasila dan Kebangsaan dimana akan ditingkatkan, diintensifkan ke dalam Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU).
   
Pria yang baru setahun bergabung di UTA '45 ini menegaskan, kader ideal pemimpin bangsa yang lahir dari rahim kampus UTA '45 adalah yang memegang teguh Pancasila dan UUD '45 lebih dari cukup. Karena menurut dia dengan mengimplementasikan nilai-nilai dari kedua pilar itu secara sungguhg-sungguh maka diyakini para mahasiswa sudah bisa membawa kebangkitan bagi bangsa Indonesia.

Nasionalis Sejati

Rudyono  juga menambahkan menginjak usianya ke-59, UTA '45 pun tengah berbenah diri. Hal kecil sebagai awal transformasi itu adalah merubah penyebutan kampus yang dulunya Untag diganti menjadi UTA '45. Dengan demikian kampus ini kembali tampil penuh percaya diri dalam menyesuaikan situasi kondisi yang kini sedang terjadi.
   
Menurut dia, saat sekarang yang dikejar adalah market place yang dibutuhkan oleh bangsa dan negara serta dunia usaha. Bagaimana mempersiapkan itulah yang akan diusung UTA '45 ke depan yakni bagaimana mempersiapkan para mahasiswa yang sudah tamat, kemana hendak dituju.
   
Meski tengah berbenah diri misalnya dengan dengan sedang membangun kampus baru berlantai delapan, identitas UTA '45 menurut Rudyono tidak pernah berubah sebagai kaum nasionalis sejati yang tetap dengan satu prinsip bahwa ideologi, nasionalisme, Pancasila dan UUD '45 menjadi satu-kesatuan yang utama bagi UTA '45 dan juga merupakan character building.
   
Dengan menegaskan diri sebagai kampus bagi kaum marginal maka segala konsekuensinya pun ditanggung seperti mendidik para mahasiswa yang kurang mampu secara finansial namun memiliki potensi besar yang siap dididik menjadi kader bangsa seturut cita-cita luhur kampus merah putih. Penegasan ini bukan omong kosong belaka, segala upaya perbaikan kesejahteraan sedang dilakukan, namun tidak pernah berpikir untuk mengangkat citra kampus ini sebagai milik kaum elit.
   
“Universitas ini adalah universitas kaum nasionalis yang memikirkan anak bangsa yang mempunyai kemampuan secara akademis tapi kurang punya kemampuan finansial. Sehingga melalui campur tangan Tuhan, mudah-mudahan tahun depan yayasan ini pun memiliki unit panti asuhan agar pengkaderan secara total dimulai dari SD hingga tingkat perguruan tinggi. Kami akan tampung anak-anak kurang mampu di panti dan kami didik mereka,”ujar Rudyono menjelaskan.
   
Guna mendukung ambisi tersebut, para dosen sebagai urat nadi kampus, yang mengajar di UTA '45 haruslah bervisi nasional dan Pancasila. Merah putih harus selalu di dada mereka, serta siap bekerja tanpa dibayar.
   
Rudyono adalah sosok seorang pengusaha yang terjun ke dunia pendidikan. Menurut dia, sebagai pebisnis di bidang konstruksi, terjun ke dunia pendidikan memiliki seni tersendiri dibandingkan dengan dunia bisnis yang penuh dengan tantangan. Dunia pendidikan baginya menarik untuk dijalankan dan bukan menjadi sasaran mencari keuntungan karena merupakan dunia sosial.
   
Ketika ditanya visi misinya memimpin UTA '45, Rudyono yang memimpin sejak 25 Mei 2010 lalu menjelaskan bahwa visi misinya adalah bagaimana membuat seluruh masyarakat wilayah Jakarta Utara mengenal UTA '45 dan di setiap rumah tangga mereka ada alumni yang lahir dari UTA '45. Serta bagaimana mereka mengenal UTA '45 ini sebagai kampus yang tetap eksis dan siap melahirkan kader bangsa berjiwa Pancasila dan nasionalis sejati.
   
