Ada empat hal utama yang menjadi komitmen dan kerja besar rektor terpilih Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Prof Dr Ir MM Lanny W Pandjaitan, MT yaitu, melaksanakan misi sebagai universitas Katolik, akademik, kualitas lulusan yang paripurna dan kemitraan. Semuanya bertujuan merealisasikan impian dan cita-cita para perintis dan pendiri.
Kamis, 1 Desember 2011 adalah hari bersejarah bagi Prof Dr Ir MM Lanny W Pandjaitan, MT. Pasalnya, pada hari Kamis itu dia dilantik sebagai rektor ke-14 atau rektor perempuan ketiga di Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya untuk periode 2011-2015.
Berdiri di depan mimbar menyampaikan sambutan perdana sebagai Rektor, Lanny menegaskan pelantikan ini merupakan awal dari upaya menumbuhkan Unika Atma Jaya hingga empat tahun ke depan.
“Ini merupakan komitmen dan kerja besar untuk turut merealisasikan impian dan cita-cita para perintis dan pendiri Unika Atma Jaya guna mencerdaskan bangsa melalui semangat “Pro Ecclesia et Patria” (untuk Gereja dan Tanah Air),” kata kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 2 Februari 1947.
Dia juga membeberkan empat hal utama yang menjadi bagian dari 'komitmen dan kerja besar' dalam empat tahun ke depan. Yaitu, pelaksanaan misi sebagai universitas Katolik, bidang akademik, kualitas lulusan yang paripurna, dan kemitraan.
Lebih lanjut, mantan Dekan Fakultas Teknik Unika Atma Jaya ini menjelaskan, tahap pertama melaksanakan misi sebagai universitas Katolik berarti mengemban misi pelayanan yang berpedoman pada Konstitusi Apostolik “Ex Corde Ecclesiae”. Sebagai Rektor Unika Atma Jaya dia akan berusaha mewujudkan tugas-tugas universitas Katolik, yakni selalu berusaha menemukan kebenaran yang utuh melalui ilmu pengetahuan dan memberikan layanan tanpa pamrih dalam mewartakan kebenaran. Artinya, secara intelektual memadukan dua tatanan realitas, iman dan ilmu pengetahuan dengan tetap peduli pada mereka yang kurang beruntung.
Mengacu pada pedoman tersebut, Lanny merumuskan keutamaan-keutamaan yang perlu ditumbuhkan di civitas academica Unika Atma Jaya yaitu nilai-nilai dan cara berpikir kritis, sikap humanis, dan bersedia membuka diri terhadap perbedaan (inklusif) dalam semangat pelayanan. Secara khusus, Unika Atma Jaya juga sangat perlu menumbuhkembangkan semangat pelayanan bagi siapa saja dengan cara profesional dan tetap menghargai martabat manusia.
Hal kedua, pada tataran akademis, saat ini, Unika Atma Jaya telah memiliki delapan fakultas dan satu sekolah pascasarjana dengan rincian, 17 program studi Strata 1, lima program studi S-2 dengan dua program profesi, dan satu program studi S-3. Dengan mencermati pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya, Lanny meyakini bahwa dalam kurun waktu empat tahun ke depan, jumlah program studi baik S-1, S-2, maupun S-3 di Unika Atma Jaya pasti akan berkembang dan bertambah. Bahkan, menjawab pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya, Unika Atma Jaya perlu menghadirkan program studi dan profesi lain. Kehadiran program studi baru tentu juga menjadi bagian dari komitmen Unika Atma Jaya untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan keunggulan akademis dan lulusan yang profesional.
Komitmen ketiga, Unika Atma Jaya akan mengupayakan lulusan yang paripurna. Lususan Unika Atma Jaya bukan hanya bermutu dalam hal ilmu pengetahuan yang biasanya dilihat dari Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), tetapi juga perlu unggul dalam integritas dan moral.
Dalam era yang penuh dengan masalah hukum, sosial-politik, ekonomi dan pendidikan, saat ini, motto "Terpercaya Kualitas Lulusannya" dirasa belum cukup. Melalui berbagai kajian tentang mutu lulusan, Unika Atma Jaya perlu mencermati masalah tersebut secara benar dan menghasilkan rumusan yang jelas dan tegas mengenai "warna" dan kualitas lulusan Unika Atma Jaya ke depan.
Mengenai apa saja yang harus menjadi komponen "kualitas lulusan" Unika Atma Jaya, menurut Lanny, bercermin pada visi dan misi Unika Atma Jaya, pihaknya harus mengupayakan keunggulan akademik yang tercermin pada IPK, kualitas soft skill serta kualitas integritas pribadi dan moral. Langkah ini perlu didukung oleh kualitas sumber daya manusia, baik para tenaga pendidik dan semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan. Termasuk pula, dia menambahkan, dengan memberikan contoh yang baik dan komit terhadap masalah integritas dan moral dalam melayani pemangku kepentingan.
Hal terakhir yang menjadi kerja besar Lanny adalah menggencarkan berbagai upaya untuk mewujudkan visi dan misi Unika Atma Jaya melalui proses kemitraan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas sebagai generasi yang diperlukan bagi bangsa. Dalam proses mencerdaskan bangsa ini, harapan dan cita-cita untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas hanya dapat terwujud melalui kemitraan-kemitraan, baik dengan mitra internal maupun eksternal.
MITRA dan Penuh Inovasi
Penekanan pada program kemitraan telah tercermin dalam motto MITRA (Moral, Integritas, Tulus, Ramah, dan Asa) yang digunakan Lanny. MITRA juga telah menjadi motto bagi seluruh jajaran pimpinan dalam memimpin dan berkomunikasi, baik dalam hubungan vertikal maupun horizontal, serta dengan unsur internal dan eksternal.
Motto ini mengarahkan civitas academica Unika Atma Jaya untuk melakukan pekerjaan dengan moral dan integritas tinggi, melayani dengan tulus dan ramah, untuk mencapai asa atau harapan yang lebih baik. MITRA diyakini akan menciptakan komunitas akademik Atma Jaya yang berlandaskan iman.
Dalam wawancara dengan SH, beberapa pekan silam, Lanny juga menekankan bahwa persaingan antarperguruan tinggi swasta yang sengit, bukan ancaman.
“Justru sebagai peluang bagi Unika Atma Jaya untuk harus selalu berbenah dan berusaha sistemastis menghasilkan lulusan yang paripurna dan siap menghadapi dunia kerja. Lulusan yang memiliki nilai intelektual dan iman yang seimbang,” kata dia.
Lebih lanjut Lanny mengatakan, Unika Atma Jaya memiliki strategi untuk menjawab tantangan global melalui inovasi-inovasi, baik dalam perencanaan maupun dalam menjalankan operasionalnya dengan memanfaatkan sumber-sumber dan kekayaan yang dimiliki.
Dalam pandangan Lanny, saat ini, perguruan tinggi Katolik masih diminati karena dikenal dengan kualitas dan kedisiplinannya. Meski begitu, Lanny melihat ada pergeseran dalam menentukan pilihan pendidikan. “Orangtua yang ingin anaknya cepat lulus, sering berpendapat bahwa mutu menjadi pilihan kedua,” kata perempuan yang meraih gelar sarjana hingga doktornya dari ITB ini.
Rupanya perkembangan teknologi, keberhasilan keluarga berencana, banyaknya pilihan perguruan tinggi, tren pasar, dan sistem pendidikan rendah dan menengah yang ada saat ini ikut berperan dalam perubahan tersebut. Alhasil, minat masuk ke perguruan tinggi dan secara spesifik mengikuti suatu program studi tertentu bukan menjadi pilihan utama lagi. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Lanny untuk melepas lulusan Unika Atma Jaya yang paripurna dan siap bekerja.