Di mata Rudyono, peran alumni begitu penting. Hingga saat ini tercatat lebih dari 15 ribu alumni dari berbagai fakultas. Ikatan alumni memang sudah terbentuk dan akan diaktifkan kembali karena menurut dia alumni merupakan aset dari sebuah universitas. Dari kampus ini telah lahir tokoh-tokoh penting di antaranya mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, politisi Ade Supriyatna dan masih banyak lagi. Rudyono meminta pihak Rektorat agar kembali menggalang kekuatan alumni yang dapat mendukung kegiatan universitas.
   
UTA '45 memiliki 6 Fakultas yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Farmasi, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan Fakultas Teknik. Selain itu juga memiliki program pasca sarjana untuk program studi magsiter hukum. Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Farmasi merupakan fakultas-fakultas favorit para mahasiswa di kampus ini. Khusus untuk Fakultas Farmasi, tengah dibangun laboratorium farmasi modern dengan mengadopsi laboratorium dari farmasi Universitas Indonesia, juga disesuaikan dengan standar pabrik farmasi. Semua upaya yang dilakukan Rudyono beserta segenap jajarannya tak lain adalah ingin melahirkan kader-kader berjiwa Pancasila dan nasionalis sejati. Sungguh mulia dan patut didukung!(Farida Denura)

Pendidikan Bukan Sasaran Mencari Keuntungan

Rudyono adalah sosok pengusaha yang terjun ke dunia pendidikan. Menurut dia, sebagai pebisnis di bidang konstruksi, terjun ke dunia pendidikan memiliki seni tersendiri dibandingkan dengan dunia bisnis yang penuh dengan tantangan. Dunia pendidikan baginya menarik untuk dijalankan. Dunia ini bukan sasaran mencari keuntungan karena merupakan dunia sosial. Rudyono yang memimpin UTA '45 sejak 25 Mei 2010 lalu menjelaskan bahwa visi misinya adalah membuat seluruh masyarakat wilayah Jakarta Utara mengenal UTA '45 dan di setiap rumah tangga mereka ada alumnus yang lahir dari UTA '45. Ia juga ingin mereka mengenal nUTA '45 sebagai kampus yang tetap eksis dan siap melahirkan kader bangsa berjiwa Pancasila dan Nasionalis Sejati.

Rudyono menambahkan, menginjak usianya ke-59, UTA '45 tengah berbenah diri. Hal kecil sebagai awal transformasi itu adalah mengubah penyebutan kampus yang dulunya Untag diganti menjadi UTA '45. Dengan demikian, kampus ini kembali tampil penuh percaya diri dalam menyesuaikan situasi kondisi yang kini sedang terjadi.

Menurut dia, saat sekarang yang dikejar adalah market place yang dibutuhkan bangsa dan negara, serta dunia usaha. Ke depan, yang akan diusung UTA '45 ke depan yakni bagaimana mempersiapkan para mahasiswa yang sudah tamat hendak ke mana. Meski tengah berbenah diri, seperti membangun kampus baru berlantai nasionalis sejati.

Oleh karena itu, di mata Rudyono, peran alumnus begitu penting. Itu sebabnya, ikatan alumnus UTA '45 yang telah beranggotakan 15.000 akan diaktifkan kembali. Rudyono berkeyakinan alumnus adalah aset penting dari sebuah universitas.

Selama 59 tahun berkiprah, UTA '45 telah melahirkan tokoh-tokoh penting, di antaranya mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso,politikus Ade Supriyatna, dan masih banyak lagi. Rudyono minta pihak Rektorat agar kembali menggalang kekuatan alumnus yang dapat mendukung kegiatan universitas.

Semua upaya yang dilakukan Rudyono beserta segenap jajarannya tak lain adalah ingin melahirkan kader-kader berjiwa Pancasila dan nasionalis sejati.


Biodata:
Nama                        : Rudyono Darsono
Tempat/Tgl Lahir : Jakarta, 4 Maret 1963
Jabatan                  : Ketua Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 Jakarta
Pendidikan            : S-1 Fakultas Teknik Universitas Trisakti Jakarta S-2 Fakultas Hukum UTA’45 Jakarta

Karier:

2000 – sekarang pemilik dari PT Trisatya Adi Perkasa (bidang   konstruksi jalan tol)
2010 – sekarang Ketua Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 Jakarta.



 


 


 


 

Penulis : Farida Denura

Sosok Terbaru