Mengenai pelantikan sebagai rektor, Lanny mengatakan, semua itu berkat penyelenggaraan Tuhan. “Ini adalah menurut kehendak-Nya dan kuasa ilahi semata. Inilah penyelenggaraan ilahi, providentia Dei! Saya menjalankan tugas perutusan dan pelayanan bagi institusi, gereja, dan negara-Pro Ecclesia et Patria!” kata Lanny menutup perbincangannya dengan SH. (Farida Denura)
Antara Dosen dan Keluarga

Di era 70-an hingga 1987, Prof Dr Ir MM Lanny W Pandjaitan, MT dikenal sebagai perempuan dengan karier yang cemerlang. Alumna Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) ini pernah menjadi Development Manager di PT Terang Kita dan QC Manager di PT IKI Kabel.
Kedua posisi tersebut dilepas karena dia memilih mengasuh Andreas Christian Hamonangan, Tigor Nauli Adrian yang masih kecil. Kedua buah hatinya ini membutuhkan perhatian ekstra dari sang ibu. Saat ini kedua anaknya telah berkeluarga dan Lanny memiliki seorang cucu Agatha Mikayla Natalie.
“Ketika anak-anak masih kecil, saya memutar haluan meninggalkan dunia industri yang lebih menjanjikan dan memilih menjadi dosen. Karena selama berkarier saya sulit menyediakan waktu buat mereka, padahal mereka membutuhkan perhatian dan bimbingan dari saya,” ujar Lanny.
Lanny bergabung dengan Unika Atma Jaya sebagai dosen jurusan Teknik Elektro pada 1987. Dari posisi inilah, perempuan berkaca mata ini menapaki karier hingga menduduki posisi puncak sebagai Rektor. Sebagai dosen, perempuan yang suka ikut paduan suara dari sejak sekolah dasar ini bisa lebih leluasa membagi waktu untuk anak-anaknya.
“Saya bisa berangkat ke kampus setelah anak-anak berangkat ke sekolah dan pulang ke rumah pun masih sore. Beruntung bahwa saat itu Jakarta belum semerawut seperti sekarang,” ucap penyuka musik-musik berirama lembut ini.
Ketika anak-anak sudah beranjak dewasa dan ada yang telah berkeluarga, istri Bonar Pandjaitan ini memilih membaktikan diri lebih lama lagi di kampus.
Lanny menjalani hidup dengan falsafah “hidup mengalir seperti air.” Lanny percaya, menjalani hidup dengan mengandalkan Tuhan, maka Tuhan akan selalu membimbing dan mendampingi kehidupannya selalu. “Bahwa semua yang saya peroleh hingga saat ini adalah berkat Tuhan yang luar biasa.”
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Prof Dr Ir MM Lanny W Pandjaitan, MT
Tempat/Tgl Lahir : Kudus, 2 Februari 1947
JABATAN
Rektor
PENDIDIKAN
1973 : Lulus S-1, Elektroteknik, ITB, Bandung
1994 : Magister Teknik, Elektroteknik, ITB, Bandung
2000 : Dr, Ilmu Pengetahuan Teknik, ITB, Bandung.
PENGALAMAN JABATAN
2011 - sekarang : Rektor Unika Atma Jaya
2008 – sekarang : Asesor Sertifikasi Dosen Teknik Elektro BAN-PT
2007 – sekarang : Asesor Akreditasi Institusi BAN-PT
2005 – 2007 : Asesor Akreditasi Institusi BAN-PT
2004 - 2008 : Dekan Fakultas Teknik Unika Atma Jaya
2003 – 2004 : Pembantu Dekan I Fakultas Teknik Unika Atma Jaya
1989 – 1992 : Kepala Laboratorium Elektronika Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Unika Atma Jaya
1987 – 1988 : Anggota Komisi Standarisasi Industri Kabel Listrik dan Telekomunikasi Departemen Perindustrian.
1987 – sekarang : Dosen di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unika Atma Jaya
1984 – 1987 : QC dan Product Design Manager di PT IKI Kabel
1973 – 1983 : Berbagai jabatan manager (terakhir sebagai Development Manager) di PT Terang Kita.